Category Archives: Pendidikan

Pendidikan

Penjelasan TAKSONOMI BLOOM

Penjelasan TAKSONOMI BLOOM

Penjelasan TAKSONOMI BLOOM

Penjelasan TAKSONOMI BLOOM

Taksonomi Bloom merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Taksonomi ini pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah, kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hirarkinya. Tujuan pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu:

  1. Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
  2. Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
  3. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.

Beberapa istilah lain yang juga menggambarkan hal yang sama dengan ketiga domain tersebut di antaranya seperti yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantoro, yaitu: cipta, rasa, dan karsa. Selain itu, juga dikenal istilah: penalaran, penghayatan, dan pengamalan.

Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah, seperti misalnya dalam ranah kognitif, untuk mencapai “pemahaman” yang berada di tingkatan kedua juga diperlukan “pengetahuan” yang ada pada tingkatan pertama.

  1. Domain Kognitif

Bloom membagi domain kognisi ke dalam 6 tingkatan. Domain ini terdiri dari dua bagian: Bagian pertama berupa adalah Pengetahuan (kategori 1) dan bagian kedua berupa Kemampuan dan Keterampilan Intelektual (kategori 2-6)

1) Pengetahuan (Knowledge)

Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dsb. Kata kerja yang digunakan adalah Mengidentifikasi, menyebutkan, memberi nama pada, menyusun daftar, menggaris bawahi, menjodohkan, memilih, memberikan definisi. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan mengenai definisi iklim dapat menguaraikannya dengan baik.

Contoh soal: Apakah pengertian iklim…..!

2) Pemahaman (Comprehension)

Dikenali dari kemampuan untuk membaca dan memahami gambaran, laporan, tabel, diagram, arahan, peraturan, dsb. Sebagai contoh, orang di level ini bisa memahami apa yg diuraikan dalam fish bone diagram, pareto chart, dsb. Kata kerja yang digunakan, Menjelaskan, menguraiakan, merumuskan, merangkum, mengubah, memberikan contoh, tentang menyadur, meramalkan,memperkirakan, menerangkan.

Contoh soal: jelaskan siklus hidrologi dibawah ini

3) Aplikasi (Application)

Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dsb di dalam kondisi kerja. Sebagai contoh, ketika diberi informasi tentang penyebab meningkatnya reject di produksi, seseorang yg berada di tingkat aplikasi akan mampu merangkum dan menggambarkan penyebab turunnya kualitas dalam bentuk fish bone diagram atau pareto chart. Kata kerja yang digunakan adalah, Memperhitungkan, membuktikan, menghasilkan, menunjukan, melengkapi, menyediakan, menyesuaikan, menemukan.

Contoh soal : Jika jarak A-B adalah 5cm pada peta dengan skala 1:25000 hitung jRk A-B sebenarnya…..!

4) Analisis (Analysis)

Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisa informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yg rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah-milah penyebab meningkatnya reject, membanding-bandingkan tingkat keparahan dari setiap penyebab, dan menggolongkan setiap penyebab ke dalam tingkat keparahan yg ditimbulkan. Kta kerja yang digunakan adalah, Memisahkan, menerima, menyisihkan, menghubungkan, memilih, membandingkan, mempertentangkan, membagi, membuat diagram/skema, menunjukan hubungan antara.


Contoh soal : Apakah kaitan antara perubahan iklim dengan terjadinya peristiwa Elnino dan La Nina?

5) Sintesis (Synthesis)

Satu tingkat di atas analisa, seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yg dibutuhkan. Kata kerja yang digunakan adalah mengkategorikan, mengkombinasikan, mengarang,menciptakan,mendesain, mengatur, menyusun kembali, merangkaikan, menghubungkan, menyimpulkan, merancangkan, membuat pola.

Contoh soal: Bagaimanakah perkembangan kota Solo jika dilihat hierarki kotanya.

6) Evaluasi (Evaluation)

Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dsb dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yg ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya. Sebagai contoh, Siswa diminta mengevaluasi apakah satu model dapat diterapkan dalam setiap aspek. Kata kerja yang digunakan adalah, memperhitungkan, membuktikan, menghasilkan, menunjukan, melengkapi, menyediakan, menyesuaikan, menemukan.

Contoh soal: Jelaskan apakah teori perkembangan kota menurut Ernest Burges berlaku untuk Kota Solo….!

  1. Domain Afektif

Pembagian domain ini disusun Bloom bersama dengan David Krathwol.

1) Penerimaan (Receiving/Attending)

Kesediaan untuk menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya. Dalam pengajaran bentuknya berupa mendapatkan perhatian, mempertahankannya, dan mengarahkannya.

2) Tanggapan (Responding)

Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan tanggapan.

3) Penghargaan (Valuing)

Berkaitan dengan harga atau nilai yang diterapkan pada suatu objek, fenomena, atau tingkah laku. Penilaian berdasar pada internalisasi dari serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan ke dalam tingkah laku.

4) Pengorganisasian (Organization)

Memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten.

5) Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Characterization by a Value or Value Complex)

Memiliki sistem nilai yang mengendalikan tingkah-lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya-hidupnya.

  1. Domain Psikomotor

Rincian dalam domain ini tidak dibuat oleh Bloom, tapi oleh ahli lain berdasarkan domain yang dibuat Bloom.

1) Persepsi (Perception)

Penggunaan alat indera untuk menjadi pegangan dalam membantu gerakan.

2) Kesiapan (Set)

Kesiapan fisik, mental, dan emosional untuk melakukan gerakan.

3) Guided Response (Respon Terpimpin)

Tahap awal dalam mempelajari keterampilan yang kompleks, termasuk di dalamnya imitasi dan gerakan coba-coba.

4) Mekanisme (Mechanism)

Membiasakan gerakan-gerakan yang telah dipelajari sehingga tampil dengan meyakinkan dan cakap.

5) Repon Tampak yang Kompleks (Complex Overt Response)

Gerakan motoris yang terampil yang di dalamnya terdiri dari pola-pola gerakan yang kompleks.

