Zonasi PPDB Diakui Tak Bisa Selesaikan Masalah Sekejap

Zonasi PPDB Diakui Tak Bisa Selesaikan Masalah Sekejap

Zonasi PPDB Diakui Tak Bisa Selesaikan Masalah Sekejap

Zonasi PPDB Diakui Tak Bisa Selesaikan Masalah Sekejap

Zonasi PPDB Diakui Tak Bisa Selesaikan Masalah Sekejap

Sistem zonasi sekolah pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) banyak diprotes wali murid. Bahkan, tak sedikit dari mereka meminta sistem PPDB melalui zonasi itu dihapuskan.

Kosman Karman, salah satu orang tua murid pun mengaku sempat bingung dengan sistem

tersebut. “Karena saya dengar di Depok, karena saya lokasinya di Depok, SMA 1, SMANSA rusuh,” ujar Kosman dalam diskusi bertajuk Sistem Zonasi Sekolah Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), Polemik dan Kebermanfaatannya di Gado-gado Boplo, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (21/6/2019).

Bahkan, dia mendengar kabar ada orang tua murid yang menunggu antrian di sekolah sejak pukul 23.00 WIB. “Saya enggak tahu menginap dimana, atau orientasinya apa, karena tidak ada kepastian, akhirnya rusuh, kemudian beberapa orang tua katanya merusak fasilitas sekolah,” ujarnya.

Baca Juga:

Penerapan Sistem Zonasi Membutuhkan Perpres

Sinergi Komunitas Penting untuk Wujudkan Pendidikan Berkualitas

Berkaca pada peristiwa itu, dia menilai seharusnya ada edukasi kepada masyarakat. “Hal-hal seperti ini lah saya kira perlu ada semacam edukasi publik ya terhadap masyarakat secara keseluruhan bahwa kebijakan-kebijakan itu memang tidak bisa serta merta menyelesaikan sebuah masalah dalam waktu sekejap,” imbuhnya.

Dia mengatakan, setiap pemerintah daerah harus mengimplementasikan teknis kebijakan

pemerintah pusat secara detail di lapangan. “Sehingga setiap orang tua, setiap calon peserta didik baru punya semacam perasaan kepastian akan wilayahnya. Saya sebagai orang tua hanya butuh satu hal bahwa saya dapat kepastian akan dilayani,” tuturnya.

 

Baca Juga :

DPR Mendesak Kemendikbud Agar Perbaiki Sistem PPDB

DPR Mendesak Kemendikbud Agar Perbaiki Sistem PPDB

DPR Mendesak Kemendikbud Agar Perbaiki Sistem PPDB

DPR Mendesak Kemendikbud Agar Perbaiki Sistem PPDB

DPR Mendesak Kemendikbud Agar Perbaiki Sistem PPDB

Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2019 memunculkan sejumlah persoalan. Salah satu yang muncul adalah persoalan zonasi sebagai salah satu mekanisme penerimaan peserta didik. Kalangan DPR pun mendesak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk mengevaluasi sistem ini.

“Alokasi 90% untuk zonasi sebagaimana diatur dalam Pasal 16 ayat (2) Permendikbud No 51 Tahun 2019 telah menjadi hal krusial yang ditemukan di lapangan,” ungkap Wakil Ketua Komisi X DPR Reni Marlinawati di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, kemarin. Namun demikian, Reni tidak menampik bahwa penerapan sistem zonasi sebagai upaya untuk memetakan persoalan yang terjadi di tiap daerah dan sekolah.

Hanya saja, jika penerapan sistem zonasi ini semata-mata untuk kepentingan pemetaan, maka

tentu tidak sebanding dengan imbas dari penerapan sistem ini. “Padahal, instrumen pemetaan tidak hanya sekadar melalui sistem zonasi ini. Setiap pemerintah daerah mestinya telah memiliki pemetaan dari sisi ketersediaan guru, kualitas guru, profil anak didik, termasuk bagaimana kondisi infrastrukturnya,” urai Reni.

