Category Archives: Pendidikan

Pendidikan

Meningkatkan Pemahaman Mengenai Pentingnya Sarapan Bagi Siswa

Meningkatkan Pemahaman Mengenai Pentingnya Sarapan Bagi Siswa – Konflik gizi anak sekolah di Indonesia masih memerlukan perhatian menurut aneka macam pihak.

Anak sekolah membutuhkan energi yg akbar untuk masa pertumbuhan & aktivitas sehari-hari.

Oleh karenanya, mereka memerlukan asupan nutrisi yang sempurna untuk membantu masa pertumbuhan serta memaksimalkan proses pembelajaran.

Melihat dalam https://www.bukuinggris.co.id status gizi anak Indonesia, Mondelez International melalui acara Joy Schools berkomitmen buat memberdayakan anak sekolah buat merogoh langkah-langkah positif dalam menjaga kesejahteraan mereka.

“Dalam kurun waktu dua tahun, program Joy Schools sudah sukses menaikkan pemahaman para anak didik SDN Bangka 03 Jakarta terhadap pentingnya sarapan sebanyak 21 % apabila dibandingkan tahun kemudian,” istilah Khrisma Fitriasari, Head of Corporate and Government Affairs Mondelez Indonesia di Jakarta, Jumat (14/9/2018).

Dikatakannya, Joy Schools menjadi acara kemitraan komunitas berfokus dalam 3 area yakni edukasi nutrisi yang mengajarkan norma sarapan pagi dengan menaruh makanan tambahan bergizi tiga kali dalam seminggu.

Kedua, akses pada makanan sehat menggunakan cara mengajak para siswa buat berkebun dan menanam tanaman segar di halaman sekolah sebagai akibatnya para siswa sanggup mendapatkan manfaat berdasarkan berkebun.

“Ketiga merupakan aktivitas fisik yg mempromosikan majemuk permainan kreatif melalui banyak sekali kreasi atau donasi indera-indera olah raga,” ucapnya.

Program Joy Schools bekerja sama dengan Yayasan Emmanuel & berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Kesehatan tingkat propinsi DKI Jakarta.

Program berkelanjutan dari Mondelez International ini sudah bermitra menggunakan 5 sekolah pada tiga lokasi, yaitu Jakarta (Sekolah Dasar Negeri Bangka 03, Sekolah Dasar Negeri Bangka 07, dan SDN Pancoran 08), Bandung (SDN Cigugur Tengah), & Cikarang (Sekolah Dasar Negeri Wangun Harja 02).

Di Indonesia, program Joy Schools telah melibatkan 247 karyawan menjadi relawan dengan total kegiatan acara mencapai 1.011 jam.

Selain pada Indonesia, acara Joy Schools sudah diimplementasikan pada Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam serta memberikan efek positif pada 11.500 siswa sekolah.

Terinspirasi berdasarkan acara Joy Schools, kali ini KRAFT turut berpartisipasi melalui “KRAFT Berbagi Kreasi”, sebuah aktifitas digital sang KRAFT yang mengonversi setiap resep yg diunggah sebagai 5 butir buku.

Sekitar 1.200 buku akan disumbangkan buat anak sekolah dalam acara Joy Schools.

“Kami berharap acara Joy School mampu mendapat respon yg baik serta menaruh pengaruh positif terhadap peningkatan norma hayati sehat & status gizi anak sekolah di Indonesia. Di masa mendatang kami optimis buat keberlanjutan acara dan bisa bermitra dengan sekolah pada daerah lainnya pada Indonesia,” istilah Khrisma.

baca juga: Meningkatkan Daya Saing Global Melalui Budaya Penelitian di SMA

Meningkatkan Daya Saing Global Melalui Budaya Penelitian di SMA

Meningkatkan Daya Saing Global Melalui Budaya Penelitian di SMA – Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) telah dibuka oleh Purwadi Sutanto, Direktur Direktorat Pembinaan SMA dan berlangsung tanggal 15-20 Oktober 2018 di kota Semarang, Jawa Tengah.

Tahun ini OPSI 2018 mengangkat tema ”Meneliti Itu Seru” dan diikuti 275 SMA dan fifty five Madrasah Aliyah dari 30 provinsi. Dari 1.593 notion penelitian tersaring sebanyak 900 naskah laporan penelitian di tahap penilaian naskah dan kemudian menjadi a hundred and five naskah terbaik dari 199 siswa di babak final.

Bidang lomba pada OPSI tahun 2018 dikelompokkan menjadi 3 kategori bidang penelitain, yaitu:

Bidang Matematika, Sains, dan Teknologi (Math, Science, and Technology)
Bidang Fisika Terapan dan Rekayasa (Applied Physics and Engineering)
Bidang lmu Sosial dan Humaniora (Social Sciences and Humanities)

Menciptakan daya saing berbasis iptek

OPSI merupakan salah satu agenda dari Kemendikbud yang secara konsisten diselenggarakan bahkan sejak tahun 1977 ketika bernama Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR).

Dalam https://www.sekolahan.co.id  6 tahun terakhir ini OPSI telah berafiliasi dengan beberapa ajang kompetisi penelitian bereputasi sehingga para pemenang dalam ajang ini akan dikirim dalam ajang penelitian tingkat internasional.

“OPSI semakin memiliki nilai strategis sebagai salah satu wahana meningkatkan mutu pembelajaran dan pendidikan kita. Kita dituntut untuk meningkatkan daya saing ekonomi global yang lebih menekankan pada kreatifitas dan inovasi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi,” jelas Direktur Direktorat Pembinaan SMA Purwadi Sutanto.

Melahirkan inovator dan wirausahawan

Purwadi menambahkan, dalam konteks daya saing worldwide, pendidikan dasar dan pendidikan menengah serta pendidikan vokasi bertanggung jawab menumbuhkan daya inovasi dan kreasi untuk menjamin lahirnya para innovator dan entrepreneur.

Untuk itu sekolah diharapkan menjadi tempat untuk menumbuhkan dan memperkuat potensi inovasi dan daya saing melalui STEAM (Science, Technology, Engineering, Art and Mathematics), baik melalui intrakurikuler maupun ekstrakurikuler.

“Yang tidak kalah pentingnya adalah memikirkan tindak lanjut pembinaan dan penghargaan kepada siswa berprestasi dan karyanya. Penghargaan dan perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual dan paten karya mereka juga harus dibina secara serius,” tegas Purwadi.

Budaya penelitian jadi menyenangkan

Hal senada disampaikan Juandanilsyah Kasubdit Peserta Didik, “OPSI ingin mengubah pandangan umum siswa terhadap penelitian yang dianggap serius, sulit dan membosankan.”

Juanda berharap melalui ajang OPSI ini akan dapat menumbuhkan minat penelitian siswa. “OPSI ingin memberikan siswa pengalaman meneliti dengan cara menyenangkan, sehingga minat meneliti terus meningkat dan dapat ditularkan pada teman dan lingkungannya,” tambahnya.

Dalam kegiatan ini juga diluncurkan secara resmi buku “Meneliti Itu Seru” yang disusun oleh pembina OPSI dan diterbitkan Direktorat Pembinaan SMA, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendikbud.

Karya buku “Meneliti Itu Seru” dimaksudkan sebagai wujud nyata untuk mencapai tujuan OPSI dan juga untuk memberikan panduan penelitian bagi peneliti muda.

baca juga: Efektifkah Menggunakan Hand Sanitizer untuk Membersihkan Tangan?

Apa yang Dimaksud dengan PTK dan Apa Ciri-cirinya ?

Apa yang Dimaksud dengan PTK dan Apa Ciri-cirinya ?

Apa yang Dimaksud dengan PTK

Apa yang Dimaksud dengan PTK

Pendahuluan

Anda adalah guru yang sudah banyak jam terbangnya, bukan? Pasti Anda punya banyak pengalaman, baik  manis maupun pahit, dalam mengajar. Pengalaman manis dapat Anda rasakan ketika siswa-siswa Anda berhasil meraih prestasi, yang sebagian merupakan kontribusi Anda. Dan, Anda pasti menginginkan siswa-siswa Anda selalu berhasil meraih prestasi terbaik. Namun, mungkin keinginan Anda yang mulia tersebut lebih sering tidak tercapai karena berbagai alasan. Misalnya, mungkin Anda sering menemukan siswa-siswa tidak bersemangat, kurang termotivasi, kurang percaya diri, kurang disiplin, kurang bertanggung jawab dsb. Pasti Anda sudah melakukan upaya untuk mengatasinya, tetapi mungkin hasilnya masih jauh dari yang Anda inginkan.