6) Penyesuaian (Adaptation)

Keterampilan yang sudah berkembang sehingga dapat disesuaikan dalam berbagai situasi.

7) Penciptaan (Origination)

Membuat pola gerakan baru yang disesuaikan dengan situasi atau permasalahan tertentu.


Sumber : gurupendidikan.co.id

Inilah Macam-Macam Jenis Gangguan Makan Yang Dapat Menyerang Anda

Inilah Macam-Macam Jenis Gangguan Makan Yang Dapat Menyerang Anda

Baru-baru ini, kedua selebriti familiar yakni Ina Thomas dan Kendall Jenner diserbu oleh warganet dampak tampilan mereka yang paling kurus. Bahkan sejumlah ada yang hingga menyebut mereka mengidap gangguan santap anoreksia.

Gangguan santap secara sah diklasifikasikan sebagai gangguan mental oleh Manual Diagnosis dan Statistik Gangguan Mental (DSM). Kebanyakan gangguan santap yang lebih dikenal ialah anoreksia nervosa dan bulimia nervosa.

Terlepas dari permasalahan kedua seleb di atas, dengan sekian banyak  ekspose dari media bakal citra tubuh yang lebih ramping atau berotot, masalah gangguan santap ini terlihat meningkat. Mari kenali sejumlah jenis gangguan santap lainnya:

Gangguan berpesta makan

Gangguan berpesta santap atau binge eating disorder baru-baru ini dinamakan sebagai di antara gangguan makan. Dipercayai sebagai gangguan santap yang sangat umum diidap di Amerika Serikat, lazimnya gangguan ini dibuka saat remaja atau mula masa dewasa.

Gejala yang ditimbulkan serupa dengan bulimia, tetapi perbedaannya mereka tidak memberi batas kalori, berolahraga atau diet ekstrem, atau kelaziman memuntahkan pulang makanan mereka sebagai kompensasi sesudah berpesta makan.

Tanda-tanda gangguan ini merupakan: makan tidak sedikit secara cepat, diam-diam sampai sangat kenyang meski tidak lapar, merasa kehilangan kontrol ketika sedang berpesta makan, menikmati stres sebab rasa malu, jijik atau bersalah ketika memikirkan kelaziman berpesta makan.

Melihat kelaziman berpesta santap ini sudah tentu pengidapnya kegemukan atau obesitas. Sehingga mengakibatkan mereka berisiko tinggi terpapar komplikasi laksana penyakit jantung, stroke dan diabetes tipe 2.

Pica

Tak tidak sedikit dikenal, Pica ialah gangguan santap di mana pengidapnya mengidam hal-hal yang bukan makanan. Seperti es, kotoran, tanah, kapur, sabun, kertas, rambut, kain, wol, batu kerikil, deterjen atau kanji.

Pica bisa terjadi baik pada orang dewasa, anak dan remaja. Dan sangat sering ditemukan pada anak-anak, ibu hamil dan orang yang mempunyai disabilitas mental. Mereka paling berisiko keracunan, infeksi, luka usus dan kelemahan nutrisi, sampai kematian.

Namun, tradisi atau kebiasaan untuk memakan hal-hal yang bukan makanan tidak tergolong dalam gangguan santap ini. Di Indonesia pernah terjadi laksana kasus-kasus di mana anak-anak memakan kapur barus, obat nyamuk atau bahkan sabun.

Gangguan ruminasi

Gangguan santap ruminasi atau rumination disorder pun baru saja dikenali dalam DSM. Gangguan santap ini diperlihatkan dengan seseorang yang memuntahkan makanannya, kemudian menelan dan mengunyahnya lagi atau memuntahkannya kembali.

Umumnya gangguan ini terjadi sekitar 30 menit kesatu setelah santap dan dilaksanakan dengan sengaja. Gangguan ruminasi dapat terjadi pada siapa saja. Pada bayi, seringkali terlihat antara umur 3-12 bulan dan kadang hilang dengan sendirinya, namun andai terjadi pad anak-anak dan dewasa memerlukan terapi.

Jika ketika bayi tidak teratasi, maka bisa berdampak berkurang berat badan dan malnutrisi yang parah yang dapat berujung fatal. Orang dewasa dengan gangguan ini barangkali terlihat memberi batas jumlah makanan mereka, terutama ketika di depan umum, sehingga menciptakan mereka jadi terlalu kurus.

ARFID

Ganggun santap ARFID atau Avoidant or Restrictive Food Intake Disorder (gangguan batasan atau pemilihan makanan) ialah nama baru dari gangguan lama. ARFID menggantikan gangguan santap pada bayi atau anak-anak, yang seringkali menjadi diagnosis pada anak-anak di bawah tujuh tahun.

Pengidap gangguan ini seringkali disebabkan baik oleh hilangnya ketertarikan untuk santap atau ketidaksukaan atas bau, rasa, warna, tekstur atau temperatur tertentu. Dan lazimnya perilaku santap mereka mengganggu saat santap bersama-sama, misalnya.

Perlu disalin bahwa ARFID melebihi perilaku normal, contohnya ialah memilih-milih makanan (picky eater) pada balita atau asupan makanan yang tidak banyak pada orang dewasa.

Gangguan makan lainnya

Ada sejumlah gangguan santap lain yang paling jarang diketahui atau jarang terjadi, seperti:

  1. Gangguan muntah atau purging: pengidapnya punya kecenderungan memuntahkan pulang makanan mereka atau memakai obat pencahar serta olahraga berlebihan. Namun mereka tidak berpesta makanan, sehingga bertolak belakang dengan bulimia nervosa.
  2. Sindrom santap tengah malam: seringkali pengidapnya sering santap berlebihan sesudah terbangun di tengah malam.
  3. EDNOS (Eating disorder not otherwise specified) atau gangguan santap yang belum terspesifikasi, misalnya sejumlah kondisi yang memiliki sejumlah gejala yang serupa seperti gangguan santap namun tidak sesuai dengan katergori-kategorinya.

Salah satu EDNOS yang sedang viral baru-baru ini ialah orthorexia, yakni suatu perilaku di mana seseorang terobsesi dengan makanan sehat hingga titik mengganggu kehidupan keseharian mereka. Misalnya mengeliminasi sekelompok makanan sebab takut tidak sehat.