Baca Juga:

Sinergi Komunitas Penting untuk Wujudkan Pendidikan Berkualitas
Pertama di Indonesia, Ukrida Buka Program Studi Optometri

Menurut Wakil Ketua Umum DPP PPP ini, penerapan sistem zonasi tampak memberi pesan semangat pemerataan dan antidiskriminasi dengan menghilangkan stigma sekolah favorit dan sekolah tidak favorit. Namun yang menjadi soal, faktanya saat ini kualitas sekolah tidak merata.

“Padahal ini perkara pemerataaan kualitas sekolah, namun cara penangannya melalui proses

rekrutmen peserta didik. Ibarat menggaruk sesuatu yang tidak gatal. Akibatnya muncul kericuhan, antrean, dan karut marut dalam PPDB ini,” ujarnya.

Reni menambahkan, penerapan PPDB dengan sistem zonasi selama tiga tahun terakhir ini tampak tidak mengalami perbaikan secara signifikan. Untuk itu, Komisi X DPR akan mengundang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) untuk melakukan evaluasi terhadap penerapan PPDB. “Kami akan jadwalkan untuk mengundang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan terkait evaluasi penerapan PPDB ini,” tandasnya.

Ketua DPR Bambang Soesatyo ikut memberikan sejumlah arahan terkait sistem PPDB ini.

Pertama, DPR mendorong Kemendikbud melalui dinas pendidikan bersama pemerintah daerah (pemda) untuk terus menyosialisasikan serta meng-update dalam situs resmi PPDB apabila ada pembaharuan informasi.

 

Sumber :

https://www.deviantart.com/gimadelija/journal/Your-High-School-Diploma-Online-804324339

Percepat Pemerataan Pendidikan, Kemendikbud Berikan Bimbingan kepada 1.070 Sekolah

Percepat Pemerataan Pendidikan, Kemendikbud Berikan Bimbingan kepada 1.070 Sekolah

Percepat Pemerataan Pendidikan, Kemendikbud Berikan Bimbingan kepada 1.070 Sekolah

Percepat Pemerataan Pendidikan, Kemendikbud Berikan Bimbingan kepada 1.070 Sekolah

Percepat Pemerataan Pendidikan, Kemendikbud Berikan Bimbingan kepada 1.070 Sekolah

Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar Kemendikbud akan melakukan bimbingan teknis program pembinaan SD berbasis zonasi kepada 1.070 sekolah di 514 kabupaten dan kota. Tujuannya agar percepatan pemerataan pendidikan pada jenjang SD dapat segera dituntaskan.

Direktur Pembinaan SD Kemendikbud Khamim mengatakan, bimbingan teknis ini dilakukan berdasarkan peta zonasi yang telah dibuat pemerintah kabupaten dan kota. Tugas ini akan dibagi dua dengan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Kemendikbud, yakni sebanyak 560 sekolah akan ditangani LPMP dan 510 akan ditangani Direktorat Pembinaan SD.
“Sehingga, paling tidak di setiap kabupaten dan kota ada dua atau tiga sekolah dasar yang mendapatkan pembinaan mutu berbasis zonasi,” kata Khamim.

Adapun materi yang akan diberikan Kemendikbud kepada sekolah yang mendapatkan

intervensi di antaranya meliputi penguatan proses pembelajaran dan penilaian di satuan pendidikan yang bersangkutan. Sedangkan kriteria sekolah yang akan mendapatkan bimbingan teknis yakni mereka telah memenuhi standar nasional pendidikan (SNP).

Baca Juga:

Peserta OSN 2019 Tingkat SMA Bersiap Berjuang di Manado

Kisruh PPDB, DPR Desak Manipulasi Domisili Diusut Tuntas

Wakil Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Satriwan Salim mengatakan, penerapan PPDB dengan sistem zonasi di Tahun ajaran 2019/2020 ini harus diimbangi dengan informasi dan sosialisasi yang utuh menyeluruh kepada orang tua dan sekolah. Hal ini penting, katanya, sebab FSGI menerima laporan banyaknya penyimpangan pelaksanaan zonasi PPDB di 2018 lalu.

