Amerika Berduka atas Penembakan di SD Sandy Hook, Connecticut

Amerika Berduka atas Penembakan di SD Sandy Hook, Connecticut

Amerika Berduka atas Penembakan di SD Sandy Hook, Connecticut

Amerika Berduka atas Penembakan di SD Sandy Hook, Connecticut

Amerika Berduka atas Penembakan di SD Sandy Hook, Connecticut

Ratusan pelayat berdatangan ke sebuah gereja di Newtown, Connecticut, Jumat malam (14/12)

menumpahkan rasa duka atas para korban penembakan di Sandy Hook, Newtown di negara bagian Connecticut.
Tayangan televisi menunjukkan ratusan orang sedang memenuhi halaman gereja, sementara masyarakat dan bangsa berusaha memahami lingkup tragedi ini. Ratusan pelayat berdatangan ke sebuah gereja di Newtown, Connecticut, Jumat malam (15/12) menumpahkan rasa duka atas kematian 20 anak dan enam orang dewasa, yang dibantai oleh laki-laki bersenjata di sebuah sekolah dasar.

“Kekejian mengunjungi komunitas ini hari ini,” demikian ungkapan Gubernur Dannel Maloy menanggapi tragedi itu. Sebelumnya di Washington, Presiden AS Barack Obama, dengan menitikkan airmata, mengungkapkan kesedihannya saat mengungkapkan “Kebanyakan dari yang tewas ini adalah anak-anak – anak-anak cantik berusia antara lima dan 10 (tahun). Padahal mereka memiliki sebuah masa depan dihadapan mereka ….”

Pidatonya diucapkan beberapa jam setelah tragedi penembakan terjadi di sekolah dasar Sandy

Hook, Newtown di negara bagian Connecticut, sebuah kampung kecil sekitar 130 kilometer sebelah timur laut Kota New York. Berbagai lokasi seperti di Milwaukee, Wisconsin, Minneapolis, Minnesota dan Los Angeles menggelar doa bersama untuk para korban penembakan.

Para saksi mengungkapkan pria umur 20 tahun berseragam militer hitam memasuki sekolah itu pagi hari, menembaki murid-murid dan dua guru mereka di dua kelas. Sebuah senapan militer laras panjang ditemukan dalam mobil penembak, yang diidentifikasi bernama Adam Lanza. Dia tewas di lokasi kejadian karena menembak dirinya sendiri. Dua pistol semi-otomatik ditemukan di dekatnya.

Pihak berwenang belum mengungkapkan apa motif pria bersenjata berusia 20 tahun yang

melakukan penembakan masal yang menewaskan 20 anak kecil dan enam orang dewasa di sebuah sekolah dasar di Newtown, Connecticut.

Menurut pihak berwenang, penembak itu membunuh ibunya sendiri di rumahnya di mana ia tinggal, dan kemudian mengemudikan mobil ibunya ke sekolah itu. Para saksi mengatakan, ia melepaskan tembakan tanpa berkata-kata.

 

Baca Juga :

AS Luncurkan Proyek untuk Hormati Tentara yang Gugur dalam Perang Saudara

AS Luncurkan Proyek untuk Hormati Tentara yang Gugur dalam Perang Saudara

AS Luncurkan Proyek untuk Hormati Tentara yang Gugur dalam Perang Saudara

AS Luncurkan Proyek untuk Hormati Tentara yang Gugur dalam Perang Saudara

AS Luncurkan Proyek untuk Hormati Tentara yang Gugur dalam Perang Saudara

Amerika meluncurkan sebuah proyek baru yang disebut Living Legacy Project untuk menghormati para tentara yang tewas dalam Perang Saudara tahun 1861-1865.
WASHINGTON, DC —

Cate Magennis Wyatt mengatakan warga Amerika tidak boleh melupakan sejarah.

“Kita tidak bisa menghapus masa lalu. Kita tidak bisa sekedar berasumsi saja bahwa kisah-kisah tentang mereka yang hidup sebelum kita pasti akan dikenang. Jika kita tidak tahu tentang awal mula kisah itu, kita pasti sulit memahami ide-ide awal berdirinya Amerika,” ujarnya.

Magennis Wyatt adalah pendiri dan ketua organisasi Journey Through Hallowed Ground Partnership.

“Journey Through Hallowed Ground Partnership adalah organisasi nirlaba yang dibentuk tahun 2005 untuk meningkatkan kesadaran tentang kebesaran sejarah Amerika, warisan dan budaya yang ditemukan di wilayah Gettysburg, Pennsylvania, Maryland sampai di Monticello, Virginia,” ujarnya lagi.

Monticello adalah nama kediaman presiden ketiga Amerika, Thomas Jefferson.

 

Magennis Wyatt mengatakan, rentangan wilayah yang panjangnya hampir 290 kilometer, atau 180 mil, itu sangat berbeda dari tempat lainnya.

Meskipun wilayah ini kecil dibandingkan dengan luasnya Amerika, wilayah ini kaya akan sejarah.

“Di wilayah ini ada sembilan kediaman presiden Amerika, mulai dari Jefferson, Madison, Monroe, sampai Eisenhower. Ada tempat-tempat bersejarah dari Perang Prancis dan Indian, Perang Kemerdekaan, Perang tahun 1812, dan medan pertempuran terbesar Perang Saudara,” paparnya lagi.