Dan Anda masih ingin mengatasi masalah-masalah yang Anda temukan di kelas, bukan? Mengapa tidak mencoba mengatasinya lewat suatu kegiatan penelitian tindakan?  Mendengar kata ’penelitian’ mungkin Anda ingat pengalaman pahit ketika dulu meneliti untuk skripsi Anda karena harus mengembangkan instrumen yang berkali-kali direvisi atas saran dosen pembimbing, harus minta ijin ke sana ke sini, harus terjun ke lapangan menemui responden, yang tidak selalu menyambut dengan ramah kedatangan Anda, harus  kecewa karena angket tidak semua dikembalikan, harus menganalisis data dan seirng tersandung masalah statistik, dan setelah analisis selesai, harus kecewa karena hasilnya tidak selalu siap dipraktikkan di dunia nyata.  dsb. Singkatnya, kegiatan penelitian tidak mudah karena pertanggungjawaban teoretisnya cukup berat.


Anda tidak perlu mengalami itu semua ketika Anda melakukan penelitian tindakan. Mengapa? Karena jenis penelitian ini memang berbeda dengan jenis penelitian lain. Kalau jenis penelitian lain layaknya dilakukan oleh para ilmuwan di kampus atau lembaga penelitian, penelitian tindakan layaknya dilakukan oleh para praktisi, termasuk Anda sebagai guru. Kalau jenis penelitian lainnya untuk mengembangkan teori, penelitian tindakan ditujukan untuk meningkatkan praktik lapangan. Jadi penelitian tindakan adalah jenis penelitian yang cocok untuk para praktisi, termasuk guru.

Mari kita bicarakan hal ikhwal tentang penelitian tindakan. Kalau Anda pernah mempelajarinya, pembicaraan ini berfungsi untuk menyegarkan kembali atau memperkaya apa yang telah Anda ketahui. Kalau Anda belum tahu banyak, lewat pembicaraan ini Anda akan mengenalnya, memahaminya, dan akhirnya berminat untuk melaksanakannya, untuk mencapai cita-cita Anda yang mulia, yaitu meningkatkan keberhasilan mendidik, mengajar dan melatih murid-murid Anda, yang akan memberikan sumbangan yang signifikan pada peningkatkan kualitas pendidikan nasional. Seperti tercantum  dalama UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas, Pasal 3, pendidikan nasional befungsi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, yang merupakan salah satu tujuan kemerdekaan bangsa kita, seperti dinyatakan pada alinea keempat Pembukaan UUD 1945. Oleh sebab itu, upaya Anda untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas merupakan amalan mulia karena memberikan kontribusi dalam mengisi kemerdekaan yang telah direbut lewat pengorbanan yang tidak sedikit.


Mari kita menyamakan pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan penelitian tindakan kelas (PTK).

Apa yang Dimaksud dengan PTK dan Apa Ciri-cirinya?

Karena penelitian tindakan cocok untuk para praktisi yang bergelut dengan dunia nyata, maka ia cocok untuk Anda sebagai guru. Anda mungkin heran kenapa istilah ’penelitian’ yang biasanya berkenaan dengan teori sekarang dijodohkan dengan istilah ’tindakan’. Keheranan Anda tidak berlebihan karena memang jenis penelitian ini tergolong muda dibandingkan dengan penelitian tradisional yang telah ratusan tahun dikembangkan. Uraian beberapa butir di bawah ini akan dapat membantu Anda dalam memahami apa yang dimaksud dengan penelitian tindakan (Silakan baca Burns, 1999: 30; Kemmis & McTaggrt, 1982: 5; Reason & Bradbury, 2001: 1).

Penelitian tindakan merupakan intervensi  praktik dunia nyata yang ditujukan untuk meningkatkan situasi praktis. Tentu penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru ditujukan untuk meningkatkan situasi pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya dan ia disebut ’penelitian tindakan kelas’ atau PTK.


Apakah kegiatan penelitian tindakan tidak akan mengganggu proses pembelajaran? Sama sekali tidak, karena justru ia dilakukan dalam proses pembelajaran yang alami di kelas sesuai dengan jadwal. Kalau begitu, apakah penelitian tindakan kelas (PTK) bersifat situasional, kontekstual, berskala kecil, terlokalisasi, dan secara langsung gayut (relevan) dengan situasi nyata dalam dunia kerja? Benar. Apakah berarti bahwa subyek dalam PTK termasuk murid-murid Anda? Benar. Lalu bagaimana cara untuk menjaga kualitas PTK? Apakah boleh bekerjasama dengan guru lain? Benar. Anda bisa melibatkan guru lain yang mengajar bidang pelajaran yang sama, yang akan berfungsi sebagai kolaborator Anda.

Karena situasi kelas sangat dinamis dalam konteks kehidupan sekolah yang dinamis pula, apakah peneliti perlu menyesuaikan diri dengan dinamika yang ada? Benar. Anda memang dituntut untuk adaptif dan fleksibel agar kegiatan PTK Anda selaras dengan situasi yang ada, tetapi tetap mampu menjaga agar proses mengarah pada tercapainya perbaikan. Hal ini menuntut komitmen untuk berpartisipasi dan kerjasama dari semua orang yang terlibat, yang mampu melakukan evaluasi diri secara kontinyu sehingga perbaikan demi perbaikan, betapapun kecilnya, dapat diraih.  Kalau begitu, apakah diperlukan kerangka kerja agar masalah praktis dapat dipecahkan dalam situasi nyata? Benar. Tindakan dilaksanakan secara terencana, hasilnya direkam dan dianalisis dari waktu ke waktu untuk dijadikan landasan dalam melakukan modifikasi.


Apa syarat-syarat agar PTK Anda berhasil?

 

Untuk dapat meraih perubahan yang diinginkan melalui PTK, apakah ada syarat-syarat lain? Betul, silakan baca McNiff, Lomax dan Whitehead (2003). Pertama, Anda dan kolaborator serta murid-murid harus punya tekad dan komitmen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan komitmen itu terwujud dalam keterlibatan mereka dalam seluruh kegiatan PTK secara proporsional. Andil itu mungkin terwujud jika ada maksud yang jelas dalam melakukan intervensi tersebut. Kedua, Anda dan kolaborator menjadi pusat dari penelitian sehingga dituntut untuk bertanggung jawab atas peningkatan yang akan dicapai.

 

Ketiga, tindakan yang Anda lakukan hendaknya didasarkan pada pengetahun, baik pengetahuan konseptual dari tinjauan pustaka teoretis, maupun pengetahuan teknis prosedural, yang diperoleh lewat refleksi kritis dan dipadukan dengan pengalaman orang lain dari tinjauan pustaka hasil penelitian tindakan), berdasarkan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya. Refleksi kritis dapat dilakukan dengan baik jika didukung oleh keterbukaan dan kejujuran terhadap diri sendiri, khususnya kejujuran mengakui kelemahan/kekurangan diri.  Keempat, tindakan tersebut dilakukan atas dasar komitmen kuat dan keyakinan bahwa situasi dapat diubah ke arah perbaikan.

 

Kelima, penelitian tindakan melibatkan pengajuan pertanyaan agar dapat melakukan perubahan melalui tindakan yang disadari dalam konteks yang ada dengan seluruh kerumitannya. Keenam, Anda mesti mamantau secara sistematik agar Anda mengetahui dengan mudah arah dan jenis perbaikan, yang semuanya berkenaan dengan pemahaman yang lebih baik terkadap praktik dan pemahaman tentang bagaimana perbaikan ini telah terjadi. Kutujuh, Anda perlu membuat deskripsi otentik objektif (bukan penjelasan) tentang tindakan yang dilaksanakan dalam riwayat faktual, perekaman video and audio,  riwayat subjektif yang diambil dari buku harian dan refleksi dan observasi pribadi, dan riwayat fiksional.