Baca Juga:

5 Metode Mengajarkan Anak Mengelola Emosi Mereka

5 Metode Mengajarkan Anak Mengelola Emosi Mereka

Pada mula tumbuh kembang, anak menjalin hubungan timbal balik dengan orang-orang yang mengasuhnya. Interaksi anak dengan orang terdekat memengaruhi optimalitas pertumbuhan sosial anak.

Meskipun lazimnya anak merasakan tahapan pertumbuhan emosi sama, kecepatan pertumbuhan emosi anak akan bertolak belakang satu dengan lain. Pengalaman belajar anak ialah salah satu yang memiliki akibat penting untuk perkembangan emosi anak.

Forum Sahabat Keluarga dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengucapkan ada 5 pekerjaan belajar yang menunjang pola pertumbuhan emosi anak:

1. Pembelajaran cara spontan

Anak mengerjakan proses belajar melewati teknik spontanitas. Mereka belajar mengekspresikan perasaan dan emosi yang dialami melalui proses spontan. Pada langkah ini, anak-anak tidak jarang menunjukkannya format emosi yang tidak terduga. Jangan kaget bilamana respon emosi yang diperlihatkan anak biasanya tidak cocok dengan yang diinginkan oleh orangtua. Misalnya, ketika kesatu kali anak umur bayi diserahkan mainan terompet, terdapat anak akan mengindikasikan ekspresi menangis ketimbang tertawa.

2. Pembelajaran melewati imitasi

Lingkungan family sangat memprovokasi perkembangan emosi anak. Anak-anak bakal meniru emosi dari yang dilihatnya di lingkungan sangat dekat, laksana keluarga. Saat orangtua mengindikasikan kebahagiannya melewati wajah tersenyum, anak pun akan memantulkan kebahagiaan yang sama.

3. Pembelajaran melewati tokoh idola

Ada masa tertentu anak tertarik dan kagum dengan figur tertentu dan ingin mempersamakan dirinya. Hal ini turut mengembangkan pola emosi pada diri anak. Orangtua dapat menggali tahu sosok atau figur yang dikagumi dan menyaksikan reaksi emosi anak.

Banyak figur yang hadir dan menjadi idola anak ketika ini. Meskipun begitu, orangtua mesti menolong memilah figur yang memang mempunyai norma dan karakter cocok di lingkungan anak. Misalnya di Indonesia, orangtua dapat mengisahkan tentang figur pahlawan yang mempunyai semangat besar dalam belajar. Misalnya https://www.pelajaran.co.id Ir. Soekarno yang mempunyai kecakapan pelbagai bahasa atau Mohammad Hatta yang gemar menyimak buku.

4. Pembelajaran melewati pengkondisian

Pada cara ini anak belajar dengan teknik asosiasi. Anak kecil masih kurang keterampilan dalam menalar dan tidak cukup mampu menilai empiris secara kritis. Emosi umur dini pun terbentuk dengan kebiasaan-kebiasaan yang terdapat di lingkungan anak.

Misalnya mengelompokkan anak dengan teman-teman lainnya. Anak bakal saling belajar dan secara tidak langsung akan mendapat  pemahaman melewati pengondisian tersebut.

5. Pembelajaran melewati latihan

Anak dapat mendapat  perkembangan emosi melewati pengawasan dan bimbingan. Anak bisa diajari teknik bereaksi yang bisa diterima dan menyenangkan. Dengan menyerahkan pengarahan, anak pun dapat mengondisikan emosinya.

Di sinilah orangtua dapat menyerahkan arahan dan pendampingan yang simpel dan tidak menjenuhkan. Misalnya orangtua dapat menyerahkan permainan yang mencantol pengendalian emosi, laksana bermain drama.

Anak-anak yang terampil dalam mengindikasikan emosi terhadap orang beda tentu didapatkan dari pengalamannya menyaksikan orang lain. Apa yang diperlihatkan anak ialah hasil yang diperoleh dari interaksinya sehari-hari.

Aktivitas bermain, belajar dan urusan lainnya memberikan desakan anak dalam mengelola emosinya. Anak-anak barang kali memang belum mengetahui apa yang dilakukannya. Sebab, dalam perkembangannya anak-anak masih membutuhkan cerminan yang dilakukannya. Di sinilah, orangtua menjadi cermin yang bakal memantulkan cerminan kepribadian anak nanti.

Apa yang dilaksanakan orangtua bakal menjadi empiris berharga untuk diri anak. Sehingga ia bakal menyimpan memori tersebut dan bakal memanggilnya kembali ketika ia berkeinginan melakukan urusan yang sama.

Anak-anak dengan keterampilan pengelolaan emosi bakal dapat gampang menerima orang lain. Anak-anak bakal berkembang dengan jati diri sosial dan bisa menjalin pertemanan dengan lebih baik.

Anak-anak pun akan gampang diterima tidak sedikit orang sebab kepribadiannya. Pengenalaan emosi semenjak dini bakal memberikan fasilitas dalam menyerahkan pemahaman untuk anak.

Baca Juga:

Kesalahan Umum Berbahasa Indonesia

Kesalahan Umum Berbahasa Indonesia

Kesalahan Umum Berbahasa Indonesia

Kesalahan Umum Berbahasa Indonesia

Dalam pemakaian bahasa Indonesia, termasuk bahasa Indonesia ragam ilmiah, sering dijumpai  penyimpangan dari kaidah yang berlaku sehingga mempengaruhi kejelasan pesan yang disampaikan.
Penyimpangan / kesalahan umum dalam berbahasa Indonesia dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
1.Hiperkorek
Hiperkorek adalah kesalahan berbahasa karena “membetulkan” bentuk yang sudah benar sehingga menjadi salah.
Contoh:
  • utang (betul) menjadi hutang (hiperkorek)
  • insaf (betul) menjadi insyaf (hiperkorek)
  • pihak (betul) menjadi fihak (hiperkorek)
  • jadwal (betul) menjadi jadual (hiperkorek)
  • asas (betul) menjadi azas (hiperkorek)

