Proses Reproduksi Budaya

Proses Reproduksi Budaya

Table of Contents

Proses Reproduksi Budaya

Proses Reproduksi Budaya

Proses Reproduksi Budaya

Di dunia ini tidak ada yang berhenti, semuanya berjalan, dan mengalami proses kebudayaan, termasuk masalah kebudayaan. Proses reproduksi kebudayaan merupakan proses aktif yang menegaskan keberadaannya dalam kehidupan sosial sehingga mengharuskan adanya adapatasi bagi kelompok yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda. Proses semacam ini merupakan proses sosial budaya yang penting karena menyangkut dua hal. Pertama, tataran sosial akan terlihat proses dominasi dan subordinasi budaya terjadi secara dinamis yang memungkinkan kita menjelaskan dinamika kebudayaan secara mendalam. Kedua, pada tataran individual akan dapat diamati proses resistensi di dalam reproduksi identitas kultural sekelompok orang di dalam konteks sosial budaya tertentu. Proses adaptasi ini berkaitan dengan dua aspek: ekspresi kebudayaan dan pemberian makna tindakan-tindakan individual.

Secara umum mobilitas berbagai kelompok masyarakat telah menjadi fenomena yang sangat umum. Hal ini mengandung pengertian bahwa lingkungan sosial budaya setiap orang dapat berubah-ubah yang sangat tergantung pada perilaku mobilitas seseorang atau sekelompok orang.  Mobilitas dengan demikian telah mendorong proses rekonstruksi identitas sekelompok orang. Sejalan dengan hal ini ada dua proses yang dapat terjadi, seperti tampak dalam pandangan para ahli. Pertama, terjadi adaptasi kultural para pendatang dengan kebudayaan tempat ia bermukim, yang menyangkut adaptasi nilai dan praktik kehidupan secara umum. Kebudayaan lokal dalam hal ini telah menjadi kekuatan baru yang memperkenalkan nilai-nilainya kepada pendatang, meskipun ia tidak sepenuhnya memiliki daya paksa. Namun demikian, proses reproduksi kebudayaan lokal, tempat setiap kebudayaan melakukan penegasan keberadaannya sebagai pusat orientasi nilai suatu masyarakat, tentu saja mempengaruhi mode ekspresi diri setiap orang (Appadurai, 1994; Hill dan Turpin, 1995).

Kedua, terjadi proses pembentukan identitas individual yang dapat saja mengacu kepada nilai-nilai kebudayaan asalnya. Bahkan dalam konteks ini seseorang dapat saja ikut memproduksi  kebudayaan asalnya di tempat yang baru (Foster, 19873; Kemp, 1988; Abdullah, 1996; Strathern, 1995). Kebudayaan dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai apa yang dikatakan Ben Anderson sebagai imagined values, yang berfungsi dalam fikiran setipa orang yang menjadi pendukung dan yang mempertahankan kebudayaan itu meskipun seseorang berada di luar lingkungan kebudayaannya.

Teori konfigurasi budaya merupakan landasan yang cukup penting dalam menjelaskan perubahan-perubahan adaptasi adaptasi suatu etnis (Appadurai, 1994; Strathern,1995). Dalam hubungannya dengan proses migrasi, teori ini melihat bahwa ada tiga proses sosial yang dapat terjadi. Pertama, terjadi pengelompokan baru dengan orang-orang yang berbeda. Pengelompokan ini merupakan proses penting dalam hubungannya dengan proses adaptasi pendatang, yang ini berarti pembentukan hubungan-hubungan sosial baru. Kedua, terjadi redefinisi sejarah kehidupan seseorang karena ada fase kehidupan baru yang terbentuk. Fase ini dapat memiliki arti yang sangat berbeda bagi seseorang karena setting sosial yang berbeda dengan seting dimana mereka menjadi bagian sebelumnya. Ketiga, terjadi proses pemberian makna baru bagi diri seseorang, yang menyebabkan ia mendefinisikan kembali identitas kultural dirinya dan asal usulnya.

Sumber : https://uptodown.co.id/