Kedelapan, Anda perlu memberi penjelasan tentang tindakan berdasarkan deskripsi autentik tersebut di atas, yang mencakup (1) identifikasi makna-makna yang mungkin diperoleh (dibantu) wawasan teoretik yang relevan, pengaitan dengan penelitian lain (misalnya lewat tinjauan pustaka di mana kesetujuan dan ketidaksetujuan dengan pakar lain perlu dijelaskan), dan konstruksi model (dalam konteks praktik terkait) bersama penjelasannya; (2) mempermasalahkan deskripsi terkait, yaitu secara kritis mempertanyakan motif tindakan dan evaluasi terhadap hasilnya; dan (3) teorisasi, yang dilahirkan dengan memberikan penjelasan tentang apa yang dilakukan dengan cara tertentu. Kesembilan,Anda perlu menyajikan laporan hasil PTK dalam berbagai bentuk termasuk:

 

(1) tulisan tentang hasil refleksi-diri, dalam bentuk catatan harian dan dialog, yaitu percakapan dengan dirinya sendiri; (2) percakapan tertulis, yang dialogis, dengan gambaran jelas tentang proses percakapan tersebut; (3) narasi dan cerita; dan (4) bentuk visual seperti diagram, gambar, dan grafik. Kesepuluh, Anda perlu memvalidasi pernyataan Anda tentang keberhasilan tindakan Anda lewat pemeriksaan kritis dengan mencocokkan pernyataan dengan bukti (data mentah), baik dilakukan sendiri maupun bersama teman (validasi-diri), meminta teman sejawat untuk memeriksanya  dengan masukan dipakai untuk memperbaikinya (validasi sejawat), dan terakhir menyajikan hasil seminar dalam suatu seminar (validasi public). Perlu dipastikan bahwa temuan validasi selaras satu sama lain karena semuanya berdasarkan pemeriksaan terhadap penyataan dan data mentah. Jika ada perbedaan, pasti ada sesuatu yang masih harus dicermati kembali.


Apa yang dapat Dicapai lewat Penelitian Tindakan Kelas?

 

Pertanyaan ini dapat diubah menjadi, ”Kapan Anda secara tepat dapat melakukan PTK?” Jawabnya: Ketika Anda ingin meningkatkan kualitas pembelajaran yang menjadi tanggung jawab Anda dan sekaligus ingin melibatkan murid-murid Anda dalam proses pembelajaran (lihat Cohen dan Manion, 1980). Dengan kata lain, Anda ingin meningkatkan praktik pembelajaran, pemahaman Anda terhadap praktik tersebut, dan situasi pembelajaran kelas Anda (Grundy & Kemmis, 1982: 84). Dapat dikatakan bahwa tujuan utama PTK adalah untuk mengubah perilaku pengajaran Anda, perilaku murid-murid Anda di kelas, dan/atau mengubah kerangka kerja melaksanakan pembelajaran kelas Anda. Jadi, PTK lazimnya dimaksudkan untuk mengembangkan keterampilan atau pendekatan baru pembelajaran dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di ruang kelas.

PTK berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan pembelajaran kelas. Di ruangan kelas, PTK dapat berfungsi sebagai (Cohen & Manion, 1980: 211): (a) alat untuk mengatasi masalah-masalah yang didiagnosis dalam situasi pembelajaran di kelas; (b) alat pelatihan dalam-jabatan, membekali guru dengan keterampilan dan metode baru dan mendorong timbulnya kesadaran-diri, khususnya melalui pengajaran sejawat; (c) alat untuk memasukkan ke dalam sistem yang ada (secara alami)  pendekatan tambahan atau inovatif; (d) alat untuk meningkatkan komunikasi yang biasanya buruk antara guru dan peneliti; (e) alat untuk menyediakan alternatif bagi pendekatan yang subjektif, impresionistik terhadap pemecahan masalah kelas. Ada dua butir penting yang perlu disebut di sini. Pertama, hasil penelitian tindakan dipakai sendiri oleh penelitinya, dan tentu saja oleh orang lain yang menginginkannya. Kedua, penelitiannya terjadi di dalam situasi nyata yang pemecahan masalahnya segera diperlukan, dan hasil-hasilnya langsung diterapkan/dipraktikkan dalam situasi terkait. Ketiga, peneliti tindakan melakukan sendiri pengelolaan, penelitian, dan sekaligus pengembangan.


Pengertian Variabel dan Data

Pengertian Variabel dan Data

Variabel dan Data

Variabel dan Data

Variabel berasal dari kata “vary” dan “able” yang berarti “berubah” dan “dapat”. Jadi, secara harfiah variabel berarti dapat berubah, sehingga setiap variabel dapat diberi nilai dan nilai itu berubah-ubah. Nilai tersebut bisa kuntitatif (terukur dan atau terhitung, dapat dinyatakan dengan angka) juga bisa kualitatif (jumlah dan derajat atributnya yang dinyatakan dengan nilai mutu).

 

Variabel merupakan element penting dalam masalah penelitian. Dalam statistik, variabel didefinisikan sebagai konsep, kualitas, karakteristik, atribut, atau sifat-sifat dari suatu objek (orang, benda, tempat, dll) yang nilainya berbeda-beda antara satu objek dengan objek lainnya dan sudah ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya.  
Karakteristik adalah ciri tertentu pada obyek yang kita teliti, yang dapat membedakan objek tersebut dari objek lainnya, sedangkan objek yang karakteristiknya sedang kita amati dinamakan satuan pengamatan dan angka atau ketegori (nilai mutu) tertentu dari suatu objek yang kita amati dinamakan variate (nilai). Kumpulan nilai yang diperoleh dari hasil pengukuran atau penghitungan suatu variabel dinamakan dengan data.

Karakteristik yang dimiliki suatu pengamatan keadaannya berbeda-beda (berubah-ubah) atau memiliki gejala yang bervariasi dari satu satuan pengamatan ke satu satuan pengamatan lainnya, atau, untuk satuan pengamatan yang sama, karakteristiknya berubah menurut waktu atau tempat. Apabila karakteristik setiap satuan pengamatan semuanya sama, tidak beragam, maka bukan lagi merupakan variabel, melainkan  
konstanta.
Contoh:
Apabila Anda sedang mempelajari sekelompok anak-anak, anak-anak di sana baru sebuah konsep, bukan variabel.  Apabila Anda tertarik untuk mengukur tinggi badannya, berat, usia, menentukan jenis kelamin, dan sebagainya,  berarti Anda sudah berbicara tentang variabel, karena nilainya bisa beragam dari anak ke anak. Untuk kepentingan penelitian, sebuah konsep bisa diubah menjadi satu atau beberapa variabel.
Misalnya saja tentang konsep anak-anak tadi, di antara sekian karakteristik yang bisa diukur, Anda lebih tertarik untuk menimbang beratnya, maka:
  • Konsep: adalah properti/karakteristik dari Anak-anak
  • Karakteristik: karakteristik yang sedang Anda amati adalah berat anak.
  • Variabel: karena berat setiap anak bisa bervariasi, maka berat merupakan variabel.
  • Satuan pengamatan: satuan pengamatannya adalah masing-masing Anak (setiap individu), dan
  • Nilai (variate/data): berat yang terukur dari setiap anak dinamakan variate (nilai).

Contoh kasus lain misalnya, jika Anda sedang mempelajari sekelompok tanaman tomat (konsep), variabel-variabel berikut mungkin menjadi pertimbangan Anda: tinggi, lebar, jumlah daun, dan jumlah buah, dan berat tomat.   Contoh variabel lainnya adalah warna mata, IQ, tingkat pendidikan, status sosial, metode mengajar, jenis pupuk, jenis varietas, jenis obat, semuanya adalah variabel karena karakteristiknya berbeda-beda.
Karakteristik dari suatu variabel harus beragam atau berubah-ubah. Sebaliknya, jika karakteristik semuanya sama, maka satuan pengamatan tersebut bukan lagi variabel, melainkan konstanta. Konstanta adalah angka tertentu yang nilainya selalu tetap pada semua kondisi, misalnya kecepatan cahaya, gaya gravitasi, dsb. Namun demikian, suatu variabel bisa saja menjadi konstanta apabila nilainya di buat sama. Misalnya, jenis kelamin adalah variabel, namun apabila satuan pengamatan yang kita amati hanya dibatasi pada jenis kelamin perempuan saja, maka jenis kelamin berubah menjadi konstanta, karena nilainya sama pada semua kondisi.