Dia mengakui, tujuan zonasi PPDB memang sangat mulia yakni menciptakan pemerataan dan

keadilan pendidikan. Akan tetapi hal ini juga harus ditunjang dengan pendataan calon peserta didik yang baik, koordinasi pusat dan daerah yang utuh, ketersediaan sekolah bilamana dalam satu wilayah zonasi memiliki kepadatan penduduk tinggi sedangkan jumlah sekolah tidak mencukupi. “Pemerintah harus menyempurnakan kekurangan zonasi PPDB 2018 lalu agar sistem zonasi PPDB ini tidak berdampak sebaliknya yaitu terjadinya ketidakadilan dalam pendidikan,’’ jelasnya.

 

Sumber :

https://rahulraheja.atavist.com/school-education-completion-broadening-opportunities

Geografis Yogyakarta

Geografis Yogyakarta

Selamat datang di Blog Situs Pelajaran Oke, yang pada peluang kali ini bakal menolong anda sedikit mengenal perihal Yogyakarta. Maka berasal dari itu coba simaklah ulasan tersebut ini “Kenali Yogyakarta- Geografis Yogyakarta”.

Provinsi Daerah Yogyakarta merupakan Provinsi yang membawa standing Daerah Istimewa. Status Daerah Istimewa ini nampaknya mengenai erat dengan histori terjadinya Provinsi ini tahun 1945 sebagai paduan lokasi kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman yang memadukan diri dengan lokasi RI yang diploklamirkan tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno Hatta (Bung Karno) dan Moh. Hatta (Bung Hatta).
Bagian ujung sebelah Utara Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan puncak gunung Merapi yang tenar gara-gara aktifnya saat ini, mempunyai ketinggian kurang lebih 2920 meter di atas permukaan air laut. Oleh para pakar menyatakan bahwa gunung berapi (Vulkanolog) internasional. Gunung berapi di Yogyakarta ini mempunyai bentuk letusan yang khas, dan nampaknya sejenis dengan letusan gunung api Visuvius di Italia. Puncak gunung berapi di Yoyakarta ini selamanya mengepulkan asap, yang merupakan sebuah pemandangan khas yang melatarbelakangi pemandangan kota Yogyakarta ini sebelah Utara, Selatan, Timur, maupun Barat.
Untuk luas berasal dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini kurang lebih 3.186 Km² dengan penduduk 3.278.599 jiwa (data Desember 1995) dan terbagi menjadi 5 Daerah Tingkat II, yakni:
Kotamadya Yogyakarta yang merupakan Ibu kota Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kabupaten Sleman dengan Ibu kota Beran.
Kabupaten Gunungkidul dengan Ibu kota Wonosari
Kabupaten Bantul dengan Ibu kota Bantul.
Kabupaten Kulon Progo dengan Ibu kota Wates.

Setelah meninggal/wafatnya Sri Hamengku Buwono IX sebagai Gubernur Kepala Daerah Provinsi DIY dijabat Sri Paku AlamVII yang pada mulanya sebagai wakil Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta dan sejak Sabtu 3 Oktober 1998 Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dijabat Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Sumber : https://www.kumpulansurat.co.id/

Baca Juga :

Pengangkatan Sultan Agung Menjadi Raja Mataram

Pengangkatan Sultan Agung Menjadi Raja Mataram

Pengangkatan Sultan Agung Menjadi Raja Mataram – Rahasia di Balik Pengangkatan Sultan Agung jadi raja-Apabila di kesimpulan lebih mendalam berasal dari histori pewarisan tahta Mataram, Sultan Agung sebenarnya bukanlah raja Mataram ke-3, melainkan yang ke-4. Kenapa begitu? Sebab, menurut sejarahnya, Panembahan Hanyakrawati udah berjanji untuk mewariskan tahtanya kepada putera berasal dari istri pertama, yakni Raden Mas Martapura/Raden Mas Wuryah. Janji itu diucapkan sebelum akan dirinya di angkat jadi raja untuk mengambil alih ayahnya Panembahan Senopati di Mataram.

