Orang Tua Harus Peka, Ketahui Gejala Anak Sulit Belajar

Orang Tua Harus Peka, Ketahui Gejala Anak Sulit Belajar

Orang Tua Harus Peka, Ketahui Gejala Anak Sulit Belajar

Orang Tua Harus Peka, Ketahui Gejala Anak Sulit Belajar

Orang Tua Harus Peka, Ketahui Gejala Anak Sulit Belajar

Kesulitan belajar yang dialami anak-anak bisa dikenali sejak di rumah asalkan orang tua peka terhadap tanda-tandanya. Sisca Rosario dari House of Learning menuturkan, beberapa tanda bisa dikenali dengan cukup mudah. Sebut saja, saat memasuki usia sekolah, anak terlihat sulit membedakan huruf a, b, d, p, dan q karena huruf-huruf tersebut terlihat seolah-olah sama.

Selain itu, mereka sulit berhitung seperti kesulitan memahami konsep dan perkiraan jumlah

(dyscalculia) serta orientasi ruang atau arah (dyspraxia). ’’Bagi mereka, membayangkan empat buah apel gitu, misalnya, adalah sesuatu yang kompleks. Empat buah itu seberapa banyak mereka bingung. Juga sulit mengerti konsep besar dan kecil,’’ ujarnya. Tanda yang lebih jelas dari itu pun bisa dikenali saat orang tua aware terhadap tumbuh kembang anak di rumah.

Tanda tersebut adalah anak kesulitan menangkap, menginterpretasi, hingga menjalankan sebuah instruksi atau informasi yang diterima. Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa itu termasuk dalam kelompok kesulitan belajar spesifik. ’’Gangguan persepsi terlihat saat mereka menerima suatu perintah, sulit untuk mencerna atau memahami dengan benar,’’ ungkapnya. Dia menuturkan, tanda-tanda seperti itu semestinya sudah bisa dikenali, dideteksi, dan diketahui orang tua.

Tetapi, untuk memastikan tanda-tanda tersebut, dibutuhkan deteksi dini terhadap kesulitan

belajar itu. ’’Harus dilakukan observasi yang nanti bisa diketahui tindakan pengajaran yang sesuai untuk kebutuhan si anak,’’ ucapnya.

Dalam screening tersebut, Sisca menerapkan metode yang dikembangkannya. Misalnya, visual discrimination method. Metode itu dilakukan dengan cara mencocokan gambar asli dengan bayangan atau mencari potongan gambar yang hilang. Selain itu, mengurutkan ukuran kecil-sedang-besar, mengidentifikasi huruf, memahami perintah-perintah sederhana secara verbal, dan mengurutkan time kejadian.

Dia menegaskan, untuk mengembangkan anak menjadi pribadi yang matang, yang dilihat

bukan hanya segi kognitif, melainkan juga kondisi mental, serta kemampuan memutuskan suatu tindakan dan melakukan aktivitas sehari-hari. Cara anak me-manage diri dalam menghadapi kesulitan juga dilihat. Screening pun merupakan salah satu solusi awal untuk mendeteksi kasus-kasus developmental pediatric. Antara lain, disabilitas intelektual, kesulitan belajar spesifik (dyslexia), anak gifted, kesulitan berbahasa (gangguan bahasa ekspresif-reseptif), dan sebagainya.

 

Baca Juga :