Perang Saudara inilah yang menjadi fokus Living Legacy Project. Tujuannya adalah menanam satu pohon bagi setiap tentara yang tewas.

Pohon-pohon pertama, yang jumlahnya sekitar 400, sudah ditanam di Oatlands, Virginia,

tempat milik National Trust, yang terletak di tengah wilayah Journey Through Hallowed Ground National Scenic Byway.

Jenis-jenis pohon asli Amerika yang ditanam termasuk red bud, red maple, red cedar evergreen, dan red twig dogwood, yang warna-warnanya senantiasa terlihat cantik pada setiap pergantian musim.

Sekarang semakin banyak sejarawan mengatakan jumlah tentara yang tewas jauh lebih banyak,

mungkin 750.000 orang. Mereka mendasarkan perkiraan itu pada angka sensus dan fakta bahwa banyak tentara mungkin tewas setelah pertempuran itu usai akibat luka-luka.

Magennis mengatakan menganggap biasa-biasa saja apa yang telah diperjuangkan tentara-tentara itu berarti kita kurang menghargai apa maknanya jadi orang Amerika.

Setelah perang usai tahun 1865, perbudakan berakhir. Namun dibutuhkan ratusan tahun untuk mengakhiri pemisahan ras dan menjamin hak bersuara di Amerika. Magennis-Wyaatt berharap, 50 tahun lagi, pada peringatan perang saudara ke-200, pemahaman sejarah itu akan jauh lebih mendalam.

 

Sumber :

https://www.edocr.com/v/rypqab5o/ojelhtcmandiri/Review-Text

Universitas Udayana Bali Luncurkan Perpustakaan Lontar

Universitas Udayana Bali Luncurkan Perpustakaan Lontar

Universitas Udayana Bali Luncurkan Perpustakaan Lontar

Universitas Udayana Bali Luncurkan Perpustakaan Lontar

Universitas Udayana Bali Luncurkan Perpustakaan Lontar

Universitas Udayana (UNUD) Bali secara resmi meluncurkan Perpustakaan Lontar, Rabu pagi (28/11) untuk upaya pelestarian bahasa dan sastra Bali dan Jawa Kuno.
DENPASAR, BALI — Rektor Universitas Udayana Prof.Dr.Made Bakta dalam keteranganya di sela-sela peluncuran Perpustakaan Lontar di Denpasar Bali, Rabu Pagi (28/11) mengungkapkan peluncuran Perpustakaan Lontar merupakan usaha untuk mengingatkan kepada generasi muda akan pemikiran, gagasan dan konsep mulia para leluhur dalam bentuk kearifan lokal Bali.

Perpustakaan Lontar tersebut memiliki jumlah lontar mencapai 950 cakep (judul), sebagai

bagian dari upaya pelestarian bahasa dan sastra Bali dan Jawa Kuno. Lontar merupakan media rekam jejang kehidupan peradaban manusia Bali pada zamannya.

Bakta berharap dengan adanya Perpustakaan Lontar nantinya ada usaha untuk merevitalisasi konsep-konsep kearifan lokal yang ada dalam lontar. “Yang paling penting adalah bagaimana kita menginterprestasi apa yang ada di dalam kandungan lontar itu. Hal-hal yang kontekstual artinya berhubungan dengan masa kini. Kearifan itu jika dibiarkan tanpa adanya interprestasi ataupun penafsiran, dia akan menjadi barang mati,” demikian ungkap Prof.Dr.Made Bakta.

Proses penulisan aksara Bali pada lembaran lontar, sebagai upaya pelestarian bahasa dan sastra Bali dan Jawa kuno (VOA/Muliarta).
Proses penulisan aksara Bali pada lembaran lontar, sebagai upaya pelestarian bahasa dan sastra Bali dan Jawa kuno (VOA/Muliarta).
Bakta menyampaikan peluncuran Perpustakaan Lontar kedepan akan ditindaklanjuti dengan program digitalisasi dan peterjemahan terhadap isi lontar, sehingga generasi muda dapat mempelajari dan mengetahui isi dari lontar. “Pertama digitalisasi. Saya ingin semua lontar masuk ke sistem. Kemudian menterjemahkan, menginterprestasi isinya itu apa maksudnya, konteks ke kiniannya apa, sehingga memberikan manfaat pada masyarakat,” lanjutnya.

Anggota Badan Pembina Bahasa dan Sastra Bali, Dinas Kebudayaan Bali, Made Swacana

menyampaikan tantangan terbesar dari peluncuran Perpustakaan Lontar kedepan adalah menumbuhkan minat baca generasi muda untuk membaca lontar. Apalagi sangat jarang generasi muda di Bali yang mampu membaca dan menulis Bali dengan baik untuk saat ini.

“Banyak yang khawatir karena infiltrasi dari bahasa lain, seperti Bahasa Inggris yang malah sudah menjadi bahasa ibu bagi beberapa keluarga misalnya. Namun kita tidak perlu khawatir Bahasa Bali kita dengan aksarannya itu akan punah,” ungkap Made Swacana.

Sementara Ketua Perpustakaan Lontar Universitas Udayana Drs.I Gde Nala Antara, M.Hum

menyebutkan jumlah lontar yang terdapat di Perpustakaan Lontar UNUD hanya sebagian kecil, sebab masih terdapat puluhan ribu naskah lontar yang hingga kini disimpan oleh masyarakat Bali dan menjadi koleksi pribadi.