Namun, mengapa justru Sultan Agung yang kemudian diangkat jadi raja Mataram selanjutnya? Terkait perihal ini, tersedia sebagian alasan mendasar mengapa Sultan Agung yang memegang kekuasaan Mataram dan bukan Raden Mas Martapura. Beberapa alasan itu dapat dibahas dibawah ini;
Janji untuk menjadikan Raden Mas Martapura dibuat sebelum akan Panembahan Hanyakrawati naik tahta jadi raja kerajaan Mataram.
Istri pertama Panembahan Hanyakrawati dinikahi sebelum akan Hanyakrawati naik tahta.
Raden Mas Martapura belum lahir dikala Sultan Agung lahir. Itu artinya, dikala jadi raja Mataram kedua, Panembahan Hanyakrawati udah miliki putera Raden Mas jetmika/Sultan Agung. Raden Mas Martapura lahir saat Panembahan Hanyakrawati udah berada di atas tahta Mataram, yang berarti putra yang lahir berasal dari seorang raja dapat jadi putra mahkota (penganti tahta). Sedangkan Raden Mas Jetmika udah lahir sebelum akan Panembahan Hanyakrawati jadi raja, bersama demikian standing Raden Mas Jetmika yakni sebagai seorang pangeran saja. Dalam perihal ini nampaknya Raden Mas Jetmika merebut tahta Martapura dan sebabkan dirinya berada di tahta Mataram. Selain itu latar belakang dinasti Mataram berasal berasal dari petani, agar Raden Mas Jetmika merasa bahwa sebagai sesama anak raja miliki hak yang serupa dapat tahta tersebut. Jadi standing Raden Mas Martapura yang sebagai putera mahkota bisa berpindah ke Raden Mas Jetmika. Pada intinya Raden Jetmika miliki kesempatan untuk jadi raja Mataram di dalam keadaan pergantian tahta.
Adanya ramalan Panembahan Bayat, penasihat spiritual keraton yang menunjukkan bahwa Raden Mas Jetmika dapat mempunyai kejayaan kerajaan Mataram bersama menguasai Pulau Jawa. Karena ramalan tersebut maka Panembahan Hanyakrawati mewasiatkan agar yang mengantikannya sebagai raja dikala meninggal adalah Raden Mas Jetmika/Sultan Agung.

Demikian alasan yang lumayan logis tentang pengangkatan Sultan Agung. Namun walau alasan itu lumayan logis di pihak istri pertamanya Panembahan Hanyakrawati, yakni Ratu Tulung Ayu ,merasa keberatan atas perihal itu. Sebab, Ratu Tulung Ayu merasa puteranya yang berhak atas tahta Mataram, bukan Sultan Agung. Dengan begitu secara otomatis Sultan Agung memperoleh penentang berasal dari pihak Ponorogo, kediaman Raden Mas Martapura.

Untuk mengantisipasi terjadinya perang saudara nampaknya maka Sultan Agung miliki solusi yang sebabkan kedua belah pihak menerima bahwa Sultan Agung berada di atas tahta Mataram. Salah satu solusinya yakni bersama mengangkat Raden Mas Martapura sebagai raja sementara, yang kemudian dilanjutkan bersama pengangkatan Sultan Agung. Solusi ini nampaknya berhasil, dan bersama begitu janji Panembahan Hanyakrawati bisa ditepati. Solusi tersebut sebabkan Mataram dipimpin oleh raja yang cocok bersama ramalan Panembahan Bayat. Selain itu untuk lebih logisnya lagi, sebenarnya tersedia mungkin bahwa terhitung di dalam wasiat yang bersifat ramalan tersebut adalah merupakan konsep Sultan Agung yang manfaatkan Panembahan Bayat, yang sengaja memaklumkan bahwa kenaikan tahta tersebut, merupakan testamen politik peninggalan Panembahan Hanyakrawati, bersama mengungkapkan bahwa Sultan Agung dapat mempunyai kejayaan kerajaan Mataram. Dalam pengangkatannya Sultan Agung manfaatkan upacara tantangan, di dalam pengangkatan oleh sesepuh Mataram, diumumkan bahwa siapa yang hendak menentang putusan tersebut, hendaklah maju sekarang juga, untuk menghadapi Sultan Agung. Setelah disampaikan perihal itu tidak tersedia yang berani maju, dan pada selanjutnya seluruh menyetujuinya. Dengan begitu pelantikan atau pengangkatan Sultan Agung udah sah.