Definisi Operasional

Definisi operasional adalah aspek penelitian yang memberikan informasi atau petunjuk kepada kita tentang bagaimana caranya mengukur suatu variabel.  Informasi ilmiah yang dijelaskan dalam definisi operasional sangat membantu peneliti lain yang ingin melakukan penelitian dengan menggunakan variabel yang sama, karena berdasarkan informasi itu, ia akan mengetahui bagaimana caranya melakukan pengukuran terhadap variabel yang dibangun berdasarkan konsep yang sama. Dengan demikian, ia dapat menentukan apakah tetap menggunakan prosedur pengukuran yang sama atau diperlukan pengukuran yang baru.
Konsep-konsep yang sudah diterjemahkan menjadi satuan yang sudah kita anggap lebih operasional (variabel dan konstruk), biasanya belum sepenuhnya siap untuk diukur. Karena variabel dan konstruk tersebut memiliki alternatif dimensi yang bisa diukur dengan cara berlainan. Contoh tentang variabel usia/umur. Cara pengukuran variabel tersebut bisa saja berbeda, pertama mungkin Anda mengukur usianya langsung secara numerik, misalnya 4, 12.5, 18, 31 tahun dst, atau bisa saja Anda mengukur berdasarkan kategori, misalnya Balita (0-5 th), Anak-anak (5 – 14), Remaja (14 – 24), Dewasa (25 – 54), Tua (55-64), dan Lansia (>65) tahun.

Pembagian Variabel

Variabel bisa dibagi berdasarkan: Perananan, cara pengukuran, dan bisa tidaknya diukur secara langsung.

Berdasarkan Fungsi/Peranannya dalam penelitian

Dalam penelitian kuantitatif, variabel yang telah didefinisikan secara operasional, biasanya dibagi menjadi variabel bebas (independent: aktif atau atribut), variabel terikat (dependent), dan variabel asing/ekstra/tambahan (extraneous) yang bukan merupakan subjek dari penelitian yang sedang dipelajari dan berada di luar pengamatan/kajian utama penelitian.  Pemahaman tentang variabel extraneous ini sangat penting, karena variabel ini bisa saja bersaing dengan variabel independent dan bisa mengacaukan/membingungkan dalam menjelaskan pola hubungan antara variabel independent dan variabel dependent. Oleh karena itu, dalam menentukan hubungan sebab akibat, kita seharusnya mengidentifikasi ada tidaknya variabel extraneous yang terbukti dapat mempengaruhi variabel dependent.  Apabila ada, maka variabel ekstraneous tersebut disebut dengan variabel confounding. Variabel Confounding sebaiknya di kontrol atau dimasukkan ke dalam model.  Apabila tidak, kita tidak akan yakin bahwa perubahan variabel dependent tersebut hanya disebabkan oleh variabel independent saja.
Untuk memahami variabel-variabel dalam penelitian, perhatikan contoh kasus berikut:
Apabila kita ingin melihat pengaruh pemberian dosis pupuk yang berbeda terhadap pertumbuhan tanaman, maka:
Variabel Dependent => Pertumbuhan tanaman
Variabel Independent => Dosis Pupuk
Variabel Extraneous => Varietas/Kultivar
Jenis Pupuk
Tingkat Kesuburan Tanah
Jenis Tanah
Ukuran Petak/Pot
Penyinaran Matahari
Temperatur
Kelembaban
Kandungan Air Tanah
Serangan Hama/Penyakit
dsb..

Variabel Independent (IV).

Variable independent adalah variabel yang merupakan penyebab atau yang mempengaruhi variabel dependent (DV) atau yang menyebabkan terjadinya variasi bagi variabel dependent (DV). Apabila variabel IV berubah, maka variabel DV juga akan berubah. Variable independent merupakan variable yang faktornya diukur, dimanipulasi, atau dipilih oleh peneliti untuk menentukan hubungannya dengan suatu gejala yang diobservasi. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, variabel independent disebut juga sebagai peubah bebas dan sering juga disebut dengan variable bebas, stimulus, faktor, treatment, predictor, input, atau antecedent.
Sebagai Contoh:
Pengaruh metode mengajar terhadap Prestasi siswa. =>Variabel independent adalah Metode Mengajar.
Pengaruh Pupuk Organik terhadap hasil tanaman tomat. =>Variabel independent adalah Pupuk Organik.
Metode mengajar dan pupuk organik bisa dimanipulasi atau ditentukan oleh peneliti. Tidak semua variabel independent bisa dimanipulasi, misalnya attribute yang sudah melekat pada suatu objek. Contohnya: Jenis Kelamin, Usia, Kemiringan lereng, ketinggian tempat, dsb.

Variabel Dependent (DV).

Variable dependent merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat dari variabel independent.  Variabel dependent, dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai peubah tak bebas, variabel terikat, tergantung, respons, variabel output, criteria, atau konsekuen.
Variabel ini merupakan fokus utama dari penelitian.  Variabel inilah yang nilainya diamati dan diukur untuk menentukan pengaruh dari variabel independent.  Nilainya bisa beragam dan tergantung pada besarnya perubahan variabel independent.  Artinya, setiap terjadi perubahan (penambahan/pengurangan) sekian kali satuan variabel independen, diharapkan akan menyebakan variabel dependen berubah (naik/turun) sekian satuan juga. Secara matematis, hubungan tersebut mungkin bisa digambarkan dalam bentuk persamaan Y = a + bX. Misalnya, Y = Hasil (ton) dan X = pupuk Urea (kg), maka setiap pupuk urea dinaikkan/atau diturunkan sebesar b (kg), maka hasil naik/turun sebesar b (ton) dan apabila tidak di berikan pupuk (b=0), maka hasilnya adalah sebesar a (ton).   Pola hubungan antara kedua variabel tersebut bisanya di kaji dalam penelitian asosiasi atau prediksi, biasanya diuji dengan menggunakan Analisis Regresi.  Berbeda dengan contoh pengaruh metode mengajar terhadap keberhasilan siswa, skala pengukuran variabel independentnya bukan merupakan variabel interval atau rasio, sehingga untuk melihat pengaruh dari variabel independet terhadap variabel dependent lebih tepat dengan menggunakan Analisis Varians (ANOVA).  Dengan Anova tersebut kita bisa menentukan ada tidaknya perbedaan diantara metode mengajar, dan apabila ada, kita bisa menentukan metode mengajar yang lebih baik atau terbaik.

Variabel Moderator

Variabel moderator merupakan variabel khusus dari variabel independent. Dalam analisis hubungan yang menggunakan minimal dua variabel, yakni satu variabel dependen dan satu atau beberapa variabel independen, adakalanya hubungan di antara kedua variabel tersebut dipengaruhi oleh variabel ketiga, yaitu faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model statistik yang kita gunakan. Variabel tersebut dinamakan dengan variabel moderator.  

Sumber : Ngelag.Com

Penjelasan TAKSONOMI BLOOM

Penjelasan TAKSONOMI BLOOM

Penjelasan TAKSONOMI BLOOM

Penjelasan TAKSONOMI BLOOM

Taksonomi Bloom merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Taksonomi ini pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah, kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hirarkinya. Tujuan pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu:

  1. Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
  2. Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
  3. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.

Beberapa istilah lain yang juga menggambarkan hal yang sama dengan ketiga domain tersebut di antaranya seperti yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantoro, yaitu: cipta, rasa, dan karsa. Selain itu, juga dikenal istilah: penalaran, penghayatan, dan pengamalan.

Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah, seperti misalnya dalam ranah kognitif, untuk mencapai “pemahaman” yang berada di tingkatan kedua juga diperlukan “pengetahuan” yang ada pada tingkatan pertama.

  1. Domain Kognitif

Bloom membagi domain kognisi ke dalam 6 tingkatan. Domain ini terdiri dari dua bagian: Bagian pertama berupa adalah Pengetahuan (kategori 1) dan bagian kedua berupa Kemampuan dan Keterampilan Intelektual (kategori 2-6)

1) Pengetahuan (Knowledge)

Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dsb. Kata kerja yang digunakan adalah Mengidentifikasi, menyebutkan, memberi nama pada, menyusun daftar, menggaris bawahi, menjodohkan, memilih, memberikan definisi. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan mengenai definisi iklim dapat menguaraikannya dengan baik.

Contoh soal: Apakah pengertian iklim…..!