2.Pleonasme

Pleonasme adalah kesalahan berbahasa karena kelebihan dalam pemakaian kata yang sebenarnya tidak diperlukan.
Pleonasme ada tiga macam :
a. Penggunaan dua kata yang bersinonim dalam satu kelompok kata

  • zaman dahulu (benar)
  • dahulu kala (benar)
  • zaman dahulu kala (pleonasme)

b. Bentuk jamak dinyatakan dua kali

  • ibu-ibu (benar)
  • para ibu (benar)
  • para ibu-ibu (pleonasme)
  • tolong-menolong (benar)
  • saling menolong (benar)
  • saling tolong-menolong (pleonasme)

c. Penggunaan kata tugas (keterangan) yang tidak diperlukan karena pernyataannya sudah cukup jelas
Contoh:

  • maju ke depan
  • kambuh kembali

3.Kontaminasi
Istilah kontaminasi dipungut dari bahasa Inggris contamination (pencemaran). Dalam ilmu bahasa, kata itu diterjemahkan dengan ‘kerancuan’. Rancu artinya ‘kacau’ dan kerancuan artinya ‘kekacauan’.
Yang dimaksud kacau ialah susunan unsur bahasa yang tidak tepat, seperti morfem dan kata.
Morfem-morfem yang salah disusun menimbulkan kata yang salah bentuk.
Kata yang salah disusun menimbulkan frase yang kacau atau kalimat yang kacau.
Kontaminasi terjadi karena salah nalar, penggabungan dua hal yang berbeda sehingga menjadi suatu hal yang tumpang tindih.
Contoh kontaminasi imbuhan:
(meng+kesamping+kan) → mengesampingkan (benar)
(men+samping+kan)   →  menyampingkan (benar)

mengenyampingkan
(kontaminasi)

Contoh kontaminasi frase:

  • Kadang-kadang (benar)
  • Ada kala(nya) (benar)
  • Kadang kala (kontaminasi)
  • Berulang-ulang (benar)
  • Berkali-kali (benar)
  • Berulang kali (kontaminasi)

Contoh kontaminasi kalimat:

  • Rapat itu dihadiri oleh para pejabat setempat. (benar)
  • Dalam rapat itu, hadir para pejabat setempat. (benar)
  • Dalam rapat itu dihadiri oleh para pejabat setempat. (kontaminasi)
  • Anak-anak dilarang merokok. (benar)
  • Anak-anak tidak boleh merokok. (benar)
  • Anak-anak dilarang tidak boleh merokok. (kontaminasi)

4.Perombakan Bentuk Pasif

Perombakan bentuk pasif ada tiga :
a. Pemakaian awalan di-untuk bentuk pasif yang seharusnya tidak berawalan di-
Contoh:

  • Buku itu dibaca oleh saya. (tidakbaku)
  • Buku itu saya baca. (baku)
  • Buku itu dibaca oleh kamu. (tidakbaku)
  • Buku itu kamu baca. (baku)

b. Penghilangan awalan di-untuk bentuk pasif yang seharusnya menggunakan awalan di-

Contoh:

  • Buku itu dibaca oleh mereka. (baku)
  • Buku itu mereka baca. (tidakbaku)
  • Buku itu dibaca oleh Amin.(baku)
  • Buku itu Amin baca. (tidakbaku)

c. Penyisipan kata diantara dua kata dari sebuah frase terikat

Contoh:

  • Buku itu saya akan baca. (tidakbaku)
  • Buku itu akan saya baca. (baku)
  • Masalah itu kami sudah bahas kemarin. (tidakbaku)
  • Masalah itu sudah kami bahas kemarin. (baku)

Referensi : kuliahbahasainggris.com

Menjadi Guru Generasi Z

Menjadi Guru Generasi Z

Menjadi Guru Generasi Z

Sebutan guru professional sejak zaman dahulu hingga kini, masih sering disebut-sebut atau digunakan. Guru professional yang harus mempunyai empat kompetensi masing-masing kompetensi paedagogi, professional, kepribadian dan sosial itu masih menjadi harapan bagi pengembangan dunia pendidikan di tanah air.

Menjadi Guru Generasi Z

Harapan yang udah sangat lama ditanam, bagai belum berbuah. Sejak para founding father negeri ini membangun grand design kemerdekaan Indonesia yang dituangkan dalam Pembukaan UUD 1945 hingga terhadap tujuan pembangunan nasional dan tujuan pendidikan nasional yang memasang guru terhadap kunci pembangunan bangsa. Jangankan membereskan pendidikan secara umum, membangun kapasitas guru secara professional saja masih kalang kabut. Sayang sekali jikalau masih belum mempunyai hasil yang optimal, dikarenakan pengembangan kapasitas guru tertinggal oleh kemajuan zaman.

Zaman tetap berubah bersama dengan pesatnya, sementara kondisi guru masih jalan di tempat. Padahal temuan-temuan, hasil kaji dan mengolah teknologi modern udah bersama dengan cepat merubah ruang, pola kehidupan, perilaku dan style hidup tiap tiap generasi. Gelegar perubahan zaman yang begitu pesat dan cepat itu, dunia pendidikan dituntut mampu mengimbangi perubahan zaman. Untuk itu, dunia pendidikan jadi membutuhkan tenaga-tenaga edukasi yang andal, yang disebut professional itu.

Sayangnya, dunia pendidikan kami seperti masih belum siap mengantisipasi perubahan dan tuntutan zaman tersebut. Ketidaksiapan itu muncul terhadap banyak perihal berasal dari pembangunan pendidikan. Selain kesiapan fasilitas dan prasarana pendidikan yang mampu mengejar kecepatan lajunya pertumbuhan teknologi yang udah melahirkan anak-anak generasi Z itu.