Demikianlah ulasan berkenaan Pengangkatan Sultan Agung Menjadi Raja Mataram yang bisa Situs Pelajaran Oke sampaikan pada kesempatan ini, walau lumayan mencurigakan di dalam pengangkatan Sultan Agung dan mesti digali lagi. Namun disamping itu banyak sisi-sisi baik berasal dari Sultan Agung yang patut di contoh, yakni usaha-usaha Sultan Agung di dalam mewujudkan kemaharajaan Islam di Pulau Jawa bersama tekat yang membara, dan miliki jiwa kepimpinan serta melakukan tanggung jawab sebagai seorang raja. Semoga bermanfaat ulasan tersebut, dan jadilah sejarawan yang kritis di dalam menyikapi sejarah. Kurang lebihnya mohon maaf, sekian dan terimakasih udah menyempatkan membaca ulasan yang udah dipaparkan di atas.

Baca Juga :

PARAGRAF

PARAGRAF

PARAGRAF

PARAGRAF

PARAGRAF

Paragraf atau alinea adalah

suatu bentuk bahasa yang biasanya merupakan hasil penggabungan beberapa kalimat. Dalam upaya menghimpun beberapa kalimat menjadi paragraph, yang perlu diperhatikan adalah kesatuan dan kepaduan. Kesatuan berarti seluruh kalimat dalam paragraf membicarakan satu gagasan(gagasan tunggal).Kepaduan berarti seluruh kalimat dalam paragraf itu kompak, saling berkaitan mendukung gagasan tunggal paragraf.

Dalam kenyataannya kadang-kadang kita menemukan alinea

Yang hanya terdiri atas satu kalimat, dan hal itu memang dimungkinkan. Namun, dalam pembahasan ini wujud alinea semacam itu dianggap sebagai pengecualian karena disamping bentuknya yang kurang ideal jika ditinjau dari segi komposisi, alinea semacam itu jarang dipakai dalam tulisan ilmiah. Paragraf diperlukan untuk mengungkapkan ide yang lebih luas dari sudut pandang komposisi, pembicaraan tentang paragraf sebenarnya ssudah memasuki kawasan wacana atau karangan sebab formal yang sederhana boeh saja hanya terdiri dari satu paragraf. Jadi, tanpa kemampuan menyusun paragraf, tidak mungkin bagi seseorang mewujudkan sebuah karangan.

Bagian-bagian paragraf

Pada umumnya alinea terdiri atas lebih dari satu kalimat. Atau dapat dikatakan bahwa alinea pada umumnya terdiri atas beberapa kalimat. Dari fungsi dan kandungannya, kalimat dalam alinea dapat dipilah-pilah menjadi kalimat topik, kalimat pengembangan, kalimat penutup, dan kalimat penghubung.

Tujuan pembentukan paragraf

1.Memudahkan pengertian dan pemahaman terhadap satu tema

2.Memisahkan dan menegaskan perhentian secara wajar dan normal

Struktur paragraf

Paragraf terdiri atas kalimat topik atau kalimat pokok dan kalimat penjelas atau kalimat pendukung. Kalimat topik merupakan kalimat terpenting yang berisi ide pokok alinea. Sedangkan kalimat penjelas atau kalimat pendukung berfungsi untuk menjelaskan atau mendukung ide utama.

a.Ciri kalimat topik :

1.Mengandung permasalahan yang potensial untuk diuraikan lebih lanjut
2.Mengandung kalimat lengkap yang dapat berdiri sendiri
3.Mempunyai arti yang jelas tanpa dihubungkan dengan kalimat lain
4.Dapat dibentuk tanpa kata sambung atau transisi

b.Ciri kalimat pendukung :

1.Sering merupakan kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri
2.Arti kalimatnya baru jelas setelah dihubungkan dengan kalimat lain dalam satu alinea
3.Pembentukannya sering memerlukan bantuan kata sambung atau frasa penghubung atau kalimat transisi
4.Isinya berupa rincian, keterangan, contoh, dan data lain yang bersifat mendukung kalimat topik

Baca Juga ::

UNSUR - UNSUR PARAGRAF

UNSUR – UNSUR PARAGRAF

UNSUR – UNSUR PARAGRAF

UNSUR - UNSUR PARAGRAF

UNSUR – UNSUR PARAGRAF

Dalam pembuatan suatu paragraf harus memiliki unsur unsur pembangun

paragraf agar paragraf atau alinea dapat berfungsi dengan sebagaimana mestinya.