2) Pemahaman (Comprehension)

Dikenali dari kemampuan untuk membaca dan memahami gambaran, laporan, tabel, diagram, arahan, peraturan, dsb. Sebagai contoh, orang di level ini bisa memahami apa yg diuraikan dalam fish bone diagram, pareto chart, dsb. Kata kerja yang digunakan, Menjelaskan, menguraiakan, merumuskan, merangkum, mengubah, memberikan contoh, tentang menyadur, meramalkan,memperkirakan, menerangkan.

Contoh soal: jelaskan siklus hidrologi dibawah ini

3) Aplikasi (Application)

Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dsb di dalam kondisi kerja. Sebagai contoh, ketika diberi informasi tentang penyebab meningkatnya reject di produksi, seseorang yg berada di tingkat aplikasi akan mampu merangkum dan menggambarkan penyebab turunnya kualitas dalam bentuk fish bone diagram atau pareto chart. Kata kerja yang digunakan adalah, Memperhitungkan, membuktikan, menghasilkan, menunjukan, melengkapi, menyediakan, menyesuaikan, menemukan.

Contoh soal : Jika jarak A-B adalah 5cm pada peta dengan skala 1:25000 hitung jRk A-B sebenarnya…..!

4) Analisis (Analysis)

Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisa informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yg rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah-milah penyebab meningkatnya reject, membanding-bandingkan tingkat keparahan dari setiap penyebab, dan menggolongkan setiap penyebab ke dalam tingkat keparahan yg ditimbulkan. Kta kerja yang digunakan adalah, Memisahkan, menerima, menyisihkan, menghubungkan, memilih, membandingkan, mempertentangkan, membagi, membuat diagram/skema, menunjukan hubungan antara.


Contoh soal : Apakah kaitan antara perubahan iklim dengan terjadinya peristiwa Elnino dan La Nina?

5) Sintesis (Synthesis)

Satu tingkat di atas analisa, seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yg dibutuhkan. Kata kerja yang digunakan adalah mengkategorikan, mengkombinasikan, mengarang,menciptakan,mendesain, mengatur, menyusun kembali, merangkaikan, menghubungkan, menyimpulkan, merancangkan, membuat pola.

Contoh soal: Bagaimanakah perkembangan kota Solo jika dilihat hierarki kotanya.

6) Evaluasi (Evaluation)

Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dsb dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yg ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya. Sebagai contoh, Siswa diminta mengevaluasi apakah satu model dapat diterapkan dalam setiap aspek. Kata kerja yang digunakan adalah, memperhitungkan, membuktikan, menghasilkan, menunjukan, melengkapi, menyediakan, menyesuaikan, menemukan.

Contoh soal: Jelaskan apakah teori perkembangan kota menurut Ernest Burges berlaku untuk Kota Solo….!

  1. Domain Afektif

Pembagian domain ini disusun Bloom bersama dengan David Krathwol.

1) Penerimaan (Receiving/Attending)

Kesediaan untuk menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya. Dalam pengajaran bentuknya berupa mendapatkan perhatian, mempertahankannya, dan mengarahkannya.

2) Tanggapan (Responding)

Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan tanggapan.

3) Penghargaan (Valuing)

Berkaitan dengan harga atau nilai yang diterapkan pada suatu objek, fenomena, atau tingkah laku. Penilaian berdasar pada internalisasi dari serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan ke dalam tingkah laku.

4) Pengorganisasian (Organization)

Memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten.

5) Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Characterization by a Value or Value Complex)

Memiliki sistem nilai yang mengendalikan tingkah-lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya-hidupnya.

  1. Domain Psikomotor

Rincian dalam domain ini tidak dibuat oleh Bloom, tapi oleh ahli lain berdasarkan domain yang dibuat Bloom.

1) Persepsi (Perception)

Penggunaan alat indera untuk menjadi pegangan dalam membantu gerakan.

2) Kesiapan (Set)

Kesiapan fisik, mental, dan emosional untuk melakukan gerakan.

3) Guided Response (Respon Terpimpin)

Tahap awal dalam mempelajari keterampilan yang kompleks, termasuk di dalamnya imitasi dan gerakan coba-coba.

4) Mekanisme (Mechanism)

Membiasakan gerakan-gerakan yang telah dipelajari sehingga tampil dengan meyakinkan dan cakap.

5) Repon Tampak yang Kompleks (Complex Overt Response)

Gerakan motoris yang terampil yang di dalamnya terdiri dari pola-pola gerakan yang kompleks.

6) Penyesuaian (Adaptation)

Keterampilan yang sudah berkembang sehingga dapat disesuaikan dalam berbagai situasi.

7) Penciptaan (Origination)

Membuat pola gerakan baru yang disesuaikan dengan situasi atau permasalahan tertentu.


Sumber : gurupendidikan.co.id

Inilah Macam-Macam Jenis Gangguan Makan Yang Dapat Menyerang Anda

Inilah Macam-Macam Jenis Gangguan Makan Yang Dapat Menyerang Anda

Baru-baru ini, kedua selebriti familiar yakni Ina Thomas dan Kendall Jenner diserbu oleh warganet dampak tampilan mereka yang paling kurus. Bahkan sejumlah ada yang hingga menyebut mereka mengidap gangguan santap anoreksia.

Gangguan santap secara sah diklasifikasikan sebagai gangguan mental oleh Manual Diagnosis dan Statistik Gangguan Mental (DSM). Kebanyakan gangguan santap yang lebih dikenal ialah anoreksia nervosa dan bulimia nervosa.

Terlepas dari permasalahan kedua seleb di atas, dengan sekian banyak  ekspose dari media bakal citra tubuh yang lebih ramping atau berotot, masalah gangguan santap ini terlihat meningkat. Mari kenali sejumlah jenis gangguan santap lainnya:

Gangguan berpesta makan

Gangguan berpesta santap atau binge eating disorder baru-baru ini dinamakan sebagai di antara gangguan makan. Dipercayai sebagai gangguan santap yang sangat umum diidap di Amerika Serikat, lazimnya gangguan ini dibuka saat remaja atau mula masa dewasa.

Gejala yang ditimbulkan serupa dengan bulimia, tetapi perbedaannya mereka tidak memberi batas kalori, berolahraga atau diet ekstrem, atau kelaziman memuntahkan pulang makanan mereka sebagai kompensasi sesudah berpesta makan.

Tanda-tanda gangguan ini merupakan: makan tidak sedikit secara cepat, diam-diam sampai sangat kenyang meski tidak lapar, merasa kehilangan kontrol ketika sedang berpesta makan, menikmati stres sebab rasa malu, jijik atau bersalah ketika memikirkan kelaziman berpesta makan.

Melihat kelaziman berpesta santap ini sudah tentu pengidapnya kegemukan atau obesitas. Sehingga mengakibatkan mereka berisiko tinggi terpapar komplikasi laksana penyakit jantung, stroke dan diabetes tipe 2.

Pica

Tak tidak sedikit dikenal, Pica ialah gangguan santap di mana pengidapnya mengidam hal-hal yang bukan makanan. Seperti es, kotoran, tanah, kapur, sabun, kertas, rambut, kain, wol, batu kerikil, deterjen atau kanji.

Pica bisa terjadi baik pada orang dewasa, anak dan remaja. Dan sangat sering ditemukan pada anak-anak, ibu hamil dan orang yang mempunyai disabilitas mental. Mereka paling berisiko keracunan, infeksi, luka usus dan kelemahan nutrisi, sampai kematian.

Namun, tradisi atau kebiasaan untuk memakan hal-hal yang bukan makanan tidak tergolong dalam gangguan santap ini. Di Indonesia pernah terjadi laksana kasus-kasus di mana anak-anak memakan kapur barus, obat nyamuk atau bahkan sabun.

Gangguan ruminasi

Gangguan santap ruminasi atau rumination disorder pun baru saja dikenali dalam DSM. Gangguan santap ini diperlihatkan dengan seseorang yang memuntahkan makanannya, kemudian menelan dan mengunyahnya lagi atau memuntahkannya kembali.

Umumnya gangguan ini terjadi sekitar 30 menit kesatu setelah santap dan dilaksanakan dengan sengaja. Gangguan ruminasi dapat terjadi pada siapa saja. Pada bayi, seringkali terlihat antara umur 3-12 bulan dan kadang hilang dengan sendirinya, namun andai terjadi pad anak-anak dan dewasa memerlukan terapi.

Jika ketika bayi tidak teratasi, maka bisa berdampak berkurang berat badan dan malnutrisi yang parah yang dapat berujung fatal. Orang dewasa dengan gangguan ini barangkali terlihat memberi batas jumlah makanan mereka, terutama ketika di depan umum, sehingga menciptakan mereka jadi terlalu kurus.