 

Sumber :

https://crooksandliars.com/user/danuaji88

SASTRA PERIODE 1953-1961

SASTRA PERIODE 1953-1961

SASTRA PERIODE 1953-1961

SASTRA PERIODE 1953-1961

SASTRA PERIODE 1953-1961

1. Krisis Sastra Indonesia

Pada bulan April 1952 di Jakarta diselenggarakan sebuah simposium tentang “Kesulitan-kesulitan Zaman Peralihan Sekarang” dalam simposium itu dilontarkan istilah “Krisis Akhlak”, “Krisis Ekonomi” dan berbagai krisis lainnya.

Tahun 1953 di Amsterdam diselenggarakan simposium tentang kesusastraan Indonesia antara lain berbicara dalam simposium itu Asrul Sani, Sultan Takdir Ali Sjahbana, Prof. Dr. Werthim dan lain-lain. Disinilah untuk pertama kali dibicarakan tentang “Impasse (kemacetan) dan “krisis sastra Indonesia” sebagai akibat dari gagalnya revolusi Indonesia, tetapi persoalan tentang krisis baru menjadi bahan pembicaraan yang ramai ketika terbit majalah konfrontasi pada pertengahan tahun 1954. Nomor pertama majalah ini memuat essay Soejatmako berjudul “Mengapa konfrontasi” dalam karangan ini secara tandas dikatakan oleh penulisnya bahwa sastra penulisnya sedang mengalami krisis.

Soejatmoko mengatakan bahwa sastra Indonesia sedang mengalami krisis karena yang ditulis hanya cerpen-cerpen kecil yang “berlingkar sekitar fsikologisme perseorangan semata-mata” roman-roman besar tak ada ditulis.

Karangan Soejatmoko ini mendapat reaksi hebat, terutama dari kalangan sastrawan sendiri seperti : Nugroho Notosusanto, S.M. Ardan, Boejong Saleh, dan lain-lain. Begitu pula H.B. Jassin dalam simposium sastra mengemukakan sebuah prosaran yang diberinya judul “Kesusastraan Indonesia Modern tidak ada krisis” dengan bukti-bukti dari dokumentasi yang kengkap, Jassin pun menolak sebutan adanya krisis maupun impasse dalam kehidupan sastra Indonesia.

Dalam tulisan berjudul “Situasi 1954” yang ditujukan kepada sahabatnya Ramadhan K.H, Nugroho Notosusanto mencoba mencari latar belakang timbulnya penamaan “Impasse sastra Indonesia” yang bagi dia tidak lebih hanya sebuah “Mite” (dagangan belaka). Menurut Nugroho asal timbulnya mite itu ialah pasimisme yang berjangkit dari kalangan orang-orang tertentu pada masa sesudah kedaulatan. Kecuali itu Nogroho pun melihat kemungkinan bahwa golongan “Old Cracks” angkatan 1945 pada sekitar tahun 1945 mengalami masa keemasan, pada masa sesudah tahun 1950 mengalami kemunduran.

Sitor Sitomurang dalam sebuah tulisannya yang berjudul “Krisis” H.B Jossin dalam majalah mimbar Indonesia mengemukakan pendapatnya bahwa yang ada bukanlah krisis sastra melainkan krisis ukuran menilai sastra. Sitor berkesimpulan bahwa krisis yang terjadi ialah krisis dalam diri jassin sendiri karena ukurannya tidak matang.

2. Sastra Majalah

Sejak tahun 1953 balai pustaka yang sejak jaman sebelum perang merupakan penerbit utama buat buku-buku sastra, kedudukannya tidak menentu. Demikian pula penerbit Pustaka Rakyat yang tadinya disamping balai pustaka merupakan penerbit nasional yang banyak menerbitkan buku-buku sastra, agaknya terlibat dalam berbagai kesukaran begitu juga dengan penerbitan buku lainnya seperti pembangunan, dan lainnya.

Maka aktivitas sastra terutama hanya dalam majalah-majalah saja seperti gelanggang atau siasat, mimbar Indonesia, Zhenit, pujangga baru dan lain-ain. karena sifat majalah maka karangan-karangan yang mendapat tempat terutama yang berupa sajak, cerpen dan karangan-karangan lain yang tidak begitu panjang. Keadaan seperti itulah yang menyebabkan lahirnya istilah “sastra majalah” istilah ini pertama kali dilontarkan oleh Nugroho Notosusanto yang dimuat dalam majalah kompas yang dipimpinnya.

Persoalan lahirnya angkatan sesudah Chairil Anwar.

Dalam simposium sastra tahun 1955, Harijadi S. Hartowardoyo memberikan sebuah prosaran yang berjudul “Puisi Indonesia sesudah Chairil Anwar” juga dalam simposium-simposium di Jogyakarta, Solo dan kota-kota lain ada kecendrungan pikiran untuk menganggap telah lahir suatu angkatan para pengarang baru yang terasa tidak tepat lagi digolongkan kepada angakatan Chairil Anwar yang populer dengan nama angkatan 45 itu dalam simposium sastra yang diselenggarakan di Jakarta pada tahun 1960 Ajib Rosyidi memberikan sebuah prasaran tentang “sumbangan angkatan terbaru sastrawan Indonesia kepada perkembangan kesusastraan Indonesia “Dalam prasaran itu dicoba untuk mencari ciri-ciri yang membedakan angkatan terbaru dengan angkatan 45. Lebih lanjut dalam prasaran itu dikemukakan bahwa sikap budaya para sastrawan yang tergolong pada angkatan terbaru merupakln sintesin dari dua sikap ekstrim mengenai konsepsi kebudayaan Indonesia.

