Dies Natalis ke-54, Unnes Beri Penghargaan kepada Tiga Tokoh Nasional

Dies Natalis ke-54, Unnes Beri Penghargaan kepada Tiga Tokoh Nasional

Dies Natalis ke-54, Unnes Beri Penghargaan kepada Tiga Tokoh Nasional

Dies Natalis ke-54, Unnes Beri Penghargaan kepada Tiga Tokoh Nasional

Dies Natalis ke-54, Unnes Beri Penghargaan kepada Tiga Tokoh Nasional

Universitas Negeri Semarang (Unnes) memberikan anugerah kepada tiga tokoh nasional, dalam Dies Natalis ke-54 perguruan tinggi tersebut.

Ketiga tokoh nasional itu adalah Mensesneg Pratikno, desainer Anne Avantie, serta pemilik Sido Muncul Irwan Hidayat. Dari ketiga tokoh, Pratikno berhalangan hadir.

Penghargaan diberikan dalam upacara dies natalis bertajuk “Mendunia untuk Indonesia”, di Auditorium Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, Sabtu (30/4/2019).

Rektor Unnes Fathur Rohman mengatakan, ketiga tokoh mendapatkan penghargaan atas kiprah di bidang tugas dan pengabdian masing-masing.

Mensesneg Pratikno meraih Upakarti Reksa Bhumimandala, Anne Avantie mendapatkan

penghargaan Upakarti Kanyaka Paramartha Adisajjana. Sedangkan Irwan Hidayat memperoleh penghargaan Upakarti Reksa Bhumimandala.

Menurut Fathur, Pratikno dinilai memiliki ide menghadapi era disrupsi. Di antaranya digitalisasi dan debirokratisasi kementerian.

Sementara, Anne Avantie merupakan perempuan yang sudah berkarya dalam dunia rancangan busana.

Lewat Wisma Kasih Bunda yang didirikannya, Anne menunjukkan kepedulian besar terhadap anak-anak penyandang hydrocephalus sejak 2003.

“Anne juga memberdayakan ratusan perempuan untuk bekerja di wismanya itu hingga detik

ini,” ujarnya.

Sedangkan pengusaha Irwan Hidayat memiliki inovasi besar dalam memajukan usahanya.

Direktur Sido Muncul itu dinilai selalu memegang teguh tradisi lokal dalam menjalankan bisnisnya, namun produknya menembus pasar internasional.

“Ketiga tokoh ini tak hanya menunjukkan dedikasi tinggi terhadap profesinya. Tapi berkontribusi dan menginspirasi banyak orang,” ujar Fathur.

Irwan Hidayat mengaku bersyukur mendapat penghargaan ini. Dia mengaku, 20 tahun

pertama, produknya tak laku di pasaran. Dia kemudian mengubah strategi pemasaran, dengan bagaimana merebut simpati dan kepercayaan masyarakat.

“Tahun 1997, saat kami bangun pabrik di Bergas, tepat saat krisis moneter. Tapi saya punya visi, bahwa di masa depan produk kami dapat dikenal dan dipercaya konsumen, asalkan diproduksi dengan baik dan benar,” tegasnya.

 

Baca Juga :