Generasi internet

Generasi Z yang kami kenal sebagai orang-orang yang lahir di generasi internet, generasi yang udah menikmati keajaiban teknologi usai kelahiran internet. Generasi yang berkembang bersama dengan sangat pesat. Ya, bagaimana bersama dengan instansi pendidikan kami yang masih dominan berasal dari generasi Y dan X. Akan sangat berbahaya, jikalau para guru generasi X tidak siap menghadapi kemajuan style hidup generasi Z. Karena, para pengelola pendidikan masih dikelola oleh para generasi old, generasi X yang umumnya gagap teknologi. Akibatnya, berjalan gap atau jurang yang dalam pada guru dan peserta didik. Di mana guru atau tenaga pendidikan bergerak dan berpikir dalam pola zaman old, sementara peserta didik bergerak dan berfikir dalam pola milenial yang sangat cepat menguasai teknologi digital.

Kondisi ini menjadi tidak sehat, menjadi tantangan bagi para guru zaman old. Kondisi ini pula memasang para pendidik terhadap posisi yang gamang. Gamang menghadapi cepatnya perubahan yang berjalan terhadap anak-anak generasi milenial dan generasi Z yang berlari sangat kencang, dilengkapi bersama dengan kencangnya perubahan perilaku dan kepribadian yang disebabkan oleh jadi bebasnya perubahan nilai moral, sosial dan budaya baru, di mana moralitas, budi pekerti dan akhlak kian tergerus pupus. Artinya, disaat anak-anak milenial dan generasi X menguasai segala kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, tidak gagap teknologi, menyebabkan anak-anak berkembang lebih cepat dibanding usia. Perkembangan pengetahuan dan ketrampilan dalam gunakan teknologi digital, memungkinkan peserta didik studi lebih cepat dibandingkan para guru. Sehingga, pengetahuan anak didik mampu lebih luas, bahkan disaat impuls dan hasrat studi para guru yang lahir di generasi X rendah. Maka guru mampu tertinggal, tergilas zaman.

Hal lain yang tidak kalah menggalaukan kami adalah disaat kecepatan kapabilitas anak-anak milenial dan generasi Z menguasai teknologi digital, disaat mereka tidak dibekali bersama dengan keimanan dan akhlak mulia, sehingga banyak yang terlilit terhadap hal-hal yang disebut dekadensi moral. Perkembangan peserta didik yang tidak terkontrol bersama dengan baik dan bijak, dapat melahirkan anak generasi milenial dan generasi Z yang bermoral rendah. Bila moralitas kalah, maka ini menjadi tantangan berat bagi guru dan masyarakat bangsa.

Semakin kompleks

Jadi, tantangan guru di jaman milenial dan generasi Z menjadi jadi berat. Apalagi jikalau guru yang lahir di zaman generasi X dituntut untuk mengimbangi cepatnya perubahan style hidup dan kapabilitas anak-anak generasi Z yang dibesarkan bersama dengan teknologi digital, guru sebenarnya tidak mampu tinggal diam. Tantangan guru di jaman milenial dan generasi Z menjadi jadi kompleks. Karena semua berubah bersama dengan begitu cepat, tanpa mampu difilterisasi oleh guru di sekolah.

Para guru yang lahir berasal dari generasi X penting sekali menyadari perilaku generasi Z jikalau idamkan berhasil dalam mengajar dan edukatif generasi ini. Sebagai generasi yang kahir dan dibesarkan dalam jaman digital, anak-anak sebagai peserta didik dapat sangat dekat bersama dengan tempat sosial, dan produk teknologi internet tersebut. Aulai Adam dalam tulisannya “Selamat tinggal generasi milenial, Selamat datang generasi Z” di tirto.com edisi 12 April 2017 menulis sebagai berikut. “Sejauh ini, Generasi Z dikenal sebagai karakter yang lebih tidak fokus berasal dari milenial, tapi lebih serba-bisa; lebih individual, lebih global, berasumsi lebih terbuka, lebih cepat terjun ke dunia kerja, lebih wirausahawan, dan tentu saja lebih ramah teknologi.

Kedekatan generasi ini bersama dengan teknologi sekaligus membuktikan jaman depan sektor selanjutnya dapat jadi cerah di tangan mereka. Dari segi ekonomi, menurut survei Nielsen, Generasi Z udah merubah perputaran ekonomi dunia sebagai 62 prosen kastemer kastemer produk elektronik. Ini terbujuk oleh kehidupan mereka yang udah serba terkoneksi bersama dengan internet.

Pertanyaan kami setelah itu adalah bagaimana di dunia pendidikan? Perubahan apa yang dapat dihadapi oleh para guru di lembaga-lembaga pendidikan? Bukankah disaat perilaku generasi Z yang berubah begitu cepat dan sangat terbujuk oleh teknologi informasi dan komunikasi yang menyebabkan mereka sangat terlalu fokus terhadap teknologi digital. Ya, Generasi Z, lanjut Aulia Adam, adalah generasi paling berpengaruh, unik, dan banyak variasi berasal dari yang pernah ada,” kata Blakley dalam wawancaranya bersama dengan Forbes.

Jadi tantangannya cukup besar dan berat bukan? Maka kiranya, guru di lembaga-lembaga pendidikan sebenarnya harus berbenah bersama dengan cepat jikalau idamkan berhasil mengajar dan edukatif anak-anak generasi milenial dan juga generasi Z yang sangat menantang tersebut. Para guru harus senang dan bersama dengan serius menaikkan kapasitas pengetahuan, harus banyak dan rajin membaca pertumbuhan zaman. Para guru juga harus menguasai metode pembelajaran yang cocok bersama dengan kemajuan tempat pembelajaran yang serba computer. Dengan demikian pula guru dituntut mampu mengoperasikan teknologi digital secara terampil dan menarik. Bukan cuma itu, bersamaan bersama dengan perubahan moralitas anak, para guru juga harus lebih siap mental menghadapi perubahan tersebut.

Para guru seharusnya menyadari bersama dengan serius bahwa menjadi guru di jaman milenial dan terhadap generasi Z, adalah guru yang menguasai pengetahuan yang mumpuni perihal pelajaran yang diasuh, menguasai teknologi digital, mempunyai pengetahuan dan perilaku yang lebih bermoral sebagai teladan bagi anak-anak di sekolah. Pendek kata, menjadi guru di jaman milenial dan mengajar anak-anak generasi Z, para guru adalah sosok yang harus menyadari pertumbuhan perilaku anak-anak milenial dan generasi Z. Oleh dikarenakan itu. Jangan tunda-tunda lagi sementara berbenah diri.