Dalam seminar kesusastraan yang diselenggarakan oleh fakultas tahun 1963, Nugroho Notosusanto dalam ceramahnya berjudul “soal periodisasi dalam sastra Indonesia” mengemukakan bahwa memang ada periode sebelumnya. Nugroho menekankan pada kenyataan bahwa para pengarang yang aktif menulis pada periode 1950 ialah mereka yang telah mempunyai “sebuah tradisi Indonesia sebagi titik tolak”. Sifat imitatif dari Belanda atau Eropa berkurang. Pandangan keluar negeri tidak hanya Eropa melainkan keseluruh Dunia. Ditambah pula oleh penghargaan yang wajar kepada sastrawan-sastrawan Indonesia sendiri.

Berbeda dengan para pengarang punjangga baru dan angkatan 45, para pengarang periode 50 ini lebih menitik beratkan pada penciptaan hal ini berhubungan juga tentu dengan kurangnya pengetahuan mereka pada saat itu. Baru kemudian setelah berkesempatan menambah pengetahuan pula, mereka merumuskan cita-cita dan kehadirannya.

Dalam hal ini peranan majalah kisah (1953-1956), tidak bisa dibilang kecil, karena banyak pengarang yang muncul dalam periode ini mengumumkan tulisan-tulisannya yang mula-mula dalam majalah ini atau banyak pula pengarang yang sudah menulis sebelum tahun 1953, kemudian mendapat kesempatan berkembang sebaik-baiknya dalam majalah kisah.

Baca Juga : 

SASTRA PERIODE 1945-1953

SASTRA PERIODE 1945-1953

SASTRA PERIODE 1945-1953

SASTRA PERIODE 1945-1953

SASTRA PERIODE 1945-1953

1. Angkatan ‘45

Munculnya Chairil Anwar dalam panggung sejarah sastra Indonesia memberikan sesuatu yang baru. Sajak-sajaknya tidak seperti sajak-sajak Amir Hamzah yang masih mengingatkankta kepada sastra Melayu. Bahsa yang dipeergunakannya ialah bahsa Indonesia yang hidup, berjiwa. Bukan bahasa buku, melainkan bahasa percakapan sehari-hari yang dibuatnya bernilai sastra.

Khairil Anwar segera mendapat pengikut, penafsir, pembela dan penyokong. Dalam bidang penulisan puisi muncul para penyair Asrul Sani, Rivai Apin, M. Akbar Djuhana, P. Sengojo, Dodong Djiwapraja, S. Rukiah, Walujati, Harijadi S. Hartowardoyo, Moch. Ali dan lain-lain. Dalam bidang penulisan prosa, Idrus pun memperkenalkan gaya menyoal-baru yang segera mendapat pengikut luas.

Dengan munculnya kenyataan itu, banyak orang yang berpendapat bahwa sesuatu angkatan kesusastraan baru telah lahir. Pada mulanya angkatan ini disebut Angkatan Sesudah Perang, ada yang menamakannya Angkatan Khairil Anwar, Angkatan Kemerdekaan dan lain-lain. Pada tahun 1948 Rosihan Anwar menyebut angkatan ini dengan nama Angkatan 45. Nama ini segera menjadi populer dan dipergunakan oleh semua pihak sebagai nama resmi.

Tetapi sementara itu, meskipun namanya sudah diperoleh, sendi-sendi dan landasan idealnnya belum lagi dirumuskan. Baru pada tahun 1950, “Surat Kepercayaan Gelanggang“ dibuat dan diumumkan. Ketika itu Chairil Anwar sudah meninggal. Surat kepercayaan itu ialah semacam pernyataan sikap yang menjadi dasar pegangan perkumpulan yang bernama “Gelanggang Seniman Merdeka“, yang didirikan tahun 1947.

SURAT KEPERCAYAAN GELANGGANG

Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang banyak dan pengertian rakyat bagi kami adalah kumpulan campur baur dari mana dunia-dunia baru yang sehat dapat dilahirkan.

Ke-Indonesiaan kami tidak semata-mata karena kulit kami yang sawo matang, rambut kami yang hitam, atau tulang pelipis kami menjorok ke depan, tapi lebih banyak oleh apa yang diutarakan oleh wujud pernyataan hati dan pikiran kami. Kalau kami bicara tentang kebudyaan Indonesia, kami tidak ingat kepada melap-lap hasil kebudayaan lama sampai mengilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudyaan baru yang sehat.

……………………………………………………………….
Jakarta 18 Februari 1950

Sebegitu banyak yang memproklamasikan kelahiran dan membela hak hidup Angkatan ’45, sebanyak itu pulalah yang menentangnya. Armijn Pane berpendapat bahwa Angkatan ’45 hanyalah lanjutan dari yang sudah dirintis angkatan sebelumnya, yaitu Angkatan Pujangga Baru.

Pada tahun 1952, H.B. Jassin mengumumkan sebuah essai berjudul “Angkatan ‘45” yang merupakan pembelaan terhadap kelahiran dan hak hidup Angkatan ’45. Jassin mengatakatan bahwa bukan hanya dalam gaya saja perbedaan antara Angkatan ’45 ini dengan para pengarang Pujanggga Baru, melainkan juga dalam visi (pandangan). Essai itu kemudian diterbitkan dalam kumpulan karangan Jassin berjudul Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Essay (1954).

