Catatan Kartika, Dosen ITS yang Menjadi Diplomat Bahasa di India (1)

Catatan Kartika, Dosen ITS yang Menjadi Diplomat Bahasa di India (1)

Catatan Kartika, Dosen ITS yang Menjadi Diplomat Bahasa di India (1)

Catatan Kartika, Dosen ITS yang Menjadi Diplomat Bahasa di India (1)

Catatan Kartika, Dosen ITS yang Menjadi Diplomat Bahasa di India (1)

Kartika Nuswantara, dosen Insitut Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) berkesempatan menjadi diplomat bahasa di India selama sekitar satu bulan. Berikut catatan perjalanannya yang ditulis dengan gaya bertutur.

Odisha atau yang juga dikenal dengan Orissa terletak di bagian timur India, merupakan salah satu negara bagian yang memiliki kekhasan historis sebagai pusat berkembangnya agama Hindu di India.

Odisha merupakan negara bagian dengan jumlah suku asli (tribal, demikian India menyebutnya) terbesar di India. Di situlah saya berkesempatan menjadi diplomat bahasa selama sekitar satu bulan.
Kartika Nuswantara
BISA: Siswa siswi Kartika Nuswantara menunjukkan hasil pembelajaran mereka. (Kartika Nuswantara for JawaPos.com)

Odisha merupakan negara bagian dengan jumlah suku asli terbesar yang mencapai hingga 23 persen dari jumlah total penduduk India. Hal itu menyebabkan Odisha masih memiliki budaya dan tradisi yang berakar kuat pada wilayah-wilayah suku asli.

Semenjak kemerdekaan dari penjajahan Inggris, kota Bhubaneswar dikenal sebagai kota seribu candi. Itu menandai kentalnya kehidupan umat Hindu di kota yang sampai sekarang masih menjadi pusat pemerintahan serta pusat perkembangan ekonomi di wilayah negara bagian.

Sesuai dengan program yang ditugaskan oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan, lawatan saya di Odisha atau Bhubaneswar tepatnya adalah mengenalkan, mengajarkan, dan mengembangkan Bahasa dan Budaya Indonesia kepada anak-anak tribal di Kalinga Institute of Social Sciences.

Hal ini tidak pernah saya bayangkan dan tidak terlintas di benak saya. Sepertinya, sesuatu hal yang belum pernah dilakukan oleh peserta lain pada program ini sebelumnya.

Namun ini sangat membanggakan bagi saya, berbeda dengan peserta lainnya, saya mendapat tugas yang sangat mulia yaitu mengenalkan, mengajarkan dan mengembangkan Budaya dan Bahasa Indonesia di institusi pendidikan yang mengkhususkan bagi anak-anak miskin dari suku asli (tribal) di Bhubaneswar.

Setelah beberapa hari saya tinggal diguest house di lingkungan Kalinga Institute of Social

Sciences (KISS), baru saya menyadari saya berada di tempat yang menjadi masterpiece kota ini.

Saya berkesempatan bertemu dan berkenalan dengan tokoh besar di negara bagian ini, seorang ilmuwan yang dermawan dan rendah hati, Prof. Achyuta Samanta, pendiri sekolah residensial bagi 27.000 siswa berasal dari 26 suku asli Odisha dan sekitarnya.

Awal mula didirikannya Kalinga Institute of Social Sciences, pada tahun 1993, dengan mengontrak sebuah blok sebagai tempat tinggal sekaligus tempat bersekolah bagi 125 siswa tribal.

Prof Samanta, biasa dipanggil, mengajar di beberapa sekolah dan perguruan tinggi tetapi

seluruh pendapatannya dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup dan pendidikan siswanya kala itu.

Kegigihannya yang disertai ketulusan berjuang bagi kaum papa, sekarang telah memiliki 22 kampus dengan berbagai disiplin ilmu dan merupakan institusi dengan reputasi internasional di Bhubaneswar.

Pemondokan dan pendidikan gratis diberikan mulai dari pendidikan dasar hingga program Doktoral bagi 27.000 siswanya yang semua berasal dari suku asli, yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Sisi lain yang terpenting yaitu salah satu sumber pendanaan pendidikan serta untuk mencukupi

kebutuhan hidup seluruh siswa KISS, maka didirikanlah KITT University sebagai perguruan tinggi berbayar bagi mahasiswakaya dengan status perguruan tinggi bereputasi internasional.

Walaupun KISS didirikan untuk anak-anak tribal yang miskin, tetapi fasilitas dan infrastruktur institusi pendidikan ini tidak kalah dengan institusi lain yang berbayar. (*)

 

Baca Juga :