ARFID

Ganggun santap ARFID atau Avoidant or Restrictive Food Intake Disorder (gangguan batasan atau pemilihan makanan) ialah nama baru dari gangguan lama. ARFID menggantikan gangguan santap pada bayi atau anak-anak, yang seringkali menjadi diagnosis pada anak-anak di bawah tujuh tahun.

Pengidap gangguan ini seringkali disebabkan baik oleh hilangnya ketertarikan untuk santap atau ketidaksukaan atas bau, rasa, warna, tekstur atau temperatur tertentu. Dan lazimnya perilaku santap mereka mengganggu saat santap bersama-sama, misalnya.

Perlu disalin bahwa ARFID melebihi perilaku normal, contohnya ialah memilih-milih makanan (picky eater) pada balita atau asupan makanan yang tidak banyak pada orang dewasa.

Gangguan makan lainnya

Ada sejumlah gangguan santap lain yang paling jarang diketahui atau jarang terjadi, seperti:

  1. Gangguan muntah atau purging: pengidapnya punya kecenderungan memuntahkan pulang makanan mereka atau memakai obat pencahar serta olahraga berlebihan. Namun mereka tidak berpesta makanan, sehingga bertolak belakang dengan bulimia nervosa.
  2. Sindrom santap tengah malam: seringkali pengidapnya sering santap berlebihan sesudah terbangun di tengah malam.
  3. EDNOS (Eating disorder not otherwise specified) atau gangguan santap yang belum terspesifikasi, misalnya sejumlah kondisi yang memiliki sejumlah gejala yang serupa seperti gangguan santap namun tidak sesuai dengan katergori-kategorinya.

Salah satu EDNOS yang sedang viral baru-baru ini ialah orthorexia, yakni suatu perilaku di mana seseorang terobsesi dengan makanan sehat hingga titik mengganggu kehidupan keseharian mereka. Misalnya mengeliminasi sekelompok makanan sebab takut tidak sehat.

Baca Juga:

5 Metode Mengajarkan Anak Mengelola Emosi Mereka

5 Metode Mengajarkan Anak Mengelola Emosi Mereka

Pada mula tumbuh kembang, anak menjalin hubungan timbal balik dengan orang-orang yang mengasuhnya. Interaksi anak dengan orang terdekat memengaruhi optimalitas pertumbuhan sosial anak.

Meskipun lazimnya anak merasakan tahapan pertumbuhan emosi sama, kecepatan pertumbuhan emosi anak akan bertolak belakang satu dengan lain. Pengalaman belajar anak ialah salah satu yang memiliki akibat penting untuk perkembangan emosi anak.

Forum Sahabat Keluarga dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengucapkan ada 5 pekerjaan belajar yang menunjang pola pertumbuhan emosi anak:

1. Pembelajaran cara spontan

Anak mengerjakan proses belajar melewati teknik spontanitas. Mereka belajar mengekspresikan perasaan dan emosi yang dialami melalui proses spontan. Pada langkah ini, anak-anak tidak jarang menunjukkannya format emosi yang tidak terduga. Jangan kaget bilamana respon emosi yang diperlihatkan anak biasanya tidak cocok dengan yang diinginkan oleh orangtua. Misalnya, ketika kesatu kali anak umur bayi diserahkan mainan terompet, terdapat anak akan mengindikasikan ekspresi menangis ketimbang tertawa.

2. Pembelajaran melewati imitasi

Lingkungan family sangat memprovokasi perkembangan emosi anak. Anak-anak bakal meniru emosi dari yang dilihatnya di lingkungan sangat dekat, laksana keluarga. Saat orangtua mengindikasikan kebahagiannya melewati wajah tersenyum, anak pun akan memantulkan kebahagiaan yang sama.

3. Pembelajaran melewati tokoh idola

Ada masa tertentu anak tertarik dan kagum dengan figur tertentu dan ingin mempersamakan dirinya. Hal ini turut mengembangkan pola emosi pada diri anak. Orangtua dapat menggali tahu sosok atau figur yang dikagumi dan menyaksikan reaksi emosi anak.

Banyak figur yang hadir dan menjadi idola anak ketika ini. Meskipun begitu, orangtua mesti menolong memilah figur yang memang mempunyai norma dan karakter cocok di lingkungan anak. Misalnya di Indonesia, orangtua dapat mengisahkan tentang figur pahlawan yang mempunyai semangat besar dalam belajar. Misalnya https://www.pelajaran.id Ir. Soekarno yang mempunyai kecakapan pelbagai bahasa atau Mohammad Hatta yang gemar menyimak buku.

4. Pembelajaran melewati pengkondisian

Pada cara ini anak belajar dengan teknik asosiasi. Anak kecil masih kurang keterampilan dalam menalar dan tidak cukup mampu menilai empiris secara kritis. Emosi umur dini pun terbentuk dengan kebiasaan-kebiasaan yang terdapat di lingkungan anak.

Misalnya mengelompokkan anak dengan teman-teman lainnya. Anak bakal saling belajar dan secara tidak langsung akan mendapat  pemahaman melewati pengondisian tersebut.

5. Pembelajaran melewati latihan

Anak dapat mendapat  perkembangan emosi melewati pengawasan dan bimbingan. Anak bisa diajari teknik bereaksi yang bisa diterima dan menyenangkan. Dengan menyerahkan pengarahan, anak pun dapat mengondisikan emosinya.

Di sinilah orangtua dapat menyerahkan arahan dan pendampingan yang simpel dan tidak menjenuhkan. Misalnya orangtua dapat menyerahkan permainan yang mencantol pengendalian emosi, laksana bermain drama.

Anak-anak yang terampil dalam mengindikasikan emosi terhadap orang beda tentu didapatkan dari pengalamannya menyaksikan orang lain. Apa yang diperlihatkan anak ialah hasil yang diperoleh dari interaksinya sehari-hari.

Aktivitas bermain, belajar dan urusan lainnya memberikan desakan anak dalam mengelola emosinya. Anak-anak barang kali memang belum mengetahui apa yang dilakukannya. Sebab, dalam perkembangannya anak-anak masih membutuhkan cerminan yang dilakukannya. Di sinilah, orangtua menjadi cermin yang bakal memantulkan cerminan kepribadian anak nanti.

Apa yang dilaksanakan orangtua bakal menjadi empiris berharga untuk diri anak. Sehingga ia bakal menyimpan memori tersebut dan bakal memanggilnya kembali ketika ia berkeinginan melakukan urusan yang sama.

Anak-anak dengan keterampilan pengelolaan emosi bakal dapat gampang menerima orang lain. Anak-anak bakal berkembang dengan jati diri sosial dan bisa menjalin pertemanan dengan lebih baik.

Anak-anak pun akan gampang diterima tidak sedikit orang sebab kepribadiannya. Pengenalaan emosi semenjak dini bakal memberikan fasilitas dalam menyerahkan pemahaman untuk anak.

Baca Juga:

Kesalahan Umum Berbahasa Indonesia

Kesalahan Umum Berbahasa Indonesia

Kesalahan Umum Berbahasa Indonesia

Kesalahan Umum Berbahasa Indonesia

Dalam pemakaian bahasa Indonesia, termasuk bahasa Indonesia ragam ilmiah, sering dijumpai  penyimpangan dari kaidah yang berlaku sehingga mempengaruhi kejelasan pesan yang disampaikan.
Penyimpangan / kesalahan umum dalam berbahasa Indonesia dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
1.Hiperkorek
Hiperkorek adalah kesalahan berbahasa karena “membetulkan” bentuk yang sudah benar sehingga menjadi salah.
Contoh:
  • utang (betul) menjadi hutang (hiperkorek)
  • insaf (betul) menjadi insyaf (hiperkorek)
  • pihak (betul) menjadi fihak (hiperkorek)
  • jadwal (betul) menjadi jadual (hiperkorek)
  • asas (betul) menjadi azas (hiperkorek)

2.Pleonasme

Pleonasme adalah kesalahan berbahasa karena kelebihan dalam pemakaian kata yang sebenarnya tidak diperlukan.
Pleonasme ada tiga macam :
a. Penggunaan dua kata yang bersinonim dalam satu kelompok kata