Bukan Hanya Membaca, 5 Aktivitas yang Bisa Mengasah Skill Menulismu

Bukan Hanya Membaca, 5 Aktivitas yang Bisa Mengasah Skill Menulismu

Bukan Hanya Membaca, 5 Aktivitas yang Bisa Mengasah Skill Menulismu

Menulis, bagi lebih dari satu orang kegiatan ini bukan semata-mata profesi, hobi apalagi passion yang membuahkan pundi-pundi. Menulis seolah telah sanggup menjadi obat bagi mereka yang tengah mengalami stres atau depresi sebab meraih banyak tekanan. Ya, samasekali nampak biasa saja, menulis sanggup menjadi fasilitas meluapkan bermacam emosi yang tidak tersampaikan melalui ucapan maupun tingkah laku.

Bukan Hanya Membaca, 5 Aktivitas yang Bisa Mengasah Skill Menulismu

Namun kalau menulis memang dambakan ditekuni pasti saja dapat mengimbuhkan kesempatan besar bagi jaman depan. Menulis pun tidak semata-mata merangkai kata, namun terhadap pada akhirnya terhitung dapat terlampau memerlukan skill dan penguasaan teknik yang mumpuni.

1. Merenunglah
Ya, kegiatan ini seringkali dijalankan oleh para penulis. Mereka tak hanya dambakan menulis di saat suasana yang tenang hingga sepi untuk sanggup memusatkan asumsi dan berkonsentrasi didalam menulis. Tentu saja untuk melacak bermacam inspirasi apa yang dapat dibahas, bahasa apa yang dapat digunakam dan kronologis seperti apa yang dapat dikisahkan.

Merenung dapat menunjang kami memusatkan asumsi terhadap satu tujuan. Tak jarang saat merenung terhitung bermunculan bermacam pikiran-pikiran lain yang menunjang timbulnya inspirasi dan tambah menunjang kami menjadi lebih kreatif didalam menulis.

2. Ikuti pelatihan atau coaching
Siapa bilang menulis tak butuh dilatih? Semua skill atau keterampilan memerlukan banyak latihan sehingga sanggup menjadi profesional. Berbagai pelatihan sanggup didapati saat kami turut komunitas atau organisasi menulis. Tak hanya saling sharing pengalaman, ilmu dan teknik menulis yang belum kami mengerti pun sanggup kami dapatkan.

Ya, bersama mengikuti pelatihan atau coaching, skill menulis dapat tambah berkembang. Pandangan kami tentang bermacam teknik yang sepanjang ini kami mengerti dan anggap sebagai yang paling baik dapat tambah beragam.

3. Mintalah feedback berasal dari orang lain
Kita tidak sanggup mengembangkan suatu keahlian hanya melalui pendapat kami sendiri. Peran orang lain dapat terlampau kami butuhkan didalam mengimbuhkan kami masukan atau panduan untuk mengembangkan apa yang telah kami miliki.

Misalnya saja, saat anda menulis sesuatu, mintalah orang lain untuk membacanya, tanyakan padanya apa yang membawa dampak postingan itu enteng dan enak dibaca, dan mana yang wajib diubah sehingga lebih nyaman saat dibaca. Tentu saja kami terlampau membutuhkannya. Karena apa yang kami tulis terhadap pada akhirnya untuk dibaca oleh orang lain.

4. Menulislah konten yang menurutmu sulit
Saat anda berlatih sesuatu, bukankah laksanakan tantangan dapat membantumu menaikkan skill yang anda miliki? Kamu boleh saja punya komitmen didalam menulis. Menggunakam skill yang sepanjang ini anda yakini sanggup mempunyai menuju kesuksesan. Tapi bukankah tersedia baiknya anda mencoba menantang dirimu sendiri.

Menulis konten yang susah dapat membuatmu berpikir lebih jauh. Berusaha untuk memecahkan setiap tantangan, demi menciptakan konten yang luar biasa. Gagal bukan suatu masalah, apalagi mungkin sekali saja anda wajib mengerti rasanya gagal seperti apa.

5. Adakan challenge untuk diri sendiri
Tantangan sanggup berkunjung berasal dari diri sendiri dan orang lain. Banyak yang sanggup anda laksanakan untuk menunjang menaikkan skill menulismu. Misalnya saja, saat anda meminta orang lain menyebutkan satu kata yang tengah mereka pikirkan. Dari kata itu anda dapat merangkainya menjadi lebih dari satu baris kalimat. Baik puisi maupun cerita fiksi bebas anda yang menentukan. https://www.ruangguru.co.id/

Jangan halangi dirimu. Selagi tidak melanggar norma dan aturan. Setiap tulisanmu layak untuk dipublikasi dan dibaca orang lain. Pada pada akhirnya anda dapat menemukan satu kepuasan tersendiri saat telah melalui tantangan yang diberikan orang lain.

Dasar Psikologis Proses Pembelajaran Pendidikan Islam

Perlu Anda tahu nih bahwasannya para ahli pendidikan muslim telah membedakan secara tegas antara pendidikan dan pengajaran. Pendidikan ini sendiri memiliki ruang lingkup yang cukup luas daripada pengajaran. Kami kutipkan dari pendapat Al-Ghazali bahwasannya pendidikan tak hanya terbatas kepada pengajaran saja, sih penanggung jawab juga berkewajiban untuk awasi sih kecil dari beberapa hal sekecil dan juga sedini mungkin. Dia jangan sampai menyeragkan anaknya ada di bawah tanggung jawabnya untuk diasuh dan juga disusui kecuali oleh wanita yang baik, agamis, dan juga hanya memakan sesuatu yang halal.

Dasar Psikologis Proses Pembelajaran Pendidikan Islam

Dasar Psikologis Proses Pembelajaran Pendidikan Islam

Tak hanya itu saja, Al-Ghazali menambahkan bahwasannya pendidikan itu sama halnya seperti pekerjaan seorang petani yang lagi menyiangi duri dan juga rerumputan supaya tanamannya dapat tumbuh serta berkembang dengan sangat baik. Keseriusan dalam menangani urusan anak menjadikan para ahli pendidikan kepada kesadaran bahwasannya aktifitas pendidikan ini dimulai sejak awal kehidupan.