1. Topik atau tema atau gagasan utama

atau gagasan pokok atau pokok pikiran, topik merupakan hal terpernting dalam pembuatan suatu alinea atau paragraf agar kepaduan kalimat dalam satu paragraf atau alinea dapat terjalin sehingga bahasan dalam paragraf tersebut tidak keluar dari pokok pikiran yang telah ditentukan sebelumnya.

2. Kalimat utama atau pikiran utama

merupakan dasar dari pengembangan suatu paragraf karena kalimat utama merupakan kalimat yang mengandung pikiran utama. Keberadaan kalimat utama itu bisa di awal paragraf, diakhir paragraf atau pun diawal dan akhir paragraf.

Berdasarkan penempatan inti gagasan atau ide pokoknya alinea dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

•Deduktif : kalimat utama diletakan di awal alinea
•Induktif : kalimat utama diletakan di akhir anilea
•Variatif : kalimat utama diletakan di awal dan diulang pada akhir alinea
•Deskriptif/naratif : kalimat utama tersebar di dalam seluruh alinea

3. Kalimat penjelas,

merupakan kalimat yang berfungsi sebagai penjelas dari gagasan utama. Kalimat penjelas merupakan kalimat yang berisisi gagasan penjelas.

4. Judul (kepala karangan), untuk membuat suatu kepala karangan yang baik, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu :
•Provokatif (menarik)
•Berbentuk frase
•Relevan (sesuai dengan isi)
•Logis
•Spesifik

Macam-macam paragraf

1.Eksposisi

Berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi.

Contoh : Para pedagang daging sapi di pasar-pasar tradisional mengeluhkan dampak pemberitaan mengenai impor daging ilegal. Sebab, hampir seminggu terakhir mereka kehilangan pembeli sampai 70 persen. Sebaliknya, permintaan terhadap daging ayam dan telur kini melejit sehingga harganya meningkat.

2.Argumentasi

Bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat/ kesimpulan dengan data/ fakta konsep sebagai alasan/ bukti.

Contoh :  Sebagian anak Indonesia belum dapat menikmati kebahagiaan masa kecilnya. Pernyataan demikian pernah dikemukakan oleh seorang pakar psikologi pendidikan Sukarton (1992) bahwa anakanak kecil di bawah umur 15 tahun sudah banyak yang dilibatkan untuk mencari nafkah oleh orang tuanya. Hal ini dapat dilihat masih banyaknya anak kecil yang mengamen atau mengemis di perempatan jalan atau mengais kotak sampah di TPA, kemudian hasilnya diserahkan kepada orang tuanya untuk menopang kehidupan keluarga. Lebih-lebih sejak negeri kita terjadi krisis moneter, kecenderungan orang tua mempekerjakan anak sebagai penopang ekonomi keluarga semakin terlihat di mana-mana.

3.Deskripsi

Berisi gambaran mengenai suatu hal atau keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, merasa atau mendengar hal tersebut.

Contoh : Gadis itu menatap Doni dengan seksama. Hati Doni semakin gencar memuji gadis yang mempesona di hadapanya. Ya, karena memang gadis didepannya itu sangat cantik. Rambutnya hitam lurus hingga melewati garis pinggang. Matanya bersinar lembut dan begitu dalam, memberikan pijar mengesankan yang misterius. Ditambah kulitnya yang bersih, dagu lancip yang menawan,serta bibir berbelah, dia sungguh tampak sempurna.

Sumber : https://uberant.com/article/556674-understanding-and-examples-of-explanatory-texts/

Syarat-syarat paragraf

Syarat-syarat paragraf

Syarat-syarat paragraf

Syarat-syarat paragraf

Syarat-syarat paragraf

Dalam menyusun paragraf, kita perlu memperhatikan hal-hal berikut:

A. Ketepatan Pemilihan Kata

Pemilihan kata harus sesuai dengan situasi dan kondisi pemakaiannya. Pemakaian kata dia, misalnya, tidak tepat digunakan untuk orang yang usianya lebih tua. Kata yang tepat adalah kata beliau. Demikian pula dengan menonton kata ini tidak tepat dalam paragraf yang menyatakan maksud melihat orang sakit. Dalam hal ini kata yang harus digunakan adalah mengunjungi, menjenguk, atau menengok. Untuk itulah diperlukan penguasaan perbendaharaan kata, terutama kata-kata yang bersinonim. Dengan banyaknya menguasai kata bersinonim mudahlah bagi kita dalam menggunakan kata-kata yang tepat.