Chairil Anwar

Chairil Anwar dilahirkan di Medan tanggal 22 Juli 1922. Sekolahnya hanya sampai mulo ( SMP ) dan itu pun tidak tamat kemudian ia belajar sendiri, sehingga tulisan-tulisannya matang dan padat berisi.

Dari esai dan sajak-sajaknya jelas sekali ia seorang individualis yang bebas. Dengan berani dan secara demonstratif pula ia menentang sensor Jepang dan itu menyebabkan ia selalu menjadi incaran Kenpetai (polisi rahasia Jepang yang terkenal galak dan kejam).

Sajaknya yang termasyhur dan merupakan gambaran semangat hidupnya yang memberist dan individualis berjudul AKU (ditempat lain diberi judul “Semangat”). Dalam sajak itu ia menyebut dirinya sebgai “binatang jalang”, sebutan yang segera menjadi terkenal.

AKU

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau.

Tak perlu sedus edan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa ‘ku bawa berlari
Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Selain seorang individualis, Khairil juga amat mencintai tanah air dan bangsanya. Rasa kebangsaan dan patriotismenya tampak dalam sajak-sajaknya Diponegero, Kerawang – Bekasi, Persetujuan dengan Bung Karno, Siap Sedia, erita Buat Dien Tamaela, dan lain-lain.

DIPONOGORO

Di masa pembangunan ini
Tuan hidup kembali
Dan bara kagus menjadi api
Di depan sekali Tuan menenti
Tak gentar. Laean banyaknya seratus kali
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselubung semangat yang tak bisa mati

Maju
Ini baaaarisan tak bergenderang berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu
Sekali berarti
Sudah itu mati

Sumber : https://www.okeynotes.com/blogs/212521/21234/cara-memilih-jam-tangan-pria-yang-bagus-dan-berkualitas

SASTRA PERIODE 1933-1942

SASTRA PERIODE 1933-1942

SASTRA PERIODE 1933-1942

SASTRA PERIODE 1933-1942

SASTRA PERIODE 1933-1942

Lahirnya Majalah Pujangga Baru

Sejak tahun 1920 kita sudah mengenal majalah yang memuat karanagan “sastra seperti Sri Poestaka (1919-1941). Panji Poestaka (1919-1992) Yong Soematra (1920-1926). Hinggga awal tahun 1930 an para pengarang untuk menerbitkan majalah khusus kebudayaan dan kesastraan belum juga terlaksana

Tahun 1930 terbit Majalah Timboel (1930-193 ) mula-mula dalam bahasa Belanda kemudian pada tahun 1932 terbit juga edisi bahasa Indonesia Sutan Takdir Ali Syahbana sebagai direktur.

Baru pada tahun 1933, Armijn Pane, Amir Hamzah dan Sutan Takdir Ali Syahbana berhasil mendirikan Majalah kesastraan dan bahasa serta kebudayaan umum. Tahun 1935 berubah menjadi menjadi pembawa semangat baru dalam kesastraan, seni, kebudayaan dan soal masyarakat umum”. Kemudian tahun 1936 terjadi lagi pembahasan yaiut bnerbunyi “Pembimbing semangat baru yang dinamis untuk membentuk kebudayaan persatuan Indonesia.”

Majalah ini terbit dengan setia meskipun bukan tanpa kesulitan berkat pengorbanan dan keuletan Sutan Takdir Alisahbana. Kelahiran majalah Poejangga Baru yang banyak melontarkan gagsan-gagasan baru dalam bidang kebudayaan bukan berarti tidak menimbulkan reaksi. Keberaniannya menandakan bahasa Indonesia sekolah bahasa Melayu menimbulkan berbagai reaksi, sikap ini menimbulkan reaksi dari para tokoh bahasa yang erat berpegang kepada kemurnian bahasa Melayu tinggi seperti H. Agus Salim (1884-1954) Sutan Moh. Zain (tahun1887), S.M Latif yang menggunakan nama samaran Linea Recta dan lain-lain.

Tokoh-tokoh Poejangga Baru

Sutan Takdir Alisjahbana

Motor dan penggerak semangat gerakan Pujangga baru ialah Sutan Takdir Alisyahbana lahir di Natal 1908. Sejak tahun 1929 muncul dipanggung sejarah dengan roman berjudul Tak Putus Dirundung Malang, roman kedua berjudul Dian Yang Tak Kunjung Padam (1932) roman ketiga berjudul Layar Terkembang (1936), adapun roman yang berjudul Anak Perawan Disarang Penyamun (1941) ditulisnya lebih dahulu dari pada Layar Terkembang dimuat sebagai Feulilleton dan majalah Pandji Poestaka.

Tiga puluh tahun kemudian Sutan Takdir Alisjahbana menulis roman yang berjudul Grotta Azzurra (Gua Biru). Layar Terkembang merupakan roman Takdir yang terpenting., yang terbit pada tahun tiga puluhan merupakan salah satu karya terpenting pula dari para pujangga baru .Sebagai penulis roman, Takdir terkenal sebagai penulis esai dan sebagai pembina Bahasa Indonesia. Oleh Ir. S. Udin ia pernah disebut sebagai “insinyur bahasa Indonesia”.