  • zaman dahulu (benar)
  • dahulu kala (benar)
  • zaman dahulu kala (pleonasme)

b. Bentuk jamak dinyatakan dua kali

  • ibu-ibu (benar)
  • para ibu (benar)
  • para ibu-ibu (pleonasme)
  • tolong-menolong (benar)
  • saling menolong (benar)
  • saling tolong-menolong (pleonasme)

c. Penggunaan kata tugas (keterangan) yang tidak diperlukan karena pernyataannya sudah cukup jelas
Contoh:

  • maju ke depan
  • kambuh kembali

3.Kontaminasi
Istilah kontaminasi dipungut dari bahasa Inggris contamination (pencemaran). Dalam ilmu bahasa, kata itu diterjemahkan dengan ‘kerancuan’. Rancu artinya ‘kacau’ dan kerancuan artinya ‘kekacauan’.
Yang dimaksud kacau ialah susunan unsur bahasa yang tidak tepat, seperti morfem dan kata.
Morfem-morfem yang salah disusun menimbulkan kata yang salah bentuk.
Kata yang salah disusun menimbulkan frase yang kacau atau kalimat yang kacau.
Kontaminasi terjadi karena salah nalar, penggabungan dua hal yang berbeda sehingga menjadi suatu hal yang tumpang tindih.
Contoh kontaminasi imbuhan:
(meng+kesamping+kan) → mengesampingkan (benar)
(men+samping+kan)   →  menyampingkan (benar)

mengenyampingkan
(kontaminasi)

Contoh kontaminasi frase:

  • Kadang-kadang (benar)
  • Ada kala(nya) (benar)
  • Kadang kala (kontaminasi)
  • Berulang-ulang (benar)
  • Berkali-kali (benar)
  • Berulang kali (kontaminasi)

Contoh kontaminasi kalimat:

  • Rapat itu dihadiri oleh para pejabat setempat. (benar)
  • Dalam rapat itu, hadir para pejabat setempat. (benar)
  • Dalam rapat itu dihadiri oleh para pejabat setempat. (kontaminasi)
  • Anak-anak dilarang merokok. (benar)
  • Anak-anak tidak boleh merokok. (benar)
  • Anak-anak dilarang tidak boleh merokok. (kontaminasi)

4.Perombakan Bentuk Pasif

Perombakan bentuk pasif ada tiga :
a. Pemakaian awalan di-untuk bentuk pasif yang seharusnya tidak berawalan di-
Contoh:

  • Buku itu dibaca oleh saya. (tidakbaku)
  • Buku itu saya baca. (baku)
  • Buku itu dibaca oleh kamu. (tidakbaku)
  • Buku itu kamu baca. (baku)

b. Penghilangan awalan di-untuk bentuk pasif yang seharusnya menggunakan awalan di-

Contoh:

  • Buku itu dibaca oleh mereka. (baku)
  • Buku itu mereka baca. (tidakbaku)
  • Buku itu dibaca oleh Amin.(baku)
  • Buku itu Amin baca. (tidakbaku)

c. Penyisipan kata diantara dua kata dari sebuah frase terikat

Contoh:

  • Buku itu saya akan baca. (tidakbaku)
  • Buku itu akan saya baca. (baku)
  • Masalah itu kami sudah bahas kemarin. (tidakbaku)
  • Masalah itu sudah kami bahas kemarin. (baku)

Referensi : kuliahbahasainggris.com

Menjadi Guru Generasi Z

Menjadi Guru Generasi Z

Menjadi Guru Generasi Z

Sebutan guru professional sejak zaman dahulu hingga kini, masih sering disebut-sebut atau digunakan. Guru professional yang harus mempunyai empat kompetensi masing-masing kompetensi paedagogi, professional, kepribadian dan sosial itu masih menjadi harapan bagi pengembangan dunia pendidikan di tanah air.

Menjadi Guru Generasi Z

Harapan yang udah sangat lama ditanam, bagai belum berbuah. Sejak para founding father negeri ini membangun grand design kemerdekaan Indonesia yang dituangkan dalam Pembukaan UUD 1945 hingga terhadap tujuan pembangunan nasional dan tujuan pendidikan nasional yang memasang guru terhadap kunci pembangunan bangsa. Jangankan membereskan pendidikan secara umum, membangun kapasitas guru secara professional saja masih kalang kabut. Sayang sekali jikalau masih belum mempunyai hasil yang optimal, dikarenakan pengembangan kapasitas guru tertinggal oleh kemajuan zaman.

Zaman tetap berubah bersama dengan pesatnya, sementara kondisi guru masih jalan di tempat. Padahal temuan-temuan, hasil kaji dan mengolah teknologi modern udah bersama dengan cepat merubah ruang, pola kehidupan, perilaku dan style hidup tiap tiap generasi. Gelegar perubahan zaman yang begitu pesat dan cepat itu, dunia pendidikan dituntut mampu mengimbangi perubahan zaman. Untuk itu, dunia pendidikan jadi membutuhkan tenaga-tenaga edukasi yang andal, yang disebut professional itu.

Sayangnya, dunia pendidikan kami seperti masih belum siap mengantisipasi perubahan dan tuntutan zaman tersebut. Ketidaksiapan itu muncul terhadap banyak perihal berasal dari pembangunan pendidikan. Selain kesiapan fasilitas dan prasarana pendidikan yang mampu mengejar kecepatan lajunya pertumbuhan teknologi yang udah melahirkan anak-anak generasi Z itu.

Generasi internet

Generasi Z yang kami kenal sebagai orang-orang yang lahir di generasi internet, generasi yang udah menikmati keajaiban teknologi usai kelahiran internet. Generasi yang berkembang bersama dengan sangat pesat. Ya, bagaimana bersama dengan instansi pendidikan kami yang masih dominan berasal dari generasi Y dan X. Akan sangat berbahaya, jikalau para guru generasi X tidak siap menghadapi kemajuan style hidup generasi Z. Karena, para pengelola pendidikan masih dikelola oleh para generasi old, generasi X yang umumnya gagap teknologi. Akibatnya, berjalan gap atau jurang yang dalam pada guru dan peserta didik. Di mana guru atau tenaga pendidikan bergerak dan berpikir dalam pola zaman old, sementara peserta didik bergerak dan berfikir dalam pola milenial yang sangat cepat menguasai teknologi digital.

Kondisi ini menjadi tidak sehat, menjadi tantangan bagi para guru zaman old. Kondisi ini pula memasang para pendidik terhadap posisi yang gamang. Gamang menghadapi cepatnya perubahan yang berjalan terhadap anak-anak generasi milenial dan generasi Z yang berlari sangat kencang, dilengkapi bersama dengan kencangnya perubahan perilaku dan kepribadian yang disebabkan oleh jadi bebasnya perubahan nilai moral, sosial dan budaya baru, di mana moralitas, budi pekerti dan akhlak kian tergerus pupus. Artinya, disaat anak-anak milenial dan generasi X menguasai segala kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, tidak gagap teknologi, menyebabkan anak-anak berkembang lebih cepat dibanding usia. Perkembangan pengetahuan dan ketrampilan dalam gunakan teknologi digital, memungkinkan peserta didik studi lebih cepat dibandingkan para guru. Sehingga, pengetahuan anak didik mampu lebih luas, bahkan disaat impuls dan hasrat studi para guru yang lahir di generasi X rendah. Maka guru mampu tertinggal, tergilas zaman.

Hal lain yang tidak kalah menggalaukan kami adalah disaat kecepatan kapabilitas anak-anak milenial dan generasi Z menguasai teknologi digital, disaat mereka tidak dibekali bersama dengan keimanan dan akhlak mulia, sehingga banyak yang terlilit terhadap hal-hal yang disebut dekadensi moral. Perkembangan peserta didik yang tidak terkontrol bersama dengan baik dan bijak, dapat melahirkan anak generasi milenial dan generasi Z yang bermoral rendah. Bila moralitas kalah, maka ini menjadi tantangan berat bagi guru dan masyarakat bangsa.

Semakin kompleks

Jadi, tantangan guru di jaman milenial dan generasi Z menjadi jadi berat. Apalagi jikalau guru yang lahir di zaman generasi X dituntut untuk mengimbangi cepatnya perubahan style hidup dan kapabilitas anak-anak generasi Z yang dibesarkan bersama dengan teknologi digital, guru sebenarnya tidak mampu tinggal diam. Tantangan guru di jaman milenial dan generasi Z menjadi jadi kompleks. Karena semua berubah bersama dengan begitu cepat, tanpa mampu difilterisasi oleh guru di sekolah.