Dasar psikologis proses pembelajaran pendidikan Islam

  • Al-idrak atau kognisi sebagai dasar paling utama dari sebuah pembelajaran. Yang mana para ahli pendidikan muslim ini tengah mengharuskan gurunya memberikan perlakukan yang berbeda-beda pada anak yang cerdas dan juga anak dengan kemampuan terbatas. Guru mengajarkan materi secara jelas dan sederhana supaya bisa dipahami sih anak yang berkemampuan terbatas tersebut, jangan sampai gurunya menyampaikan padanya materi yang cukup rumit dan juga kompleks, karena hal yang demikian ini bisa menyurutkan minat dan juga animonya untuk belajar.
  • Bahkan para ahli pendidikan Islam pun juga telah menegaskan bahwasannya usia yang paling tepat untuk pengajaran awal ini adalah 6 tahun. Yang mana apabila usia sih anak sudah mencapai 6 tahun, maka dia sudah harus dibawah pada guru untuk belajar yang lebih serius dan juga intensif lagi.
  • Pemahaman mengenai sebuah subjek didik. Pemahaman tersebut telah tercermin ke dalam : pertama pemahaman mengenai kejiwaan anak yang merupakan sebuah dasar pijakan \untuk keberhasilan pengajaran. Pemahaman yang seperti ini dimulai dengan memahami perihal diri anak lebih dulu memahami lingkungan social anak, khususnya lingkungan keluarganya dengan baik, sebab anak merupakan cerminan dari kondisi di keluarga. Kedua adalah pehamanan guru bahwasannya umumnya anak akan suka sekali bermain, sehingga diharusnya difasilitasi secara tepat.
  • Guru juga tak boleh secara blak-blakan atau terang-terangan bertindak pilih kasih pada peserta didiknya, sebab sih anak sudah mempunyai kepekaan pada tindakan diskriminatif atau pilih kasih yang diterimanya. Hal yang demikian ini bisa saja menimbulkan kebencian di kalangan peserta didik.

Demikianlah dasar psikilogis proses pembelajaran pendidikan Islam yang bisa kami informasikan. Semoga saja bisa bermanfaat ya. sumber : sekolahbahasainggris.com

LP3I Jakarta Kampus Pasar Minggu Gelar Turnamen Futsal

JAKARTA — Dalam rangka memperingati ulang tahun ke 20, Politeknik LP31 Jakarta Kampus Pasar Minggu menyelenggarakan ‘Futsal Tournament 2015’ antarpelajar Sekolah Menengah Kejuruan/SMU. Acara ini digelar pada hari ini (Sabtu,19/12) pada Jl RN Mh Kahfi 1, Gang Sulaiman Ciganjur Jakarta Selatan.

LP3I Jakarta Kampus Pasar Minggu Gelar Turnamen Futsal

LP3I Jakarta Kampus Pasar Minggu Gelar Turnamen Futsal

‘’Turnamen berhadia total Rp lima.000.000 juta dan trophy. Selain itu anggota tim pemenang akan menerima bea residu pendidikan apabila mereka nanti menikmati pendidikan pada LPI kampus Pasar Minggu,’’ kata Ketua Himpunan Mahasiswa (HIma) Politeknik LP3I Jakarta, Kampus Pasar Minggu, Nurjihad, Sabtu (19/12).

Nurjihad berkata turnamen futsal ini pula menjadi keliru satu acara kerja HIma. Tujuannya adalah buat lebih memperkenalkan LP3I kepada publik, khususnya generasi muda.

’’Turnamen kami gelar berdasarkan pagi sampai sore. Pesertanya mencapai 12 tim futsal,’’ ungkapnya.

Menurut Nurjihad ke depan perkembangan pendidikan politeknik sebagai sangat penting, terutama waktu telah memasuki era Masyaraat Ekonomi Asean (MEA). Pada masa ini maka ketrampilan sebagai hal yg wajib dikuasai sang generasi belia Indonesia ketika hendak bersaing menggunakan tenaga kerja menurut negara lain.

‘’Jadi pendidikan tak mampu lagi sekedar mengejar ijazah. Tetapi, wajib menciptkan manusia yangg trampil. Dan ini diukur melalui dominasi bidang yg diiwujudkan melalui tunjangan profesi. Nah, LP3I yang sudah bergerak selama 25 tahun sudah punya pengalaman panjang akan soal ini. Maka masyarakat perlu lebih tahu akan eksistensi kampus kami,’’ istilah Nurjihad.

Rencananya para pemenang turnamen, selain mendapatkan trophy dan beasiswa, mereka pula akan memperoleh sejumlah hadiah berupa uang pelatihan. Untuk kategori juara I akan menerima uang pembinaan sebanyak Rp 700 ribu,, kampiun II menerima Rp 600 ribu, & kampiun III menerima uang Rp 500 ribu.

Baca Juga :

Prospek Kerja Mahasiswa Jurusan Bahasa Dan Sastra Indonesia

Semakin lama memang semakin banyak orang yang menyudutkan tentang pendidikan jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Salah satu alasannya adalah karena kecilnya peluang kerja mahasiswa yang kuliah di jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Akhirnya banyak orang yang berusaha menghindari jurusan ini.

Prospek Kerja Mahasiswa Jurusan Bahasa Dan Sastra Indonesia

Prospek Kerja Mahasiswa Jurusan Bahasa Dan Sastra Indonesia

Lantas apakah memang benar prospek kerja mahasiswa jurusan bahasa dan sastra Indonesia ini cenderung kecil dan mahasiswanya terancam menjadi pengangguran? Anda coba saja pikirkan baik – baik sebelum ragu melangkah untuk mengambil jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Apa benar Indonesia menjerumuskan generasi penerus sendiri dengan membuka jurusan bahasa dan sastra Indonesia yang sempit lapangan kerja? Tentunya tidak bukan? Karena itu dimana saja jurusannya tentu akan ada prospek kerja yang mengikuti asalkan ada kesungguhan dalam belajar didalamnya. Mengenai prospek kerja jurusan bahasa dan sastra Indonesia, berikut kami akan berikan beberapa prospek kerjanya.