B. Kesatuan

Tiap alenia hanya mengandung satu gagasan pokok atau satu topik. Fungsi alenia adalah mengembangkan gagasan pokok atau topik tersebut. Oleh karena itu, dalam pengembangannya tidak boleh ada unsur-unsur yang sama sekali tidak berhubungan dengan topik atau gagasan tersebut. Alenia dianggap mempunyai kesatuan, jika kalimat-kalimat dalam alenia itu tidak telepas dari topiknya atau selalu relevan dengan topik.

C. Koherensi

Syarat kedua yang harus dipenuhi oleh sebuah alenia ialah koherensi atau kepaduan, yakni adanya hubungan yang harmonis, yang memperlihatkan kesatuan kebersamaan antara satu kalimat dengan kalimat yang lainnya dalam sebuah alenia. Alenia yang memiliki koherensi akan sangat memudahkan pembaca mengikuti alur pembahasan yang disuguhkan. Ketiadaan Koherensi dalam sebuah alenia akan menyulitkan pembaca untuk menghubungkan satu kalimat dengan kalimat lainnya. Dalam koherensi, termasuk pula keteraturan (sistematika) urutan gagasan.

Gagasan dituturkan pula secara teratur dari satu detail ke detail berikutnya,

dari satu fakta ke fakta selanjutnya, dari satu soal ke soal yang lain, sehingga pembaca dapat dengan mudah mengikuti uraian yang disajikan dengan seksama. Untuk menyatakan kepaduan atau koherensi dari sebuah alenia, ada bentuk lain yang sering digunakan yaitu penggunaan kata atau frasa (kelompok kata) dalam bermacam-macam hubungan.

Sumber : https://uberant.com/article/556673-how-to-prevent-air-and-soil-pollution/

Orang Tua Harus Peka, Ketahui Gejala Anak Sulit Belajar

Orang Tua Harus Peka, Ketahui Gejala Anak Sulit Belajar

Orang Tua Harus Peka, Ketahui Gejala Anak Sulit Belajar

Orang Tua Harus Peka, Ketahui Gejala Anak Sulit Belajar

Orang Tua Harus Peka, Ketahui Gejala Anak Sulit Belajar

Kesulitan belajar yang dialami anak-anak bisa dikenali sejak di rumah asalkan orang tua peka terhadap tanda-tandanya. Sisca Rosario dari House of Learning menuturkan, beberapa tanda bisa dikenali dengan cukup mudah. Sebut saja, saat memasuki usia sekolah, anak terlihat sulit membedakan huruf a, b, d, p, dan q karena huruf-huruf tersebut terlihat seolah-olah sama.

Selain itu, mereka sulit berhitung seperti kesulitan memahami konsep dan perkiraan jumlah

(dyscalculia) serta orientasi ruang atau arah (dyspraxia). ’’Bagi mereka, membayangkan empat buah apel gitu, misalnya, adalah sesuatu yang kompleks. Empat buah itu seberapa banyak mereka bingung. Juga sulit mengerti konsep besar dan kecil,’’ ujarnya. Tanda yang lebih jelas dari itu pun bisa dikenali saat orang tua aware terhadap tumbuh kembang anak di rumah.

Tanda tersebut adalah anak kesulitan menangkap, menginterpretasi, hingga menjalankan sebuah instruksi atau informasi yang diterima. Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa itu termasuk dalam kelompok kesulitan belajar spesifik. ’’Gangguan persepsi terlihat saat mereka menerima suatu perintah, sulit untuk mencerna atau memahami dengan benar,’’ ungkapnya. Dia menuturkan, tanda-tanda seperti itu semestinya sudah bisa dikenali, dideteksi, dan diketahui orang tua.