Atas inisiatif Takdir melalui pujangga baru-lah maka pada tahun 1938 di Solo diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia yang pertama. Sehabis perang Takdir pernah menerbitkan dan memimpin majalah Pembina Bahasa Indonesia ( 1947-1952 ). Dalam majalah itu dimuat segala hal-ihwal perkembangan dan masalah bahasa Indonesia. Tulisan yang berkenaan dengan bahasa kemudian diterbitkan dengan judul Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia ( 1957 ).

Takdir juga menulis sajak-sajak salah satunya yang mengenangkan pada kematian isterinya yaitu berjudul Tebaran Mega ( 1936 ).Esai-esai Takdir tentang sastra banyak juga antara lain “Puisi Indonesia Zaman Baru”. Kesusastraan di zaman Pembangunan Bangsa (1938), “Kedudukan Perempuan dalam Kesusastraan Timur Baru (1941)”, dan lain-lain. Ia pun menyusun dua serangkai bungarampai Puisi Lama (1941).Dan Puisi Baru (1946) dengan kata pengantar yang menekankan pendapatnya bahwa sastra merupakan pancaran masyarakatnya masing-masing.

Armijn Pane

Organisator pujangga baru adalah Armijn Pane. Tahun 1933 ia bersama Takdir dan kawan sekolahnya, Amir Hamzah, menerbitkan majalah Poedjangga Baroe. Armin terkenal sebagai pengarang roman Belenggu (1940). Roman ini mendapat reaksi yang hebat, baik dari yang pro maupun yang kontra terhadapnya.Yang pro menyokongnya sebagai hasil sastra yang berani dan yang kontra menyebutnya sebagai sebuah karya cabul yang terlalu banyak melukiskan kehidupan nyata yang selama itu disembunyikan dibelakang dinding-dinding kesopanan.

Belenggu ialah sebuah roman yang menarik karena yang dilukiskan bukanlah gerak-gerak lahir tokoh-tokohnya, tetapi gerak-gerak batinnya.

Arminj pane sebagai pengarang dalam roman yang berjudul Belenggu ini tidak menyelesaikan ceritanya sebagai kebiasaan-kebiasaan para pengarang sebelumnya, melainkan membiarkannya diselesaikan oleh para pembaca sesuai dengan angan masing-masing. Sebelum menulis roman Armijn Pane banyak menulis cerpen, sajak, esai dan sandiwara. Cerpennya “Barang Tiada Berharga”. Dan sandiwaranya “Lukisan Masa” merupakan prototif buat romannya Belenggu.

Cerpen-cerpennya bersama dengan yang ditulisnya sesudah perang kemudian dikumpulkan dengan judul Kisah Antara Manusia (1953). Sedang sandiwara-sandiwaranya dikumpulkan dengan judul Jinak-jinak Merpati (1954). Sajak-sajaknya dengan judul Jiwa Berjiwa diterbitkan sebagai nomor istimewa majalah Poedjangga Baroe (1939). Dan sajak-sajaknya tersebar kemudian dikumpulkan juga dan terbit dibawah judul Gamelan Jiwa (1960). Ia pun banyak pula penulis esai tentang sastra yang masih tersebar dalam berbagai majalah, belum dibukukan. Dalam bahasa Belanda, Armijn menulis Kort Overzicht van de moderne Indonesische Literatuur (1949).

Gaya bahasa Armijn sangat bebas dari struktur bahasa Melayu. Dalam karangan-karangannya ia pun lebih banyak melukiskan gerak kejiwaan tokoh-tokohnya daripada gerak lahirnya. Inilah terutama yang membedakan Armijn dengan pengarang lainnya.

Amir Hamzah (1911-1946)

Amir Hamzah termasuk salah satu penyair religius (keagamaan). Ia menulis prosa, baik berupa esai, kritik maupun sketsa.

Ia adalah seorang mahasiswa Fakultas Hukum di Jawa. Aktif dalam kegiatan-kegiatan kebangsaan dan bersama Sultan Takdir dan Armijn Pane mendirikan majalah Pujangga Baru.

Keturunan bangsawan langkat di Sumatra Timur. Ini menghasilkan karya yang tidak sedikit, diantaranya :

– Sekumpulan sajak berjudul Nyanyi Sunyi (1937)
– Buah Rindu (1941)
– Setanggi Timur (1939)
– Dsb

Ciri khas puisi Amir Hamzah :

1. Ia banyak mempergunakan kata-kata lama yang diambilnya dari khasanah bahasa melayu dan kawi.
2. Kata-kata yang dijemputnya dari bahasa daerah, terutama bahasa-bahasa Melayu, Jawa, Sunda.
Isi sajak Amir Hamzah kebanyakan bernada kerinduan, penuh ratap kesedihan. Tetapi isi puisinya tidak hanya menimbulkan kesedihan, rasa sunyi dan pasrah diri tapi ia juga menekankan pada rasional.

Sumber : https://www.okeynotes.com/blogs/212521/21233/fungsi-sitoplasma

Zonasi PPDB Diakui Tak Bisa Selesaikan Masalah Sekejap

Zonasi PPDB Diakui Tak Bisa Selesaikan Masalah Sekejap

Zonasi PPDB Diakui Tak Bisa Selesaikan Masalah Sekejap

Zonasi PPDB Diakui Tak Bisa Selesaikan Masalah Sekejap

Zonasi PPDB Diakui Tak Bisa Selesaikan Masalah Sekejap

Sistem zonasi sekolah pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) banyak diprotes wali murid. Bahkan, tak sedikit dari mereka meminta sistem PPDB melalui zonasi itu dihapuskan.