Prospek Kerja Mahasiswa Jurusan Bahasa Dan Sastra Indonesia

Tenaga pengajar

Anda yang memang berada pada lulusan bahasa dan sastra memang akan sangat identik dengan pekerjaan sebagai seorang tenaga pengajar. Anda dapat menjadi seorang guru atau juga menjadi seorang dosen. Tentu Anda tahu bahwa pada masing – masing instansi butuh dengan tenaga pengajar bahasa Indonesia yang penting untuk persiapan UNAS karena itu tenaga pengajar bahasa Indonesia memang dibutuhkan dengan jumlah tinggi di Indonesia.

Peneliti atau lembaga penelitian

Menjadi seorang peneliti memang tidak terlalu populer di Indonesia. Akan tetapi menjadi seorang peneliti di luar negeri sangat diandalkan dan dibutuhkan bagi negara. Tenaga peneliti sangat dibutuhkan. Anda dapat mencoba bergabung dengan lembaga penelitian, lembaga survey, dan juga bahkan Anda bisa bergabung dengan sebuah perusahaan dan turut menjadi bagian research development.

Penulis

Anda yang memang lulusan dari jurusan bahasa dan sastra Indonesia memang sangat cocok menjadi seorang penulis baik itu seorang penulis buku, novel atau bahkan karya lain. Anda juga dapat bekerja sebagai seorang editor pada perusahan percetakan atau di media tulis.

Jurnalistik

Tak hanya sastra Sunda saja yang berpotensi menjadi seorang jurnalis karena sastra Indonesia juga berpotensi menjadi seorang jurnalis baik di televisi, radio atau yang lainnya. Melamar menjadi pembawa berita di radio atau televisi juga akan sangat cocok bagi Anda.

Instansi pemerintahan

Anda dapat bekerja di berbagai macam instansi baik itu instansi swasta atau juga instansi pegawai negeri. Instansi pemerintah yang paling relevan bagi Anda yang notabennya lulusan mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia adalah kementrian dalam negeri atau  luar negeri.

Demikian sedikit informasi yang kami dapat berikan untuk Anda tentang Prospek Kerja Mahasiswa Jurusan Bahasa Dan Sastra Indonesia. Semoga informasi diatas menjadi informasi yang bermanfaat. sumber : dosenpendidikan.com

 

Mendidik Anak Agar Jadi Baik, Cerdas, dan Religius

Mempunyai anak baik dalam bersikap, patuh, dan juga cerdas seperti ini tentu jadi impian bagi semua orangtua, tak terkecuali bagi Anda sendiri kan bund? Maka dari itulah, untuk mempunyai anak dengan criteria tersebut adalah sepenuhnya jadi tanggung jawab orangtua di dalam mendidik anaknya sedini mungkin. Lantas, bagaimana sih cara mendidik anak yang benar tersebut? Secara teori hal yang demikian tersebut memang tampak sangat mudah, akan tetapi dalam penerapannya tak semua orangtua berhasil melakukannya.

Mendidik Anak Agar Jadi Baik

Mendidik Anak Agar Jadi Baik

Kesalahan yang biasanya dilakukan oleh para orangtua dalam mendidik anaknya adalah merasa merasa sudah cukup hanya memasukkan anaknya ke sekolah. Toh, nanti anaknya juga akan diajari di sekolahnya berbagai hal. Nah, pada posisi yang seperti ini, maka kemungkinkan gagal dalam mendidik anak sudah di depan mata. Sudah semestinya jadi tanggung jawab sebagai orangtua di dalam mencetak anak yang berkualitas tak bisa sampai di situ saja ya bund. Berikut ini adalah cara mendidik anak supaya jadi baik, cerdas, dan juga religius yang bisa Anda.

Cara mendidik anak agar jadi baik, cerdas, dan religius

Mengajarkan kemandirian dan tanggung jawab

Biasanya orangtua mempunyai rasa khawatir yang cukup berlebih ya pada anaknya. Maka jangan lagi lakukan hal yang terlalu berlebih dalam mengkhawatirkan anak dan iver protektif ya bund. Belajarlah untuk bisa percaya pada anak Anda, tetapi denga tetap menantau dari jauh tanpa harus pengekangan atau melindungi kesalahan yang dilakukan. Ajarkan pada anak Anda untuk mengetahui benda-benda yang dimiliki dan merapikannya setelah selesai digunakan. Saat sudah masuk sekolah, Anda bisa mengajarkan kepada mereka untuk bisa mempersiapkan keperluannya, berikan uang saku dengan diarahkan untuk bisa disishkan sebagai tabungan.

Mengajarkan menumbuhkan rasa ingin tahu anak

Di usia anak yag masih balita tentu mereka mempunyai rasa ingin tahu yang cukup tinggi. Pada saat melihat benda atau pun sesuatu yang masih belum dilihat dan juga dipahami, maka umumnya mereka akan bertanya. Sebagai orangtua tentu Anda harus bisa menjawab dengan memberikan penjelasan yang mudah dipahami anak, berusahalah untuk bisa menjelaskan selogis mungkin, dan hindari berbohong.

Mengajarkan menumbuhkan kemampuan dalam berpendapat

Biasanya orangtua acuh pada pendapat anak, mereka terlalu anggap ini tak penting. Padahal apda saat pendapat anak tak diperdulikan maka hal tersebut bisa berdampak menjadikan sih anak minder, dan tak berani berpendapat. Sebagai orangtua, ada baiknya Anda belajar mendengarkan pendapat anak, bila memang pendapatnya tak benar maka Anda bisa mengarahkan kepada yang benar.

Demikianlah informasi tentang mendidik anak agar jadi baik, cerdas, dan religius. Semoga saja informasinya bermanfaat. sumber : www.gurupendidikan.co.id/contoh-surat-kuasa/