Para guru yang lahir berasal dari generasi X penting sekali menyadari perilaku generasi Z jikalau idamkan berhasil dalam mengajar dan edukatif generasi ini. Sebagai generasi yang kahir dan dibesarkan dalam jaman digital, anak-anak sebagai peserta didik dapat sangat dekat bersama dengan tempat sosial, dan produk teknologi internet tersebut. Aulai Adam dalam tulisannya “Selamat tinggal generasi milenial, Selamat datang generasi Z” di tirto.com edisi 12 April 2017 menulis sebagai berikut. “Sejauh ini, Generasi Z dikenal sebagai karakter yang lebih tidak fokus berasal dari milenial, tapi lebih serba-bisa; lebih individual, lebih global, berasumsi lebih terbuka, lebih cepat terjun ke dunia kerja, lebih wirausahawan, dan tentu saja lebih ramah teknologi.

Kedekatan generasi ini bersama dengan teknologi sekaligus membuktikan jaman depan sektor selanjutnya dapat jadi cerah di tangan mereka. Dari segi ekonomi, menurut survei Nielsen, Generasi Z udah merubah perputaran ekonomi dunia sebagai 62 prosen kastemer kastemer produk elektronik. Ini terbujuk oleh kehidupan mereka yang udah serba terkoneksi bersama dengan internet.

Pertanyaan kami setelah itu adalah bagaimana di dunia pendidikan? Perubahan apa yang dapat dihadapi oleh para guru di lembaga-lembaga pendidikan? Bukankah disaat perilaku generasi Z yang berubah begitu cepat dan sangat terbujuk oleh teknologi informasi dan komunikasi yang menyebabkan mereka sangat terlalu fokus terhadap teknologi digital. Ya, Generasi Z, lanjut Aulia Adam, adalah generasi paling berpengaruh, unik, dan banyak variasi berasal dari yang pernah ada,” kata Blakley dalam wawancaranya bersama dengan Forbes.

Jadi tantangannya cukup besar dan berat bukan? Maka kiranya, guru di lembaga-lembaga pendidikan sebenarnya harus berbenah bersama dengan cepat jikalau idamkan berhasil mengajar dan edukatif anak-anak generasi milenial dan juga generasi Z yang sangat menantang tersebut. Para guru harus senang dan bersama dengan serius menaikkan kapasitas pengetahuan, harus banyak dan rajin membaca pertumbuhan zaman. Para guru juga harus menguasai metode pembelajaran yang cocok bersama dengan kemajuan tempat pembelajaran yang serba computer. Dengan demikian pula guru dituntut mampu mengoperasikan teknologi digital secara terampil dan menarik. Bukan cuma itu, bersamaan bersama dengan perubahan moralitas anak, para guru juga harus lebih siap mental menghadapi perubahan tersebut.

Para guru seharusnya menyadari bersama dengan serius bahwa menjadi guru di jaman milenial dan terhadap generasi Z, adalah guru yang menguasai pengetahuan yang mumpuni perihal pelajaran yang diasuh, menguasai teknologi digital, mempunyai pengetahuan dan perilaku yang lebih bermoral sebagai teladan bagi anak-anak di sekolah. Pendek kata, menjadi guru di jaman milenial dan mengajar anak-anak generasi Z, para guru adalah sosok yang harus menyadari pertumbuhan perilaku anak-anak milenial dan generasi Z. Oleh dikarenakan itu. Jangan tunda-tunda lagi sementara berbenah diri.

Bukan Hanya Membaca, 5 Aktivitas yang Bisa Mengasah Skill Menulismu

Bukan Hanya Membaca, 5 Aktivitas yang Bisa Mengasah Skill Menulismu

Bukan Hanya Membaca, 5 Aktivitas yang Bisa Mengasah Skill Menulismu

Menulis, bagi lebih dari satu orang kegiatan ini bukan semata-mata profesi, hobi apalagi passion yang membuahkan pundi-pundi. Menulis seolah telah sanggup menjadi obat bagi mereka yang tengah mengalami stres atau depresi sebab meraih banyak tekanan. Ya, samasekali nampak biasa saja, menulis sanggup menjadi fasilitas meluapkan bermacam emosi yang tidak tersampaikan melalui ucapan maupun tingkah laku.

Bukan Hanya Membaca, 5 Aktivitas yang Bisa Mengasah Skill Menulismu

Namun kalau menulis memang dambakan ditekuni pasti saja dapat mengimbuhkan kesempatan besar bagi jaman depan. Menulis pun tidak semata-mata merangkai kata, namun terhadap pada akhirnya terhitung dapat terlampau memerlukan skill dan penguasaan teknik yang mumpuni.

1. Merenunglah
Ya, kegiatan ini seringkali dijalankan oleh para penulis. Mereka tak hanya dambakan menulis di saat suasana yang tenang hingga sepi untuk sanggup memusatkan asumsi dan berkonsentrasi didalam menulis. Tentu saja untuk melacak bermacam inspirasi apa yang dapat dibahas, bahasa apa yang dapat digunakam dan kronologis seperti apa yang dapat dikisahkan.

Merenung dapat menunjang kami memusatkan asumsi terhadap satu tujuan. Tak jarang saat merenung terhitung bermunculan bermacam pikiran-pikiran lain yang menunjang timbulnya inspirasi dan tambah menunjang kami menjadi lebih kreatif didalam menulis.

2. Ikuti pelatihan atau coaching
Siapa bilang menulis tak butuh dilatih? Semua skill atau keterampilan memerlukan banyak latihan sehingga sanggup menjadi profesional. Berbagai pelatihan sanggup didapati saat kami turut komunitas atau organisasi menulis. Tak hanya saling sharing pengalaman, ilmu dan teknik menulis yang belum kami mengerti pun sanggup kami dapatkan.

Ya, bersama mengikuti pelatihan atau coaching, skill menulis dapat tambah berkembang. Pandangan kami tentang bermacam teknik yang sepanjang ini kami mengerti dan anggap sebagai yang paling baik dapat tambah beragam.

3. Mintalah feedback berasal dari orang lain
Kita tidak sanggup mengembangkan suatu keahlian hanya melalui pendapat kami sendiri. Peran orang lain dapat terlampau kami butuhkan didalam mengimbuhkan kami masukan atau panduan untuk mengembangkan apa yang telah kami miliki.

Misalnya saja, saat anda menulis sesuatu, mintalah orang lain untuk membacanya, tanyakan padanya apa yang membawa dampak postingan itu enteng dan enak dibaca, dan mana yang wajib diubah sehingga lebih nyaman saat dibaca. Tentu saja kami terlampau membutuhkannya. Karena apa yang kami tulis terhadap pada akhirnya untuk dibaca oleh orang lain.

4. Menulislah konten yang menurutmu sulit
Saat anda berlatih sesuatu, bukankah laksanakan tantangan dapat membantumu menaikkan skill yang anda miliki? Kamu boleh saja punya komitmen didalam menulis. Menggunakam skill yang sepanjang ini anda yakini sanggup mempunyai menuju kesuksesan. Tapi bukankah tersedia baiknya anda mencoba menantang dirimu sendiri.

Menulis konten yang susah dapat membuatmu berpikir lebih jauh. Berusaha untuk memecahkan setiap tantangan, demi menciptakan konten yang luar biasa. Gagal bukan suatu masalah, apalagi mungkin sekali saja anda wajib mengerti rasanya gagal seperti apa.

5. Adakan challenge untuk diri sendiri
Tantangan sanggup berkunjung berasal dari diri sendiri dan orang lain. Banyak yang sanggup anda laksanakan untuk menunjang menaikkan skill menulismu. Misalnya saja, saat anda meminta orang lain menyebutkan satu kata yang tengah mereka pikirkan. Dari kata itu anda dapat merangkainya menjadi lebih dari satu baris kalimat. Baik puisi maupun cerita fiksi bebas anda yang menentukan. https://www.ruangguru.co.id/

Jangan halangi dirimu. Selagi tidak melanggar norma dan aturan. Setiap tulisanmu layak untuk dipublikasi dan dibaca orang lain. Pada pada akhirnya anda dapat menemukan satu kepuasan tersendiri saat telah melalui tantangan yang diberikan orang lain.