Kosman Karman, salah satu orang tua murid pun mengaku sempat bingung dengan sistem

tersebut. “Karena saya dengar di Depok, karena saya lokasinya di Depok, SMA 1, SMANSA rusuh,” ujar Kosman dalam diskusi bertajuk Sistem Zonasi Sekolah Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), Polemik dan Kebermanfaatannya di Gado-gado Boplo, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (21/6/2019).

Bahkan, dia mendengar kabar ada orang tua murid yang menunggu antrian di sekolah sejak pukul 23.00 WIB. “Saya enggak tahu menginap dimana, atau orientasinya apa, karena tidak ada kepastian, akhirnya rusuh, kemudian beberapa orang tua katanya merusak fasilitas sekolah,” ujarnya.

Baca Juga:

Penerapan Sistem Zonasi Membutuhkan Perpres

Sinergi Komunitas Penting untuk Wujudkan Pendidikan Berkualitas

Berkaca pada peristiwa itu, dia menilai seharusnya ada edukasi kepada masyarakat. “Hal-hal seperti ini lah saya kira perlu ada semacam edukasi publik ya terhadap masyarakat secara keseluruhan bahwa kebijakan-kebijakan itu memang tidak bisa serta merta menyelesaikan sebuah masalah dalam waktu sekejap,” imbuhnya.

Dia mengatakan, setiap pemerintah daerah harus mengimplementasikan teknis kebijakan

pemerintah pusat secara detail di lapangan. “Sehingga setiap orang tua, setiap calon peserta didik baru punya semacam perasaan kepastian akan wilayahnya. Saya sebagai orang tua hanya butuh satu hal bahwa saya dapat kepastian akan dilayani,” tuturnya.

 

Baca Juga :

DPR Mendesak Kemendikbud Agar Perbaiki Sistem PPDB

DPR Mendesak Kemendikbud Agar Perbaiki Sistem PPDB

DPR Mendesak Kemendikbud Agar Perbaiki Sistem PPDB

DPR Mendesak Kemendikbud Agar Perbaiki Sistem PPDB

DPR Mendesak Kemendikbud Agar Perbaiki Sistem PPDB

Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2019 memunculkan sejumlah persoalan. Salah satu yang muncul adalah persoalan zonasi sebagai salah satu mekanisme penerimaan peserta didik. Kalangan DPR pun mendesak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk mengevaluasi sistem ini.

“Alokasi 90% untuk zonasi sebagaimana diatur dalam Pasal 16 ayat (2) Permendikbud No 51 Tahun 2019 telah menjadi hal krusial yang ditemukan di lapangan,” ungkap Wakil Ketua Komisi X DPR Reni Marlinawati di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, kemarin. Namun demikian, Reni tidak menampik bahwa penerapan sistem zonasi sebagai upaya untuk memetakan persoalan yang terjadi di tiap daerah dan sekolah.

Hanya saja, jika penerapan sistem zonasi ini semata-mata untuk kepentingan pemetaan, maka

tentu tidak sebanding dengan imbas dari penerapan sistem ini. “Padahal, instrumen pemetaan tidak hanya sekadar melalui sistem zonasi ini. Setiap pemerintah daerah mestinya telah memiliki pemetaan dari sisi ketersediaan guru, kualitas guru, profil anak didik, termasuk bagaimana kondisi infrastrukturnya,” urai Reni.

Baca Juga:

Sinergi Komunitas Penting untuk Wujudkan Pendidikan Berkualitas
Pertama di Indonesia, Ukrida Buka Program Studi Optometri

Menurut Wakil Ketua Umum DPP PPP ini, penerapan sistem zonasi tampak memberi pesan semangat pemerataan dan antidiskriminasi dengan menghilangkan stigma sekolah favorit dan sekolah tidak favorit. Namun yang menjadi soal, faktanya saat ini kualitas sekolah tidak merata.

“Padahal ini perkara pemerataaan kualitas sekolah, namun cara penangannya melalui proses

rekrutmen peserta didik. Ibarat menggaruk sesuatu yang tidak gatal. Akibatnya muncul kericuhan, antrean, dan karut marut dalam PPDB ini,” ujarnya.

Reni menambahkan, penerapan PPDB dengan sistem zonasi selama tiga tahun terakhir ini tampak tidak mengalami perbaikan secara signifikan. Untuk itu, Komisi X DPR akan mengundang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) untuk melakukan evaluasi terhadap penerapan PPDB. “Kami akan jadwalkan untuk mengundang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan terkait evaluasi penerapan PPDB ini,” tandasnya.

Ketua DPR Bambang Soesatyo ikut memberikan sejumlah arahan terkait sistem PPDB ini.

Pertama, DPR mendorong Kemendikbud melalui dinas pendidikan bersama pemerintah daerah (pemda) untuk terus menyosialisasikan serta meng-update dalam situs resmi PPDB apabila ada pembaharuan informasi.

