Pengangkatan Sultan Agung Menjadi Raja Mataram

Pengangkatan Sultan Agung Menjadi Raja Mataram

Pengangkatan Sultan Agung Menjadi Raja Mataram – Rahasia di Balik Pengangkatan Sultan Agung jadi raja-Apabila di kesimpulan lebih mendalam berasal dari histori pewarisan tahta Mataram, Sultan Agung sebenarnya bukanlah raja Mataram ke-3, melainkan yang ke-4. Kenapa begitu? Sebab, menurut sejarahnya, Panembahan Hanyakrawati udah berjanji untuk mewariskan tahtanya kepada putera berasal dari istri pertama, yakni Raden Mas Martapura/Raden Mas Wuryah. Janji itu diucapkan sebelum akan dirinya di angkat jadi raja untuk mengambil alih ayahnya Panembahan Senopati di Mataram.

Namun, mengapa justru Sultan Agung yang kemudian diangkat jadi raja Mataram selanjutnya? Terkait perihal ini, tersedia sebagian alasan mendasar mengapa Sultan Agung yang memegang kekuasaan Mataram dan bukan Raden Mas Martapura. Beberapa alasan itu dapat dibahas dibawah ini;
Janji untuk menjadikan Raden Mas Martapura dibuat sebelum akan Panembahan Hanyakrawati naik tahta jadi raja kerajaan Mataram.
Istri pertama Panembahan Hanyakrawati dinikahi sebelum akan Hanyakrawati naik tahta.
Raden Mas Martapura belum lahir dikala Sultan Agung lahir. Itu artinya, dikala jadi raja Mataram kedua, Panembahan Hanyakrawati udah miliki putera Raden Mas jetmika/Sultan Agung. Raden Mas Martapura lahir saat Panembahan Hanyakrawati udah berada di atas tahta Mataram, yang berarti putra yang lahir berasal dari seorang raja dapat jadi putra mahkota (penganti tahta). Sedangkan Raden Mas Jetmika udah lahir sebelum akan Panembahan Hanyakrawati jadi raja, bersama demikian standing Raden Mas Jetmika yakni sebagai seorang pangeran saja. Dalam perihal ini nampaknya Raden Mas Jetmika merebut tahta Martapura dan sebabkan dirinya berada di tahta Mataram. Selain itu latar belakang dinasti Mataram berasal berasal dari petani, agar Raden Mas Jetmika merasa bahwa sebagai sesama anak raja miliki hak yang serupa dapat tahta tersebut. Jadi standing Raden Mas Martapura yang sebagai putera mahkota bisa berpindah ke Raden Mas Jetmika. Pada intinya Raden Jetmika miliki kesempatan untuk jadi raja Mataram di dalam keadaan pergantian tahta.
Adanya ramalan Panembahan Bayat, penasihat spiritual keraton yang menunjukkan bahwa Raden Mas Jetmika dapat mempunyai kejayaan kerajaan Mataram bersama menguasai Pulau Jawa. Karena ramalan tersebut maka Panembahan Hanyakrawati mewasiatkan agar yang mengantikannya sebagai raja dikala meninggal adalah Raden Mas Jetmika/Sultan Agung.

Demikian alasan yang lumayan logis tentang pengangkatan Sultan Agung. Namun walau alasan itu lumayan logis di pihak istri pertamanya Panembahan Hanyakrawati, yakni Ratu Tulung Ayu ,merasa keberatan atas perihal itu. Sebab, Ratu Tulung Ayu merasa puteranya yang berhak atas tahta Mataram, bukan Sultan Agung. Dengan begitu secara otomatis Sultan Agung memperoleh penentang berasal dari pihak Ponorogo, kediaman Raden Mas Martapura.

Untuk mengantisipasi terjadinya perang saudara nampaknya maka Sultan Agung miliki solusi yang sebabkan kedua belah pihak menerima bahwa Sultan Agung berada di atas tahta Mataram. Salah satu solusinya yakni bersama mengangkat Raden Mas Martapura sebagai raja sementara, yang kemudian dilanjutkan bersama pengangkatan Sultan Agung. Solusi ini nampaknya berhasil, dan bersama begitu janji Panembahan Hanyakrawati bisa ditepati. Solusi tersebut sebabkan Mataram dipimpin oleh raja yang cocok bersama ramalan Panembahan Bayat. Selain itu untuk lebih logisnya lagi, sebenarnya tersedia mungkin bahwa terhitung di dalam wasiat yang bersifat ramalan tersebut adalah merupakan konsep Sultan Agung yang manfaatkan Panembahan Bayat, yang sengaja memaklumkan bahwa kenaikan tahta tersebut, merupakan testamen politik peninggalan Panembahan Hanyakrawati, bersama mengungkapkan bahwa Sultan Agung dapat mempunyai kejayaan kerajaan Mataram. Dalam pengangkatannya Sultan Agung manfaatkan upacara tantangan, di dalam pengangkatan oleh sesepuh Mataram, diumumkan bahwa siapa yang hendak menentang putusan tersebut, hendaklah maju sekarang juga, untuk menghadapi Sultan Agung. Setelah disampaikan perihal itu tidak tersedia yang berani maju, dan pada selanjutnya seluruh menyetujuinya. Dengan begitu pelantikan atau pengangkatan Sultan Agung udah sah.

Demikianlah ulasan berkenaan Pengangkatan Sultan Agung Menjadi Raja Mataram yang bisa Situs Pelajaran Oke sampaikan pada kesempatan ini, walau lumayan mencurigakan di dalam pengangkatan Sultan Agung dan mesti digali lagi. Namun disamping itu banyak sisi-sisi baik berasal dari Sultan Agung yang patut di contoh, yakni usaha-usaha Sultan Agung di dalam mewujudkan kemaharajaan Islam di Pulau Jawa bersama tekat yang membara, dan miliki jiwa kepimpinan serta melakukan tanggung jawab sebagai seorang raja. Semoga bermanfaat ulasan tersebut, dan jadilah sejarawan yang kritis di dalam menyikapi sejarah. Kurang lebihnya mohon maaf, sekian dan terimakasih udah menyempatkan membaca ulasan yang udah dipaparkan di atas.

Baca Juga :