Tetapi, untuk memastikan tanda-tanda tersebut, dibutuhkan deteksi dini terhadap kesulitan

belajar itu. ’’Harus dilakukan observasi yang nanti bisa diketahui tindakan pengajaran yang sesuai untuk kebutuhan si anak,’’ ucapnya.

Dalam screening tersebut, Sisca menerapkan metode yang dikembangkannya. Misalnya, visual discrimination method. Metode itu dilakukan dengan cara mencocokan gambar asli dengan bayangan atau mencari potongan gambar yang hilang. Selain itu, mengurutkan ukuran kecil-sedang-besar, mengidentifikasi huruf, memahami perintah-perintah sederhana secara verbal, dan mengurutkan time kejadian.

Dia menegaskan, untuk mengembangkan anak menjadi pribadi yang matang, yang dilihat

bukan hanya segi kognitif, melainkan juga kondisi mental, serta kemampuan memutuskan suatu tindakan dan melakukan aktivitas sehari-hari. Cara anak me-manage diri dalam menghadapi kesulitan juga dilihat. Screening pun merupakan salah satu solusi awal untuk mendeteksi kasus-kasus developmental pediatric. Antara lain, disabilitas intelektual, kesulitan belajar spesifik (dyslexia), anak gifted, kesulitan berbahasa (gangguan bahasa ekspresif-reseptif), dan sebagainya.

 

Baca Juga :

 

 

Masuk Sekolah Pertama Bisa Bikin Anak Stress, Ini Akibatnya

Masuk Sekolah Pertama Bisa Bikin Anak Stress, Ini Akibatnya

Masuk Sekolah Pertama Bisa Bikin Anak Stress, Ini Akibatnya

Masuk Sekolah Pertama Bisa Bikin Anak Stress, Ini Akibatnya

Masuk Sekolah Pertama Bisa Bikin Anak Stress, Ini Akibatnya

Sakit  menjadi senjata terakhir si kecil untuk menghindari masuk sekolah lagi. Bunda jangan langsung menuduhnya berbohong. Bisa jadi, dia memang benar-benar merasakan gejala-gejala tak enak pada tubuhnya. Bisa mual, demam, sampai sakit perut.

Itu berarti, dia sedang stres berat. Secara psikologi, stres juga berdampak pada tubuh.

Akibatnya, muncul psikosomatik alias gejala gangguan fisik yang berasal dari pikiran. ”Bahkan, pada beberapa anak, gangguannya tidak wajar. Misalnya, muntah hingga pingsan,” jelas Dra Mierrina SPsi MSi, praktisi psikologi.

Nah, jika sampai muncul gangguan fisik, orang tua sebaiknya mulai waspada. Mierrina menjelaskan, jika gejala ringan masih muncul pada tiga hari pertama sekolah, hal tersebut masih terbilang normal. ”Tapi, kalau parah banget dan berlangsung lama, segera hubungi dokter,” tegasnya.

Perempuan yang merupakan dosen mata kuliah bimbingan konseling Islam itu menjelaskan,

orang tua juga wajib mencari tahu pencetus stresnya. Bisa jadi, anak merasa kurang nyaman karena kondisi lingkungan atau teman-teman yang berbeda, hukuman dari guru, sampai dijahili teman baru.

Namun, Mierrina menyarankan, orang tua tidak terlalu reaktif terhadap kondisi psikosomatik anak. Bunda perlu menanyakan bagaimana perasaan mereka di sekolah dalam situasi yang santai dan nyaman. Dengan begitu, biasanya mereka mau bercerita.

Namun, jika ternyata penyebabnya ”sepele”, tidak berarti orang tua boleh menyepelekan

kondisi cemas yang dirasakan anak. Ingat, yang sepele buat bunda dan ayah bisa seperti neraka buat si kecil. ”Misalnya, orang tua bilang, ’halah,begitu saja kok sakit.’ Anak akan berpikir, cemas itu nggak penting. Padahal, kondisi itu alami dan perlu ada pada individu,” tegasnya.

Indri Putri W. MPsi, psikolog, menyarankan agar orang tua dan anak merumuskan cara untuk mengatasi kecemasan tersebut. Menurut dia, itu membuat anak mampu mengatasi kondisi serupa nantinya.

 

Sumber :

https://articles.abilogic.com/372235/chemical-periodic-table-system.html