 

Sumber :

https://www.deviantart.com/gimadelija/journal/Your-High-School-Diploma-Online-804324339

Percepat Pemerataan Pendidikan, Kemendikbud Berikan Bimbingan kepada 1.070 Sekolah

Percepat Pemerataan Pendidikan, Kemendikbud Berikan Bimbingan kepada 1.070 Sekolah

Percepat Pemerataan Pendidikan, Kemendikbud Berikan Bimbingan kepada 1.070 Sekolah

Percepat Pemerataan Pendidikan, Kemendikbud Berikan Bimbingan kepada 1.070 Sekolah

Percepat Pemerataan Pendidikan, Kemendikbud Berikan Bimbingan kepada 1.070 Sekolah

Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar Kemendikbud akan melakukan bimbingan teknis program pembinaan SD berbasis zonasi kepada 1.070 sekolah di 514 kabupaten dan kota. Tujuannya agar percepatan pemerataan pendidikan pada jenjang SD dapat segera dituntaskan.

Direktur Pembinaan SD Kemendikbud Khamim mengatakan, bimbingan teknis ini dilakukan berdasarkan peta zonasi yang telah dibuat pemerintah kabupaten dan kota. Tugas ini akan dibagi dua dengan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Kemendikbud, yakni sebanyak 560 sekolah akan ditangani LPMP dan 510 akan ditangani Direktorat Pembinaan SD.
“Sehingga, paling tidak di setiap kabupaten dan kota ada dua atau tiga sekolah dasar yang mendapatkan pembinaan mutu berbasis zonasi,” kata Khamim.

Adapun materi yang akan diberikan Kemendikbud kepada sekolah yang mendapatkan

intervensi di antaranya meliputi penguatan proses pembelajaran dan penilaian di satuan pendidikan yang bersangkutan. Sedangkan kriteria sekolah yang akan mendapatkan bimbingan teknis yakni mereka telah memenuhi standar nasional pendidikan (SNP).

Baca Juga:

Peserta OSN 2019 Tingkat SMA Bersiap Berjuang di Manado

Kisruh PPDB, DPR Desak Manipulasi Domisili Diusut Tuntas

Wakil Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Satriwan Salim mengatakan, penerapan PPDB dengan sistem zonasi di Tahun ajaran 2019/2020 ini harus diimbangi dengan informasi dan sosialisasi yang utuh menyeluruh kepada orang tua dan sekolah. Hal ini penting, katanya, sebab FSGI menerima laporan banyaknya penyimpangan pelaksanaan zonasi PPDB di 2018 lalu.

Dia mengakui, tujuan zonasi PPDB memang sangat mulia yakni menciptakan pemerataan dan

keadilan pendidikan. Akan tetapi hal ini juga harus ditunjang dengan pendataan calon peserta didik yang baik, koordinasi pusat dan daerah yang utuh, ketersediaan sekolah bilamana dalam satu wilayah zonasi memiliki kepadatan penduduk tinggi sedangkan jumlah sekolah tidak mencukupi. “Pemerintah harus menyempurnakan kekurangan zonasi PPDB 2018 lalu agar sistem zonasi PPDB ini tidak berdampak sebaliknya yaitu terjadinya ketidakadilan dalam pendidikan,’’ jelasnya.

 

Sumber :

https://rahulraheja.atavist.com/school-education-completion-broadening-opportunities

Geografis Yogyakarta

Geografis Yogyakarta

Selamat datang di Blog Situs Pelajaran Oke, yang pada peluang kali ini bakal menolong anda sedikit mengenal perihal Yogyakarta. Maka berasal dari itu coba simaklah ulasan tersebut ini “Kenali Yogyakarta- Geografis Yogyakarta”.

Provinsi Daerah Yogyakarta merupakan Provinsi yang membawa standing Daerah Istimewa. Status Daerah Istimewa ini nampaknya mengenai erat dengan histori terjadinya Provinsi ini tahun 1945 sebagai paduan lokasi kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman yang memadukan diri dengan lokasi RI yang diploklamirkan tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno Hatta (Bung Karno) dan Moh. Hatta (Bung Hatta).
Bagian ujung sebelah Utara Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan puncak gunung Merapi yang tenar gara-gara aktifnya saat ini, mempunyai ketinggian kurang lebih 2920 meter di atas permukaan air laut. Oleh para pakar menyatakan bahwa gunung berapi (Vulkanolog) internasional. Gunung berapi di Yogyakarta ini mempunyai bentuk letusan yang khas, dan nampaknya sejenis dengan letusan gunung api Visuvius di Italia. Puncak gunung berapi di Yoyakarta ini selamanya mengepulkan asap, yang merupakan sebuah pemandangan khas yang melatarbelakangi pemandangan kota Yogyakarta ini sebelah Utara, Selatan, Timur, maupun Barat.
Untuk luas berasal dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini kurang lebih 3.186 Km² dengan penduduk 3.278.599 jiwa (data Desember 1995) dan terbagi menjadi 5 Daerah Tingkat II, yakni:
Kotamadya Yogyakarta yang merupakan Ibu kota Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kabupaten Sleman dengan Ibu kota Beran.
Kabupaten Gunungkidul dengan Ibu kota Wonosari
Kabupaten Bantul dengan Ibu kota Bantul.
Kabupaten Kulon Progo dengan Ibu kota Wates.

Setelah meninggal/wafatnya Sri Hamengku Buwono IX sebagai Gubernur Kepala Daerah Provinsi DIY dijabat Sri Paku AlamVII yang pada mulanya sebagai wakil Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta dan sejak Sabtu 3 Oktober 1998 Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dijabat Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Sumber : https://www.kumpulansurat.co.id/

Baca Juga :